나 - AKU
Aku ingin menjadi diriku sendiri. Tapi, aku masih iri
Ketika melihat seseorang yang lebih dari pada aku
Entah segi apa pun itu
●●● JAY CHO ●●●
"Apa yang terjadi pada tanganmu?" Tanya Lili, saat ia melihat tangan Jay yang terbalut oleh perban yang menutupi semua area telapak tangan kirinya.
"Oh, ini... Aku tak sengaja terluka saat berolaraga. Tak apa, tak usah di cemaskan ini akan segera sembuh." Jay sumringah sambil mengangkat tangannya yang terluka.
"Kau harusnya lebih berhati-hati lagi. Beruntung hanya tanganmu saja yang terluka." Lili menatap Jay dengan aneh. "Berikan padaku, aku yang akan menyetir." tangannyna menengadah agar Jay memberikan kunci mobil.
"Tidak, aku masih bisa menyetir."
"Ishhhh!!" Di sertai pelototan mematikan pada Jay. Jay mau tak mau langsung memberikannya.
Tanpa lama, mereka masuk dan Lili lah yang memegang kendalinya.
"Kau yakin ingin menyetir?" Menatap Lili dengan cemas-cemas.
"Kau pikir aku ini apa, hah?!" Lili hampir saja ingin memukul kepala Jay dan itu membuat Jay mendelik takut hingga Lili mengurungkannya.
Mobil melaju dengan nyaman. Lili memerhatikan tiap jalan yang ia ambil. Ia begitu berhati-hati, hingga Jay rasa mobilnya ini berjalan seperti siput dan itu membuat Jay sedikit frustasi namun memilih untuk menelannya sendiri.
Gerbang tinggi terbuka untuk mereka. Lili kembali melaju masuk ke dalam dengan pelan. Rumah Jay memang tampak sangat megah sekali, maklum dia kan anak konglomerat.
Lili di undang untuk makan malam oleh Kakek Jay malam ini. Itulah sebabnya ia sekarang berada disini dan Jay lah yang menjemputnya.
Baru saja mereka melangkah keluar mobil, ponsel Lili bergetar panjang tanda sebuah panggilan telah masuk. David, nama yang tertera di layar ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Lili malas setelah mendekatkan ponsel ke telinga kirinya. Ia masih malas berbicara dengan David karena hal yang kemarin.
"Aku minta maaf," ujar David
Hening beberapa detik diantara mereka.
"Aku benar-benar tulus mengatakannya." Lanjut David.
Lili hampir saja meneteskan air matanya saking terharunya hanya dengan mendengar permintaan maaf yang barusan David utarakan. Rasanya, semua yang telah David lakukan selama ini akan di maafkan.
Lili tak menjawab lagi. Ia langsung mematikan sambungannya, membuat David di seberang sana menghela napas yang berat saat panggilan tersebut diputuskan.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Jay, "telepon dari siapa?" Tanyanya lagi.
"Ayo cepat! Kakekmu pasti sudah menunggu." Menghindar dan berjalan lebih dulu.
Jay bernapas panjang membuang rasa sesak yang tadi sempat hinggap. Ia sebenarnya sudah tahu bahkan jika Lili tak memberitahunya. Siapa lagi yang akan membuat Lili seperti itu. Hanya satu pria di dunia ini, dan David adalah orangnya.
Hidangan makan malam yang tersaji di atas meja makan begitu banyak dan beragam. Ini seperti perjamuan besar saja, padahal hanya mereka bertiga yang makan yakni, Kakek Jay, Jay, dan juga Lili.
"Bagaimana harimu saat bekerja? Kau menyukainya?" Tanya Kakek pada Lili. Mereka kini telah sampai pada makanan penutupnya.
"Ya, sangat suka. Tapi, berkat direktur yang plin plan rasanya tercekik setiap harinya," Lili tersenyum pada Kakek sedang Jay di hadiahi dengan tatapan tanya oleh Kakeknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
D E L U T I O N
RomansDunia yang kau lihat itu adalah palsu. Tapi, bagaimana pun aku menunjukkan dunia yang benar itu sama sekali tidak berarti untukmu. Aku sudah mati di dasar tebing yang dingin. Sejauh ini aku, aku sudah mengupayakan segalanya. Dalam hal apa pun aku la...
