BAB 25

399 49 5
                                        


사랑 때문에 - KARENA CINTA

Jika kau mencintai seseorang, berjuanglah
untuk mendapatkannya.
Usahamu tidak akan mengkhianati hasil.

●●● LILI HWANG ●●●●


Seluruh penglihatan Jay adalah langit-langit kamarnya. Meskipun agak sedikit kabur, tapi ia masih mengetahui dengan baik dimana sekarang ia berada. Akh! Ia teringat kalau terakhir ia pingsan tadi di dapur dan sekarang kepalanya masih agak nyeri. Yah... meskipun tak senyeri tadi lagi.

Jay juga sadar dengan jarum infus yang menancap di tangan kirinya dan... Lili?

Lili sekarang tengah tertidur lelap sambil memegang tangan Jay dengan begitu posesif. Lili tidur dengan posisi yang sangat tidak nyaman, itu membuat Jay merasa nyeri di bagian jantungnya. Perlahan, tangan kiri Jay mengelus lembut kepala Lili, menyingkap beberapa anak rambut yang menutupi wajahnya, Jay kini menatap lamat-lamat wajah damai itu. Di wajah Jay kini tersirat kesedihan dan kepedihan yang ia rasa.

"Tidak bisakah kita menjadi lebih dari seorang teman? Aku sangat membenci takdirku yang seperti ini." Gumam Jay pelan, ia bahkan tak sampai hati jika suaranya itu akan membangunkan tidur lelap Lili.

Jay lalu dengan sangat... hati-hati menarik tangannya dari genggaman Lili. Kemudian, ia beralih pada jarum infus dan mencabutnya begitu saja. Jay tak suka dengan memakai hal seperti itu selama ia masih merasa baik-baik saja.

Jay menyingkap selimutnya dan turun dari ranjangnya. Ia benar-benar sangat berhati-hati, bahkan suara kecil pun ia tak biarkan. Jay keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan sebentar.

Sejujurnya, ia juga masih mengantuk dan sekarang masih pukul 2 dini hari. Entah kenapa ia tak bisa melanjutkan tidurnya itu. Ia merasa gelisah dengan apa yang sudah terjadi, mengingat David yang sudah kembali lagi pada Lili. Secepat itu kah? Jay benar-benar merasa kalau waktu sangat cepat sekali berlalu, seolah tak ada sesuatu yang terjadi, tak ada apa-apa.... dan seperti perjuangannya tak ada artinya. Haruskah ia tetap melanjutkan ini?

Jay menatap bulan yang redup. Aaaah... kenapa semuanya sangat tepat sekali untuk Jay merenung, bahkan bulan sendiri redup seperti halnya hatinya sekarang. Semangatnya kini mulai redup untuk memperjuangkan Lili. Ia serasa pasrah akan keadaan, seakan ini memang takdir yang ia miliki. Jay tersenyum miris akan kenyataan seperti itu. Kenyataan yang tak bisa memiliki Lili sepenuhnya menjadi wanitanya.

"Kau sudah bangun?"

Jay langsung berbalik mendengar suara serak itu.

David tersenyum samar pada Jay dan mengangkat kaleng birnya. David kemudian mendekat.

Tadinya, ia berpikir hanya Lili saja yang ada disini untuknya. Tapi, nyatanya tidak. Jay terlalu berekpetasi tinggi dengan itu. Tak heran David ikut berada disini. Jay juga akan melakukan hal yang seperti yang di lakukan David sekarang.

"Kau mau minum?" Tawar David.

Jangan berharap kalau David membawa dua buah kaleng bir. Nyatanya tidak. Ia juga tidak tahu kalau akan bertemu dengan Jay. Tadinya, ia mencari sesuatu untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering.

"Tidak. Terima kasih." Tolak Jay dengan halus. Nada suara Jay sekarang menjadi lebih biasa di bandingkan ucapan-ucapan dengan nada sinis seperti yang selalu ia lontarkan ketika bertemu dengan David. Tapi, kali ini...?

David mengenggak minumannya lalu bersandar pada sisi besi balkon.

"Bagaimana denganmu sekarang?" Tanya David. Lagi, ia mengenggak bir-nya lagi.

D E L U T I O NTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang