Author kembali gaes wkwk. Happy reading♡
"Lima."
Sudah sebanyak lima kali putaran Deven berlari mengelilingi lapangan utama. Panas yang begitu terik membuat peluh mengalir di dahi bahkan sampai ke pipinya. Napasnya sedikit tersenggal-senggal sehabis membuang tenanganya untuk berlari-larian sejak tadi.
Dengan langkah lunglai, ia segera mengambil posisi menghadap ke tiang bendera dan mengangkat tangan kanannya hingga jari-jarinya tepat berada di pelipis kanannya. Panas matahari begitu menyengat di kulitnya. Jujur, ia merasa lelah tetapi ini semua murni akibat perbuatannya. Jadi, ia juga harus siap menanggung konsekuensinya.
Deven bukanlah siswa yang nakal. Ia memang cukup di kenal oleh siswa-siswi lainnya, namun bukan karena kenakalan tetapi karena prestasinya. Siapa sih yang tak kenal anggota Dewilden di sekolahnya?
Hukuman ini bisa di bilang hukuman pertama yang Deven terima di sekolah ini. Mungkin setelah ini akan menjadi perbincangan hangat para siswa-siswi di sekolah itu. Pasalnya, sejak Deven pertama menapakkan kaki di sekolah ini ia belum pernah sekalipun mendapatkan hukuman seperti ini. Deven anti sekali dengan masalah. Sebisa mungkin ia akan menghindari masalah, demi menjaga nama baiknya serta nama baik keluarga nya.
Tapi untuk saat ini?
"Kalo bukan karena lo, gua nggak bakal sebegininya, Neth." Deven berbicara dengan dirinya sendiri, membayangkan bahwa tiang bendera di depannya itu adalah Anneth.
"Gua begini karena gua sayang."
"Gua nggak pernah main-main."
Kemudian Deven menghela napasnya. Satu tangannya bergerak menyeka peluh yang hampir menetes dari rahangnya. Deven menjalankan hukumannya dengan penuh ke ikhlasan. Tidak sedikitpun berpikir untuk lari dari hukuman seperti murid-murid lainnya. Baginya, lari dari masalah bukanlah penyelesaian tetapi justru membawa ke keadaan yang semakin rumit.
"Cepet-cepet ngebales perasaan gua ya, Neth."
***
Akhirnya bel istirahat telah menggema di seluruh penjuru sekolah. Sesegera mungkin Deven menepi ke pinggir lapangan. Dalam keadaan wajah yang penuh dengan peluh serta kemeja yang sedikit basah, ia berjalan tertatih-tatih. Lelaki itu duduk di atas kursi kayu yang cukup panjang. Ketiga kancing kemeja atasnya ia buka hingga menampilkan kaos hitamnya. Ia merasa sangat gerah dengan keadaannya sekarang. Ia mengipasi dirinya sendiri menggunakan tangan sembari memandangi siswa-siswi yang tengah berlarian keluar kelas.
"Capek juga ya," cetusnya."Ternyata begini rasanya di hukum."
Kedua tangannya mulai bergerak menyugar rambutnya. Sepertinya rambutnya ikut basah karena peluh nya. Dahinya juga ikut ia usap untuk mengurangi tetesan-tetesan peluh yang akan mengalir ke bawah.
Namun tiba-tiba aktivitasnya terhenti ketika melihat sebuah tangan yang menggenggam sebotol air mineral mengulur di depan wajahnya. Matanya mengikuti arah tangan tersebut. Deven sedikit terkejut saat melihat figur Anneth yang memberikan minuman itu. Senyuman tipis mulai ia kembangkan sesaat setelah sejenak menatap wajah Anneth yang tertutup oleh masker.
"Mau nggak?" tanya Anneth sedikit mendesak.
"Mau dong," jawab Deven sumringah. Tangan kanannya menerima botol yang di berikan Anneth.
Setelah pemberiannya di terima oleh Deven, Anneth segera mengambil posisi duduk di sebelah Deven. Keduanya sama sama menghadap ke lapangan. Anneth diam. Sementara Deven, ia masih menuntaskan dahaganya.
Merasa tenggorokannya sudah puas dengan air mineralnya, Deven kemudian menumpahkan sisa airnya itu ke rambutnya. Matanya terpejam sambil menikmati guyuran air mineral di kepalanya. Jari-jarinya mengacak-acak rambut yang sudah basah. Bulir-bulir air mulai menetes dari rambutnya ke pundaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE DEEPEST
Ficção AdolescentePernah merasa terganggu karena kedatangan seseorang? Yang membuatmu tidak bisa hidup damai seperti sebelumnya. Seperti yang di rasakan oleh gadis yang satu ini. Anneth Elvarette. Si pendiam dan tertutup. Namun siapa sangka ternyata cowok yang di cap...
