05

5.1K 346 11
                                        

Yoongi menggigit jari, dia tidak pernah kehilangan Jimin selama ini. Jika orang yang menculik Jimin menginginkan harta, maka Yoongi akan berikan. Asalkan Jimin kembali dengan selamat.

"Aku yakin, Jimin baik-baik saja."

"Bagaimana bisa kau pastikan hyung? Penjahat bahkan Jimin tidak tahu nomor ponselku sekarang. Yang ada mereka berfikir Jimin tidak berguna kemudian membunuhnya-"

"Hey bos, jangan bicara begitu!" potong Xiumin menghentikan kata-kata Yoongi yang hampir terdengar gila.

Seokjin membuang nafas, kemudian memberhentikan mobilnya beberapa kilo dari rumah Namjoon. Harus diketahui, mereka berhenti tepat di mana Jimin diculik.
Yoongi mulai berjalan kesana-kemari untuk mencari jejak penjahat, ngomong-ngomong mereka sudah berhenti lebih dari tiga kali sebelum mencapai tempat ini.

"Bagaimana cara menemukan petunjuk, bodoh!?"

"Jangan panggil kita seperti itu, Min! Ayolah cepat cari tanda-tanda."

Drrtttt

Drrrttt

Yoongi mengabaikan ponselnya yang bergetar di saku celana, jujur; dia tidak punya waktu untuk memainkan ponsel. Semua tugasnya akan dia hentikan jika Jimin belum juga ditemukan.
Namjoon datang bersama Jonghan, bahkan mereka belum sempat pulang ke rumah sebab melihat Yoongi, Xiumin dan Seokjin tengah berkeliaran di pinggir jalanan.

"Jonghan, apa sebelum berangkat kau melihat Jimin!?" tanya Yoongi panik sembari mengguncang bahu Jonghan.

"Tidak, bahkan Jimin tidak bilang padaku bahwa dia akan berangkat bersama pagi tadi."

Yoongi membuang nafas kesal, bisa-bisanya dia lupa memberikan ponselnya pada Jimin. Bukan Yoongi yang melarang putranya untuk mempunyai ponsel, tapi Jimin sendiri yang enggan dibelikan.
Namjoon mulai berfikir, dia ini juga polisi jadi harus tahu jejak pelaku.

"Yoongi, biasanya penculik yang menginginkan uang akan mengirim pesan singkat untuk meminta uang-"

"Ya, biasalah orang miskin." Seokjin memotong pembicaraan, dia ini selalu berbicara tanpa berfikir. Berbeda sekali dengan Namjoon.

Yoongi mengalihkan pandangan malas, dia benar-benar tidak bisa tenang sekarang. Hanya ada 'Jimin' di pikirannya saat ini.
.
.
.
"Bos, Yoongi tidak membalas pesan kita."

Bruak

"Hah, bagaimana bisa!? Dia membuang anaknya!?"

Jimin membuang nafas kesal, dia terpaksa terbangun. Jika tidak, dia akan mati. Mereka tahu orang mati atau tidak, sadarkan diri atau tidak mereka itu profesional dalam menebak.

"Hey, Nak, ayahmu itu tidak peduli padamu."

"Tidak mungkin, dia pasti sedang sibuk mencariku di luar sana."

"Hanya perkiraanmu, Park Jimin."

Jimin menunduk, merasa bersalah karena sedari tadi hanya diam saja. Seharusnya dia lari, tapi tidak ada gunanya. Jimin tidak tau dimana dirinya sekarang.
Ketua dari penculik itu kembali menyeret Jimin dengan kasar menuju kursi yang awalnya digunakan untuk duduk dan mengikat Jimin.

'Daddy tidak mungkin tidak peduli padaku.'

Jimin kembali terikat, kemejanya sudah lusuh dan robek. Dia hanya bisa diam membiarkan darah bercucuran dari bagian tubuhnya yang terluka.
Manusia tidak punya hati, membiarkan bocah polos tersakiti hanya demi uang.

"Kau akan aku pulangkan, jika Yoongi memberikan aku uang sebanyak yang aku inginkan." Jimin terdiam, menatap ketua penculik itu dengan wajah polosnya.

"Tapi, jika daddy tidak datang. Kau akan membunuhku, ya?"

"Tidak, aku akan menyakitimu sebisaku."

Jimin kembali menunduk. "Astaga."
.
.
.
Namjoon mengambil ponsel Yoongi dari sakunya, dia penasaran dengan ponsel Yoongi yang terus bergetar tetapi Yoongi sendiri tidak menyadari itu.

"Astaga, aku menemukan petunjuk. Yoongi urusan kantor nanti saja, ya!? Aku harus kembali ke kantorku untuk membawa beberapa teman-temanku."

Yoongi mengangguk sembari menerima ponselnya dari tangan Namjoon, wajah datar Yoongi berubah menjadi panik saat membaca pesan singkat yang dikirimkan penculik untuknya.

From: xxx
Dengar Min Yoongi, berikan aku uang sebesar 600.000 won atau putramu akan mati.

Yoongi kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya, dia memperhatikan mobil Namjoon yang mulai tidak terlihat. "Hyung, bayiku dalam bahaya...,"

"Tenanglah, Min!"

"Iya, bos. Namjoon itu polisi kan!? Dia pasti bisa mengatasi semua ini."

Yoongi mendengus sembari kembali masuk ke dalam mobil, benar-benar terlihat menyedihkan.
Sebelumnya Yoongi tidak pernah semenyedihkan ini, ya sebelum Jimin hilang.

"Min, bolehkah ku lihat ponselmu!?" Yoongi memberikan ponselnya pada Seokjin, lalu ia membuka pesan singkat, "mereka meminta uang," katanya.

Yoongi mengusap wajahnya kasar, frustasi bercampur panik. "Aku akan menjemput Jimin, meskipun harus mengorbankan semua uangku atau bahkan hartaku."

Drrttt

Drrttt

From: xxx
Jangan bawa polisi.

Seokjin mendengus dan hampir saja membanting ponsel Yoongi ke trotoar jika Xiumin tidak menahannya. "Aku benar-benar kesal, mereka membahayakan manusia!!!"

"Sabarlah Kim, orang sabar disayang Tuhan hehe."

Yoongi menatap malas dan Seokjin menatap sinis pada Xiumin, keadaan buruk dan salah satu karyawan Yoongi malah bergurau sebodoh itu.

Drrrttt

Drrttttt

Drrtttt

"Hallo!?"

'Pergilah lebih dulu, aku masih melacak keberadaan penculik itu melalui lokasi terakhir.'

"Aku harus pergi kemana, bodoh!?"

'Nyalakan GPS dan cari tempat terakhir, sialan!'

Tutt

"Sial, Namjoon minta dipecat atau bagaimana sih!?"

Jonghan tertawa kecil. "Aku ingin diam tapi ucapanmu sangat lucu!"

"Anak kecil tidak boleh ikut campur," ucap Seokjin sembari menoleh sinis pada Jonghan.
Jonghan hanya menunduk, paman Seokjin memarahinya barusan.

Yoongi menuruti ucapan Namjoon, mengaktifkan GPS untuk melacak tempat terakhir yang digunakan penculik. Tak lupa ia membawa pistol yang selalu ia simpan di mobil juga uang yang diminta penculik, menakutkan jika Namjoon datang terlambat.

"Kita menuju ... apaan ini!? Gambar gedung tua? Alamatnya dimana!? Internet sebodoh ini!?"

"Min, internet mungkin tidak bisa menjangkau tempat itu."

"Tapi, hyung, ini membingungkan!"

Xiumin merebut ponsel Yoongi dari tangan pemilik, Yoongi kurang sabaran memang.

"Gedung ini berada di ujung kota, ayo cepat!"

"Ujung kota yang mana!?"

Xiumin mendengus kesal, memberikan ponsel Yoongi pada Seokjin kemudian memalingkan wajah.
.
.
.
Jimin kembali tidak sadarkan diri, darah yang keluar dari kepalanya terlalu banyak. Dia tidak lagi berpura-pura, dia sungguh terluka parah.

"Bos, dia mati?"

"Mungkin dia pingsan, sudah biarkan saja. Ayahnya itu pasti sudah tidak peduli, selimuti saja dia."

Bruakkkk

"Kata siapa tidak peduli!?"

Tbc-

DGMAL: Yoonmin[END[18+]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang