Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

ILUS - BAB 15

3.8K 301 37
                                        

“Aku tidak pernah berpikir aku akan berakhir dalam pelukanmu seperti ini.” Kata Sean dan Sam terdiam berusaha menemukan kegelisahannya yang selama ini sering muncul hanya karena mendengar  suara-suara, melihat orang lain atau bahkan melihat gambar. Tapi dengan Sean, setelah bertemu Granny, malam ini semua keluhan itu lenyap begitu saja. Yang tersisa hanyalah kedamaian.

“Aku tidak tahu harus bilang apa.” Kata Sam. “Bertemu denganmu seperti keajaiban yang kunanti-nantikan datang dalam kehidupanku selama ini.” Katanya, Sean menundukkan kepalanya dan Sam menengadah, mereka saling menatap dalam kesunyian malam itu.

“Maaf . . .” Kata Sean.

“Untuk apa?” Tanya Sam.

“Andai aku tahu kau adalah takdirku, aku akan datang lebih cepat, atau setidaknya aku akan mencarimu di belahan bumi manapun.”

Sam tersenyum. “Percayalah, jika aku tahu aku akan berakhir denganmu, aku akan mensyukuri semua kesialan yang sempat terjadi dalam hidupku demi menemukanmu.”

“Aku justru ingin tahu banyak tentangmu.” Sam mengusap dada Sean yang tertutup kemeja putih yang ia kenakan.

“Apa? Tidak ada yang istimewa dalam kehidupanku.” Kata Sean.

“Aku tetap ingin tahu.” Sam mendongak lagi dan Sean menghela nafas dalam, tangannya mengusap kepala Sam.

“Aku tidak ingin membagi hal buruk yang pernah kualami denganmu, bagiku semua sudah berakhir. Aku akan memulai hidupku dengan banyak keberuntungan denganmu.” Kata Sean.

Sam terdiam beberapa saat sebelum mulai bicara lagi. “Kita baru saling mengenal, bagaimana kau yakin aku akan fit  denganmu?”

“Entahlah, aku hanya merasa aku tidak ingin kehilanganmu dan aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.” Sean mengusap lengan Sam yang melilit perutnya.

“Aku menderita setiap kali aku marah padamu, dan kau tahu saat kau membohongiku dan menemui pria  berbadan besar dan berkulit hitam itu . . .”

“Jhon . . . namanya Jhon.” Sam mengingatkan.

“Ya . . . siapapun itu, aku tidak suka. Aku menjadi marah pada diriku sendiri, aku marah padamu, aku . . . .” Sean menjeda kalimatnya. “Aku tidak suka ada orang lain yang lebih dekat dengamu daripada aku.”

“Aku dekat dengan Jhon, lebih dari saudara. Dia selalu ada dalam banyak kesulitan yang aku alami.”

“Dan mulai sekarang, aku akan jadi orang itu. Aku akan jadi orang yang selalu ada dalam setiap kesulitanmu, atau . . . aku bahkan akan jadi orang yang tidak akan pernah membiarkanmu dalam kesulitan.”

“Aku berharap begitu.” Kata Sam.

“Kenapa?” Sean beringsut membuat posisi mereka saling berhadapan.

“Apa kita akan terus seperti ini?” Tanya Sam polos.

“Apa kau meragukanku?” Pangkal alis Sean mengkerut.

“Kita bagaikan bumi dan langit.”

“Lalu apa masalahnya jika aku bisa jadi langit yang membumi?”

“Kau sangat manis, dan sangat pandai berkata-kata.” Sam mengusap wajah Sean.

“Serahkan dirimu seutuhnya padaku dan akan kuberikan dunia untukmu.”

“Aku hanya berharap kita akan jatuh tertidur dan ketika bangun perasaanmu padaku masih sama.” Kata Sam.

“Aku akan membuktikannya padamu, bukan hanya untuk malam, bahkan setiap malam sepanjang sisa hidupku.” Sean meyakinkan Sam.

I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco PublisherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang