Risalah Hati - Dewa 19
"Lo mau ngapain sih?"
Anneth memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Ia sudah mengambil ancang-ancang barangkali Deven ingin melukai 'nya ataupun melakukan sesuatu yang tidak pantas.
"Takut amat, mbak. Santuy aja gua enggak makan orang, kok."
Bisikan itu membuat bulu kudu Anneth serentak berdiri. Sejak kapan wajah Deven berada di telinganya?
Bug
Anneth tidak segan-segan melayangkan pukulan keras ke arah perut Deven. Bisa-bisanya lelaki itu membuatnya tidak bernapas selama beberapa detik.
"Kampret!" Anneth mengumpat.
"Lo pikir gua mau nyium lo kayak di drama-drama gitu? Jangan ngarep." Deven berucap enteng sambil terkekeh.
Anneth melotot."Heh! Asal lo tau ya, mending gua nyium aspal daripada di cium sama lo," kesal Anneth.
"Yakin nih? Ntar kalo kita udah sah, lo yakin enggak mau? Bukannya itu udah semestinya di lakukan?" tanya Deven sambil menaik-turunkan alisnya.
"Enak aja! Lo inget baik-baik ya, Tuhan tahu siapa yang terbaik buat gua untuk kedepannya. Jadi, mustahil gua jodohnya sama cowok model kayak elo. Amit-amit!" Anneth mencerca sekenanya.
"Oke gua pegang omongan lo. Gua pasrahkan semuanya kepada takdir. Sekarang lo masuk gih, kalo kita terus-terusan debat kayak gini kapan lo bisa ngambil hadiah lo?"
"Gua enggak yakin gua bisa pulang dengan selamat setelah gua tau seberapa kotor 'nya otak lo."
Lagi-lagi Deven tertawa."Hei! Jangan berpikiran kalau gua nggak punya rasa hormat terhadap cewek. Gua enggak mungkin menyakiti ibu dari calon anak-anak gua. Ayo cepat masuk."
Anneth hanya memutar bola matanya ke arah lain. Mungkin bagi gadis lain, perkataan yang Deven ucapkan adalah sebuah kata-kata yang manis nan romantis. Tapi baginya itu sangat menjijikkan.
"Gimana gua mau masuk? Pintunya aja di tutup," kata Anneth yang menghentikan langkahnya di depan pintu.
"Ya di buka lah, pinter!" Deven merasa geram.
Ternyata pintu itu tidak di kunci. Nyaris saja Anneth merasa malu sendiri jika ia tetap mencak-mencak tidak jelas kepada Deven.
"Ini maksudnya apa?" tanya Anneth begitu pintu itu terbuka sempurna. Kedua mata indahnya mengamati seisi ruangan bernuansa putih itu.
"Gua pengin lo lebih mendalami hobi lo serta lebih mengasah kemampuan lo."
"Jadi, maksud lo gua harus les vokal disini?" tanya Anneth.
"Bukan gitu, Anneth." Deven tertawa kecil."Setelah gua mendengar suara nyanyian lo tempo hari, gua merasa suara itu udah memasuki standar kualitas internasional. Gua yakin lo pasti memiliki keinginan untuk menunjukkan kemampuan yang lebih dari itu. Tapi gua melihat ada suatu keraguan yang kentara dari raut wajah bahkan tatapan mata lo. Lo kenapa?"
Anneth hanya merunduk lemah setelah mengambil posisi duduk di sebuah sofa panjang berwarna biru.
"Masalah yang gua alami enggak semestinya orang lain ketahui. Cukup gua yang mencari jalan keluarnya sendiri," kata Anneth.
Deven 'pun ikut mengambil posisi duduk."Sejauh pengamatan gua, di satu sisi lo terlihat kuat bahkan jarang banget menunjukkan bahwa lo itu memiliki beban besar. Tapi di sisi lain lo terlihat lemah, Neth. Lo sama sekali enggak punya keberanian untuk memenuhi keinginan lo sendiri. Terkadang kita perlu meninggikan sedikit aja ego kita demi diri kita sendiri. Jangan selalu mengalah karena situasi."
KAMU SEDANG MEMBACA
THE DEEPEST
Teen FictionPernah merasa terganggu karena kedatangan seseorang? Yang membuatmu tidak bisa hidup damai seperti sebelumnya. Seperti yang di rasakan oleh gadis yang satu ini. Anneth Elvarette. Si pendiam dan tertutup. Namun siapa sangka ternyata cowok yang di cap...
