All The Kids Are Depressed - Jeremy Zucker
Anneth mematung di tempat setelah menyadari ada Derlin di sana. Tatapan Derlin sudah menjawab semuanya. Orang tua perempuan Anneth pasti akan marah besar.
"Dari mana kamu?" tanya Derlin dengan nada tidak suka.
"An ... An.. Anneth—" Ucapan Anneth terpotong begitu saja.
"Jawab jujur!" sentak Derlin.
Tubuh Anneth tersentak kecil begitu mendengar bentakan dari Derlin. Ia menelan ludahnya susah payah. Kemudian memilin bibir nya.
"Anneth dari kafe Melodi, tapi Anneth bisa jelasin—"
PLAK.
Tangan kanan wanita itu melayang di udara menuju ke pipi mulus Anneth. Bertambah lah rasa nyeri di sekitaran wajah Anneth. Mungkin tamparan dari ibunya sudah biasa ia rasakan, tetapi kali ini terasa lebih sakit dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya.
"Kamu nggak punya telinga atau memang tuli sih? Mama sudah beberapa kali memberi peringatan ya, JANGAN PERNAH BERMIMPI UNTUK TERJUN KE DUNIA MUSIK LAGI! TAPI NYATANYA KAMU MASIH MELAKUKAN KESALAHAN YANG SAMA! KAMU INI SUSAH SEKALI DI NASEHATI." Derlin mengomeli Anneth.
"Tapi Anneth melakukan semua ini karena ini impian Anneth, ma. Anneth punya impian sendiri, Anneth punya keinginan sendiri, Anneth punya cita-cita sendiri. Bukan atas dasar kemauan mama." Anneth memberanikan diri untuk membela dirinya sendiri.
BUG.
Kalau tadi tamparan, sekarang yang Anneth dapatkan adalah sebuah pukulan. Begitu sadisnya tangan itu memukul dan mengenai tulang pipi Anneth. Dengan rasa sakit yang terus menggelenyar di sekitar pipinya, ia menunduk sembari meringis kesakitan. Ia sadar tidak ada siapapun yang akan membelanya. Ayahnya sedang tidak ada di sini.
"Melawan terus. Apa yang perlu di banggakan dari anak seperti kamu? Setiap kali mama ngomong nggak pernah di dengarkan, apalagi di laksanakan. Kamu ini sudah mama sekolah kan tinggi-tinggi tetapi tidak sama sekali memiliki etika. Mama malu punya anak seperti kamu!"
Anneth hanya terdiam. Gadis itu masih kuat menahan air mata serta pertahanannya yang mungkin sebentar lagi akan runtuh. Rasa sakit di pipinya tak sebanding dengan rasa sakit di dalam hatinya yang hancur terkikis dan tertusuk.
"Kamu nginep di mana? Sama siapa?" Derlin menggeleng."Mulai belajar menjadi perempuan nggak bener? Terus ngapain pulang, kalau cuma bisa memalukan orang tua?"
"Anneth di apartemen milik temen Anneth, ma. Anneth jujur, Anneth nggak melakukan hal buruk, temen-temen Anneth juga baik. Lagipula Anneth masih punya harga diri," jelas Anneth dengan suara pelan.
"Temen kamu cowok, kan? Huh! Mama nggak yakin kamu jujur. Emang dasarnya anak nggak tahu di untung! Ini akibatnya kalau kamu salah pergaulan. Mama sudah menekankan kalau kamu harus berprestasi biar bisa meneruskan usaha mama, bukan nyanyi-nyanyi nggak jelas nggak ada moral. Percuma kamu sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma nyanyi. Apa yang perlu di banggakan? Mama malu, Neth, mama malu. Apa kata rekan-rekan kerja mama nanti? Kamu ini nggak sepantasnya di sebut sebagai seorang anak!"
Deg.
Kamu ini nggak sepantasnya di sebut sebagai seorang anak.
Kalimat itu langsung terngiang-ngiang di telinga Anneth. Kalimat itu juga menohok hati Anneth. Bersamaan dengan itu, air mata gadis itu meluruh membasahi pipi merahnya. Pertahanannya yang selama ini ia bangun kini runtuh dengan mudahnya. Hatinya perlahan terkikis menyisakan rasa sakit yang membekas. Dadanya sesak seperti ada yang menghantam. Seluruh tubuhnya terasa ingin runtuh di tempat itu juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE DEEPEST
ספרות נוערPernah merasa terganggu karena kedatangan seseorang? Yang membuatmu tidak bisa hidup damai seperti sebelumnya. Seperti yang di rasakan oleh gadis yang satu ini. Anneth Elvarette. Si pendiam dan tertutup. Namun siapa sangka ternyata cowok yang di cap...
