Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

ILUS - BAB 6

5.1K 357 7
                                        

Pagi ini aku bekerja seperti biasa, pagi aku mengantar kopi ke ruangan Mr. Dexter. Dia tampak berada di dalam kamarnya, sudah berpakaian rapi meski aku tidak datang terlambat.

“Kopi anda.” Kataku sambil meletakannya di meja tanpa dia minta.

“Ambil satu dasi untukku.” Katanya dan aku mengangguk, kali ini aku memilih dasi dengan warna lebih terang, meski warnanya masih sama, abu-abu.

“Pasangkan untukku.” Dan tanpa bicara aku mulai mengikat dasi untuknya.

“Aku akan pulang lebih awal hari ini, kita akan pergi ke psikiater.” Katanya dan aku terkejut, spontan menghentikan aktifitasku.

“Jangan menolak perintah, aku paling tidak suka ditolak.”

Aku menelan ludah, pria ini terlihat sangat bossy  hari ini, tapi aku tidak menjawab apapun. Aku masih belajar menerima perhatian yang menurutku tidak layak kuterima dari orang sepertinya.

“Sudah.” Kataku sambil menatapnya.”Saya permisi.”

“Samantha.” Katanya menyebut namaku.

“Ya Sir.”

“Apa kau masih ketakutan berada di sekitarku?” Tanyanya.

“Dalam situasi seperti ini tentu saja tidak, anda adalah majikan saya.” Kataku sopan.

“Aku ingin kau sembuh dan memulai petualanganmu.” Katanya sambil berjalan mendekat. “Sudah terlalu lama kau menganggap dirimu itik, sudah waktunya kau menyadari bahwa seekor angsa haruslah menjadi seekor angsa, bukan itik.”

Aku tersenyum menatapnya. “Saya tidak akan berani menolak perintah anda Sir. Tapi jika anda ingin mendengarkannya, saya ingin mengatakan bahwa saya sudah terbiasa dengan semua itu. Dan anda tidak perlu mencemaskan saya.” Kataku.

“Aku tidak ingin beradu argument karena itu sudah menjadi keputusanku, temui aku setelah aku pulang kantor hari ini, segera.”

“Baik Sir.”

***

Itu terakhir kali aku bertemu dengannya sebelum dia pergi ke kantornya. Setelah dari ruangannya aku bergegas menyelesaikan tugas-tugasku termasuk membereskan kamarnya, karena dia memintaku melakukannya dan aku sudah meminta ijin pada Sarh untuk itu.

Aku mengganti sprei abu-abunya dengan warna putih agar kamar itu terlihat lebih cerah. Aku juga mengganti gordennya dengan warna cream. Meletakkan bunga segar dalam vas besar di sudut ruangan dekat sofa. Setidaknya aku melakukan semua itu sudah atas ijinnya.

“Apa saya boleh mengganti warna gorden dan spreinya?”

“Lakukan sesuka hatimu.” Katanya sebelum pergi dari kamarnya.

Ternyata melakukan semuanya itu, memakan waktu hampir sepanjang hari meski aku dibantu oleh Merry. Dan aku baru selesai menjelang sore hari, saat aku keluar dari kamar Mr. Dexter,  Granny memanggilku ke kamarnya.

“Kemarilah nak.” Katanya membuka tangannya.

“Aku ingin memelukmu.” Kata Granny.
Dadaku mendadak sesak dan hidungku memanas, air mataku menggenang ketika wanita tua itu memelukku hangat, seolah aku bagian dari keluarga ini yang layak mendapakan perhatian sebesar itu, padahal kenyataannya aku hanyalah seorang pelayan di sini.

“Kau akan baik-baik saja di sini.” Kata Granny.

“Terimakasih.” Aku mengusap ujung-ujung mataku dengan telunjuk. “Maaf Granny, aku sedikit emosional.”

“Kau sudah melewati hari-hari buruk yang panjang dalam hidupmu, aku bisa memahami itu.” Katanya.

“Sean mengatakan semuanya.”

I Love You Sam #Googleplaybook #JE Bosco PublisherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang