19) HARI BAHAGIA

2.5K 110 5
                                        

-

"Sayang bangun."

"Sebentar lagi Na-ya."

"Bangun!"

"Na-ya aku masih mengantuk."

"YAK PARK JIMIN!!! BANGUN!!!"

Jimin langsung terduduk kaget mendengar teriakan itu.

"Jina-ya bisakah kau tidak berteriak seperti itu?"


Plak!


Satu pukulan dikepala Jimin kembali membuat Jimin kaget.

"Jina Jina Jina! Ini eomma! Kau bermimpi apa huh?!"

Jimin langsung menatap eommannya dengan cengiran khasnya.

"Hehe eomma. Kenapa membangunkan ku sepagi ini?"- tanya Jimin sambil menatap ke arah jendela yang masih terlihat gelap.

"Astaga kenapa Jina ingin menikahi anakku yang seperti ini." - gumam eomma Jimin sambil memijit pelipisnya.

"Nde?"

"HARI INI HARI PERNIKAHAN MU PARK JIMIN!" - sekali lagi eomma Jimin berteriak keras.

"Hah?" - Jimin bingung

"ASTAGA!!! HARI INI AKU AKAN MENIKAH DENGAN JINA!" - Jimin langsung lompat dari kasur dan mencari handuk untuk mandi.

"Kenapa eomma tidak membangunkanku daritadi?!"

Setelah mendapat handuk Jimin langsung berlari menuju kamar mandi.

"Anak itu sungguh aish!" - eomma Jimin menahan kesalnya sambil keluar dari kamar Jimin.

Jimin POV

Setelah sekian lama akhirnya hari yang di tunggu-tunggu datang.

Sebenarnya aku sangat gugup. Menunggu Jina memasuki ruangan ini membuatku tidak berhenti mengatur nafas.

Plek!

Suara pintu terbuka membuat aku lebih gugup seketika. Aku menutup mataku sebentar sambil mengatur detak jantungku. Rasanya aku tidak pernah segugup ini.

Saat aku membuka mata, mataku tertuju pada objek yang sangat aku sayangi. Jina. Seketika aku tersenyum melihatnya berjalan kearahku dengan Tuan Kim.

Jina terlihat sangat cantik namun sama sepertiku dia gugup. Itu menggemaskan. Mata kita bertemu, Jina tersenyum malu menatapku.

Terima kasih Tuhan, karena pada akhirnya aku bisa memiliki Jina seutuhnya. Menjadikannya hidup baruku. Menjadikannya masa depanku.

Mataku sedikit berair ketika melihat Jina sudah berada di dekatku. Tuan Kim seakan menyerahkan Jina padaku dengan yakin.
Ku sodorkan tanganku dan Jina menerimanya.

Kami berdua saling tersenyum haru. Entah mengapa suasana saat ini begitu haru bahagia.

"Bidadari cantik ini akan menjadi istri ku sekarang." - bisikku

Jina tersenyum mendengar ucapanku itu. Lalu dia tiba-tiba sedikit terkekeh.

"Jangan menangis Jim. Aku mencintaimu."

Jina melihat mataku yang berair lagi langsung kembali terkekeh.

Akhir-akhir ini Jina sangat sering menyatakan rasa cintanya padaku. Dan aku juga sangat mencintainya.

"Aku juga, mencintaimu lebih dari apapun."

🌻 kecanduan 🌻


Kecanduan [PJM]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang