Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

ILUS - BAB 7

4.5K 386 24
                                        

Pagi ini aku datang ke kamarnya menawarkan kopi seperti pagi-pagi biasanya, meski sejujurnya baru beberapa jam yang lalu aku keluar dari kamar ini tanpa sepengetahuannya. Dia tampak sedang berpakaian seperti hari-hari biasanya, seolah tidak ada yang terjadi diantara kami semalam. Em . . . maksudku kejadian terakhir dimana dia terlihat jengkel padaku karena aku memaksa keluar.

“Kopi anda Sir.”

“Letakan di meja.” Katanya dingin dan aku tidak berkata apapun. Aku hanya meletakkan kopi itu dan berniat keluar dari kamarnya sampai dia memanggilku.

“Samantha.” Katanya dan aku menghentikan langkahku.

“Ya Sir.”

“Jangan lupakan tugasmu.” Katanya dan aku tahu yang dia maksud adalah dasi. Aku berjalan menuju laci tempat menyimpan koleksi dasinya dan memilih dasi berwarna hitam untuk kemeja hitam yang dia kenakan.

Dia menatapku saat aku mengalungkan ujung dasi di kerah kemejanya, aku berusaha mengabaikannya dan terus mengikat.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya di sela aku mengikat dasi untuknya dan aku menatapnya.

“Jauh lebih baik.”

“Jika kau masih merasa tidak enak badan sebaiknya kau tidak bekerja hari ini.”

“Tidak Sir. Aku baik-baik saja.” Aku melanjutkan mengikat dasi.

“Kita akan bertemu dengan Louisa lagi beberapa hari kedepan.”

Aku terkejut mendengar kalimat itu, wanita itu memang professional di bidangnya. Tapi aku tidak ingin dia tahu lebih banyak tentang diriku, entah mengapa aku merasa dia bukan orang yang tepat untuk mengatasi masalahku.

“Apa aku boleh bicara tentang itu?”

“Katakan.”

“Mr. Sean Dexter, terimakasih sudah sangat baik padaku. Tapi sejujurnya aku tidak membutuhkan penanganan semacam itu.” Aku mengatakannya dengan sangat hati-hati, aku tidak ingin melukai perasaannya, dia adalah orang paling baik yang ku temui di dunia ini, em . . . diantara orang-orang baik lainnya yang peduli padaku.

“Kau membutuhkannya, itu masalah kejiwaan.”

“Aku tahu diriku dan sejauh mana kemampuanku menangani masalahku itu. Jadi kumohon, . . .” Aku menatapnya dengan wajah memohon.

“Aku hanya berpikir jika ada pria yang mendekatimu dan kondisimu seperti itu, itu akan sangat mengganggunya.”

Aku tersenyum getir. “Anda tidak perlu menghawatirkan hal itu, tidak ada pria yang mendekatiku atau bahkan berniat mendekatiku kurasa.” Aku segera tertunduk karena tatapannya kurasa semakin tajam padaku, ada sejuta rasa iba untukku meski aku merasa aku tidak ingin di kasihani untuk kasus ini.

“Hari ini aku buru-buru. Kita akan membicarakan ini nanti setelah aku pulang.” Katanya mengalihkan pandangan dan aku meminta diri untuk keluar dari kamarnya.

“Saya permisi.” Aku mempercepat langkahku keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Entah kabar apa yang kuterima pagi ini, Granny meminta Merry dan Sarah untuk tinggal di rumahnya selama seminggu kedepan. Aku hanya akan ada di rumah besar ini bersama koki.

Pekerjaan akan menjadi semakin berat karena rumah  sebesar ini harus kubersihkan sendiri, meski begitu aku bersyukur karena aku punya banyak waktu untuk bekerja dan tidak memikirkan apa yang Mr. Dexter katakana juga yang dia inginkan termasuk tatapan dan rasa ibanya padaku.

Aku sedang membersihkan perabotan di lantai satu, di sebuah ruang tamu besar saat dia melintas.

“Bersihkan kamarku, ganti semua kecuali selimutnya.” Katanya dan aku tertegun, mengapa dia tidak ingin mengganti selimutnya.

I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco PublisherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang