BAB 20

294 43 2
                                        

회색 - KELABU

Dunia seperti apa yang sebenarnya aku ingkinkan
Hati siapa sebenarnya yang aku harapkan
Aku terlalu memikirkan diriku sendiri
Hingga tak memperhatikan sekitarku

●●● Jay Cho ●●●

Kedua guci abu milik kedua orang tua Lili tertata rapi bersama dengan para abu lainnya di dalam lemari kaca. Lili menatap nanar foto keluarga yang diambil saat baru menginjak usia 15 tahun. Ayah dan ibunya tampak bahagia sekali. Jarak meninggal antara keduanya hanya berselang kurang lebih dua tahun. Bagaimana mungkin Lili tidak terpuruk. Tapi, seberat apa pun itu ia berusaha menerimanya. Itu lah yang selalu diajarkan oleh mendiang ibunya.

Di lekatkan bunga untuk keduanya dan mulai tersenyum samar pada sosok mereka di foto.

"Apa kabar, Ayah... Ibu... Aku minta maaf dan sangat menyesal sekali pada kalian berdua. Ayah... Aku memang anak yang tak tahu diri dan sangat kurang ajar. Aku minta maaf... karena membuat Ayah marah besar dan menyusahkan Ayah."

Lili menelan sejenak salivanya. Air matanya sudah mulai mengucur. Dirasakan tangan Jay menepuk lembut bahu Lili. Jay juga kini ikut merasa bersalah terhadap apa yang menimpa Lili. Namun dengan ringannya Lili membuat cekungan di bibirnya.

"Aku sebenarnya membenci Ayah. Saat di Peru, aku selalu menyalahkan Ayah. Aku mulai sedikit membenci Ayah karena tak pernah mempercayaiku. Aku sedikit membenci Ayah saat Ayah tak pernah mau berbicara padaku hingga Ayah meninggal. Aku sedikit membenci Ayah karena Ayah sama sekali tak mengijinkan aku untuk bertemu bahkan di saat terakhir. Aku membenci Ayah karena itu. Kadang aku mempertanyakan pada diriku sendiri, Apa Lili semenjijikan itu bagi Ayah? Apa Lili adalah Putri yang sangat Ayah tak inginkan? Hiks... hiks... hiksss.... B-bbahkan s-s-sampai sekarang-- Ayah sama sekali tak bertanya apa pun tentang kejadian itu."

"Ibu... Maafkan Lili... Aku adalah anak yang tidak berbakti. Seharusnya sepulang Lili dari Peru, Lili selalu bersama dengan ibu. Aku menyesal karena tak selalu bersama ibu dan merawatmu. Aku minta maaf, ibu..."

Kedua tangan Lili sudah menutupi wajahnya dan terisak di baliknya. Jay membawa kepala Lili pada Dada bidangnya dan kembali menepuk-nepuk pelan punggung Lili.

Jay menatap sosok kedua orang tua Lili di foto. "Maafkan aku... aku yang seharusnya di benci disini," batin Jay.

.
.
.

Lili tiba-tiba menyuruh Jay menghentikan mobilnya. Semula Jay tak mengerti, tapi ia baru mengerti setelah mengikuti arah pandang Lili.

"Ayahku tergeletak di jalan yang dingin itu." Mata Lili berkaca-kaca.

"Kau benar... Ayahmu ditabrak disana," kata Jay berbela sungkawa.

"Andai aku tahu pelaku yang menabrak Ayahku. Aku akan membuatnya membayar dosa-dosanya itu. Aku pastikan itu terjadi." Lili menerawang ke masa ia seperti orang gila memohon kepada polisi untuk menemukan pelakunya.

"Bukankah pelakunya sudah ditangkap? Bukankah itu sudah cukup?"

"Benar. Pelakunya memang sudah ditangkap, tapi aku belum pernah melihat wajah Ahjussi itu. Sama sekali tidak. Kau tahu sendiri setelah pemakaman aku harus segera kembali ke Peru. Dan, saat disini aku belum sempat mengunjunginya."

"Kau mau ku antar kesana?"

"Tak perlu... Aku sedang tak berniat bertemu pembunuh Ayahku sekarang. Mungkin nanti... tapi ku harap kau ada disana untuk menghentikanku jika sudah di luar kendali." Lili terkekeh seperti melemparkan candaan pada kalimat terakhirnya.

D E L U T I O NTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang