Di rumah sakit, Brilian langsung di bawa ke ruang Operasi karena pisau tersebut merobek ulu hati lelaki itu. Dan Brilian mengeluarkan banyak darah. Kondisi Alex sekarang berantakan, banyak darah yang membasahi bajunya. Alex tak peduli dengan dirinya ia setia menunggu di depan ruang operasi. Ia tak kuasa menahan air matanya kembali, ia menyalahkan dirinya, seharusnya ia yang berada di ujung maut bukan Brilian.
It's just a feeling
Just a feeling
Just a feeling that I have
Just a feeling
Just a feeling that I have, oh yeah¯
"Hallo..." isak Alex
"Lo kenapa lex?"
"Ra, ra lo bisa ke rumah sakit ga temenin gue, gue di ruang Operasi, Brilian... Brilian..." tangisan Alex pecah seketika
"Lo di rumah sakit mana?"
"Dr. Soetomo"
"Iya gue kesana, tunggu gue!!" ucap Tiara menenangkan
"Iya Ra, thanks ya!"
"Oke Lex, lo tunggu gue, gue kabari anak-anak dulu!"
Sekitar setengah jam Tiara dkk tiba di rumah sakit, mereka mempercepat langkah menuju ruang operasi, di sana mereka melihat Alex duduk dibawah sambil menenggelamkan wajahnya di sela lututnya dan menangis, ia menghampiri Alex dan memeluk Alex.
"Lex, apa yang terjadi?Kenapa baju lo... " tanya tiara, ia tak sanggup melanjutkan ucapannya
"Lex, lo perlu diobati" tanya Xena
Alex menggeleng, ia tidak rela meninggalkan Brilian yang berjuang sendirian di dalam sana.
"Gue ga pa-pa tapi hati gue ga tenang, Ian, ian ada di dalam!! Keadaan ian parah, gue takut terjadi apa-apa pada Ian!" isak Alex
"Sebenarnya ada apa Lex? Kenapa bisa terjadi kayak gini? Kenapa ada Polisi di depan ruang Operasi?" tanya Rika
Hanya tangisan kembali terdengar.
"Gue telepon kakak lo ya lex, gue ga tega lihat lo!" kata Xena
Saat sambungan terhubung, Xena menjelaskan situasi yang ada, untung saja kakak Alex belum kembali ke Jerman, setelah mendapat info dari Xena, Rio pun dengan tangkas melajukan mobilnya ke rumah sakit yang di maksud.
"Dek lo kenapa?" kata Rio, nafasnya tidak beraturan, Ia memeluk adiknya
"Kak Rio..." ucap Alex histeris
Kak Rio mengusap rambut adiknya, "Tenangin diri lo, gue selalu ada buat lo"
"Kak, Ian Kak..." Histeris Alex kembali
Kak Rio mengusap kembali rambut adiknya, "Iya Lex"
Rio memeluk adik semata wayangnya, ia tak tega melihat kondisi adiknya yang berantakan, luka lembam di pipinya, baju yang lusuh, dan bekas ikatan di tangan dan kakinya, ia bertanya-tanya ada apa ini sebenarnya, bukannya ia keluar dengan Steven? Dimana Steven? Ia menerka nerka apa yang terjadi. Ia melepaskan pelukkan adiknya yang mulai tenang dan berjalan ke salah satu polisi.
"Mohon Maaf Pak, sebenarnya Ada apa ini pak?"
"Mohon maaf anda siapa ya?" tanya Polisi itu
"Perkenalkan saya Rio, Saya kakaknya Alexsandra!! sebenarnya apa yang terjadi pak!"
"Oke mas,, begini mas, adik anda, saudari Alex korban dari penculikkan!"
"Maksud bapak?"
"Ia di culik dan di sekap di sebuah gudang di daerah Perak! Saat temannya mau menyelamatkannya, temannya tertusuk dan sekarang ada di ruang operasi! Penculiknya sedang melarikan diri!"
"Siapa pak yang berani menculik adik saya?"
"Keterangan yang di dapat pelaku itu bernama Steven William"
"Apa? Steven?" Rio takut jika ia salah dengar
"Iya mas, Steven William! Sekarang pelaku sedang dicari oleh polisi!"
"Terimakasih pak informasinya.."
Rio berlalu dari polisi tersebut dan mengumpat akan kecerobohan dirinya, ia tidak bisa menjaga adik semata wayangnya. Ia bersumpah akan menangkap Steven secepat mungkin dan ia tidak akan memberi ampun pada bedebah itu.
"Alex ayo lo harus diobati!" Ajak Rio
"Tapi kak... Brilian..."
"Tenang lex, gue yakin Brilian akan selamat!" tenang Tiara
"Gue ga mau kemana-mana? Sampai ruangan operasi itu terbuka!"
"Dek, kakak mohon ikut kakak untuk di obati, kakak tahu kamu khawatir sama Brilian tetapi kakak juga khawatir sama adik kakak! Please lo ikut Kakak!"
"Iya Lex, lo ikut kakak lo, biar gue sama anak-anak yang jaga di sini!"
Alex berpikir beberapa saat sebelum mengangguk, ia berdiri hendak mengikuti Rio, tetapi saat melangkahkan kakinya ia terhuyung jatuh dan semua gelap seketika. Rio dengan sigap menangkap Adiknya ke dalam dekapannya dan ia menggendong adiknya, ia berlari menuju UGD, disusul oleh teman-temannya.
***
Alex mulai sadarkan diri, ia mencium Bau Obat-obatan yang sangat familiar, ia melihat ruangan yang serba putih dan ia melihat kakaknya begitu juga teman – temannya yang tertidur kecuali Xena.
"Lex lo udah sadar?" kata Xena "Kak, Alex sudah sadar!" lanjutnya sambil membangunkan Rio
"Ini dimana? Oh ya Ian gimana? Gue harus ke tempat Ian!!" kata Alex berusaha melepas infusnya
"Tenangin diri lo dek!!"
"Gue harus ke ruang operasi!"
"Lo baru sadar Dek, lo harus banyak-banyak istirahat !"
"Gue ga bisa enak-enak kan tidur sedangkan Brilian berjuang sendiri di dalam sana!" tangisan Alex mulai pecah
"Gue tahu perasaan lo dek, gue tahu lo khawatir, tapi lo percuma ke ruang operasi karena operasinya udah selesai dek!"
"Beneran kak?Terus Brilian dimana? ga pa-pakan? Gue pingin ketemu Ian kak!" ucap Alex Antusias
"Lo tenang dulu, lo harus kuat dengan berita yang gue sampaikan, sebelumnya gue minta maaf! Maafin kakak lex!" kata Rio sambil memeluk adiknya
"Bentar kak, kenapa kakak minta maaf? Apa Maksud kakak?"
"Lo udah hampir semingguan ga sadarkan diri karena trauma yang lo alami!" ucap Rio "Kalo lo tanya kondisi Brilian, maaf dek, Brilian udah tenang di alam sana dek, Brilian sudah meninggal dek!" sesal Rio
"Lo bercanda ya kak? Lo Cuma mau buat kejutan ya kak, biar gue nangis-nangis dulu baru Ian muncul dengan senyum khasnya, Ian lo keluar dech dari persembunyian lo, ini ga lucu tau ga Ian! Gue serius ini ga lucu Ian!" ucap Alex agak berteriak
"Lex..." Rio prihatin melihat kondisi adiknya
Alex yang mengharapkan ini hanya lelucon ternyata nihil, karena reaksi kakak dan teman-temannya tidak berubah, Ia menangis sejadi-jadinya, Alex sekilas melihat pisau yang diletakkan di meja dekat kasurnya, secepat mungkin ia mengambil pisau itu dan menggoreskan pisau itu ke urat nadinya.
"No...." teriak Rio
Rio secepat mungkin mengambil pisau itu dan membuang jauh-jauh dari tangan Alex, pergelangan Alex mengucur deras darah segar, sahabat-sahabatnya histeris melihatnya, darah mulai berjatuhan, menodai seprai, Rio berusaha menekan nadi di pergelangan darah Alex agar tidak mengucur lebih deras lagi, Xena yang masih bisa mengontrol dirinya mengambil sapu tangan di saku belakang celananya dan menyerahkan ke Rio untuk mengikat kencang nadi Alex yang terluka, ia menyuruh Rika untuk segera melaporkan ke suster penjaga. Rika berlari keluar dan memanggil suster penjaga. Suster penjaga datang dengan membawa peralatan yang diperlukan, pertama-tama Alex disuntik obat penenang setelah obat mulai bereaksi dan kondisi Alex sudah tenang baru tangan Alex yang terluka, di tangani oleh perawat. Kata perawat pisau itu tidak sampai menggores nadi Alex, mungkin hanya goresan kecil tapi tidak parah. Rio menghela napas lega karena adik kesayangannya bisa di selamatkan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEXSANDRA [FINISH]
RomanceAlexsandra Francesca adalah seorang cewek yang baru menyelesaikan masa studinya di SMP Nusa Harapan. Cewek berparas sempurna ini lebih dikenal sebagai Alex. Alex merasa hidupnya sempurna, sayangnya waktu terus berputar dan terkadang hidup tidaklah s...
![ALEXSANDRA [FINISH]](https://img.wattpad.com/cover/195929390-64-k153492.jpg)