Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

ILUS - BAB 5

5.3K 362 7
                                        

Semua orang tampak meninggalkan rumah sangat pagi, setelah mereka sarapan.

"Maaf sayang, kau masih belum bisa bergabung bersama kami." Kata Merry.

"Tidak masalah." Senyumku. "Selamat bersenang-senang." Kataku sebelum akhirnya kami berpelukan dan berpisah. Mereka pergi dengan satu mobil besar milik Mr. Dexter dengan Pablo yang menyetir. Kurasa Mr. Dexter akan benar-benar hibernasi hari ini.

Tok Tok

Aku mengetuk pintu kamarnya dua kali dan tidak ada jawaban. Sejenak aku berpikir, apakah aku harus masuk? Aku lupa menanyakan pada semua orang tentang kebiasannya jika hari minggu tiba. Apakah dia akan bangun sepagi biasanya atau tidak?

"Oh . . . " Aku mendengus frustasi, dirumah ini bahkan tidak ada seorangpun yang bisa kutanyai.

Akhirnya perlahan kutarik handle pintunya dan aku mengintip kedalam. Dia masih tampak tertidur di ranjangnya. Sejenak aku mempertimbangkan dan akhirnya dengan sangat pelan, tanpa suara aku masuk dan meletakkan kopinya meja kecil yang berada di sisi ranjangnya lalu berbalik.

"Siapa yang mengijinkanmu masuk ke kamarku?" Suara itu membuat langkahku terhenti seketika, aku mengigit bibirku dan berbalik. Saat kulihat dia sudah membuka matanya dan sedang menatapku dengan rambut sedikit berantakan.

"Em . . . kopi. Saya hanya mengantar kopi." Kataku panik, habislah aku sekarang.

"Kemari." Katanya dan aku dengan langkah ragu berjalan menuju ke arahnya.

"Ada yang bisa ku bantu Sir." Kataku dengan kedua tanganku saling berpegangan erat, tanda kecemasanku semakin memuncak.

"Duduklah." Katanya sambil menepuk sisi ranjangnya dan aku melongo dibuatnya. Dia memintaku duduk di ranjangnya? Dia menepuk ranjangnya sekali lagi dan aku duduk dengan ragu-ragu, menghadap ke arahnya, rasanya bokongku bahkan ikut gemetaran berada sangat dekat dengannya dalam keadaan seperti ini, tidak ada manusia lain selain koki di dapur yang letaknya sangat jauh. Oh Tuhan, jika pria ini macam-macam padaku, habislah aku.

Mr. Dexter beringsut, setengah terduduk dan menarik selimutnya menutupi dirinya sebatas perut.

"Katakan padaku apa yang kau lakukan semalam." Katanya dan aku terkejut dengan pertanyaan itu.

"Em . . . saya tidur." Jawabku singkat.

"Kau tidur di taman?"

Aku terkesiap, bagaimana dia tahu bahwa semalam aku pergi ke taman belakang?

"Em . . . tidak. Aku hanya menghirup udara segar."

"Kau merindukan kekasihmu?" Tanyanya dan aku semakin terkesiap. Kekasih yang mana? Aku bahkan tak memiliki siapapun.

"Kekasih?" Tanyaku pelan, tidak yakin.

"Jhony Greek."

Alisku bertaut, bagaimana dia tahu nama lengkap Jhon?

"Anda mengenalnya?"

"Kau bekerja padaku, jadi aku harus tahu tentang dirimu termasuk orang-orang yang dekat padamu. Semacam pengenalan menyeluruh. Dan sayangnya kau tidak punya cukup banyak teman dekat. Hanya Jhon Greek kekasihmu dan Guineth Arabelle, gadis berkebangsaan Inggris itu.

"Kau dibesarkan di pantiasuhan setelah ibumu meninggal karena penyakit saat usiamu 16 tahun."

Aku termangu, dia tahu begitu banyak tentangku, apa pentingnya tahu semua itu? Atau semua orang kaya akan memikirkan keamanan dan keselamatan mereka dengan cara yang seperti ini? Mereka mencurigai dan mencari tahu banyak hal tentang orang-orang yang bekerja pada mereka?

"Anda sudah tahu semuanya, kecuali soal Jhon. Kami hanya berteman."

"Temui aku di ruang kerjaku satu jam dari sekarang." Katanya. Aku segera menghela hafas lega setelah meninggalkan ruangan itu.

I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco PublisherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang