Wendy ragu-ragu memasuki bangunan klub yang cukup besar itu. Selama ini Wendy tidak pernah menginjakan kaki disana. Jangankan menginjakan kakinya. Memikirkanya saja Wendy tidak mau.
Dan sekarang dia harus masuk kedalam untuk menjemput Yogi.
Wendy masuk kedalam setelah diperiksa oleh dua orang berbadan kekar. Dan berwajah datar. Wendy mengedarkan pandanganya.
Sangat sepi. Hanya ada beberapa orang dan pegawai yang berlalu lalang. Mungkin karena sudah pagi. Jadi para pengunjung sudah pergi.
"Wendy !" Taedy melambaikan tangannya, supaya Wendy mendekat.
"Mana Mas Yogi?" Tanya Wendy agak cemas. Dia takut kalau Yogi kenapa-napa. Kalau Yogi sudah mabuk. Dapat dipastikan Yogi seperti orang mati. Belum lagi dia yang muntah-muntah dan mengeluh pusing.
"Yogi ada di dalem Wen"
Wendy mengangguk dan mengikuti Taedy memasuki sebuah ruangan yang agak remang-remang.
Di dalam keremangan, Wendy masih bisa melihat Yogi yang tertidur di sofa dengan tidak nyaman. Wendy duduk disebelah Yogi. Lalu menepuk-nepuk pelan pipi Yogi. Sampai kedua mata Yogi terbuka.
"Kamu... ngapain disini?" Tanya Yogi begitu melihat Wendy. Dia melirik Taedy yang berdiri di belakang Wendy. Dan mengalihkan pandanganya kearah lain.
Wendy tidak menjawab pertanyaan Yogi. Dia menarik tangan Yogi lalu Wendy meletakan tangan Yogi di bahunya.
"Aku bisa sendiri !" Yogi menarik tangannya dari bahu Wendy. Dan dia mencoba berdiri sendiri.
"Tuh kan jatuh. Mas sih kalau dibilangin suka ngeyel" Wendy membantu Yogi yang tersungkur ke lantai yang beralaskan karpet mahal.
Kali ini Yogi tidak menolak. Kepalanya sudah sangat pusing dan dia ingin segera pulang kerumah.
"Sini Wen, biar aku bantu" Yogi mengangkat tangannya mengisyaratkan Taedy agar berhenti.
Wendy menatap Taedy meminta maaf. Dan segera membawa Yogi keluar dari klub. Karena tatapan Yogi yang sangat tidak bersahabat kepada Taedy. Wendy takut akan terjadi perkelahian nantinya.
****
Di dalam mobil terasa sangat hening. Bukan hening yang menenangkan. Melainkan hening yang sangat mencekam.
Wendy sampai menarik napasnya berkali-kali. Dia juga tidak berani menatap kearah Yogi. Yogi meletakan tanganya di atas kepala. Dan dia duduk sangat jauh dari Wendy.
"Nanti sore aku ke Jogja mau ketemu Ibu. Sekalian ngomong soal perceraian kita" Yogi membuka suaranya setelah keheningan yang cukup lama.
Wendy menundukan kepalanya dan mengangguk. Dia akan mencoba ikhlas melepaskan Yogi.
"Hak asuh Arin aku yang ambil. Aku tau kamu nggak akan sanggup tanggung biaya sekolahnya Arin. Sebulan sekali aku bawa Arin ketemu sama kamu, Kamu nggak usah khawatir"
Lagi-lagi Wendy mengangguk. Benar apa yang dikatakan Yogi. Dia tidak akan mampu membiayai sekolah Arin dan biaya hidup Arin.
Putrinya itu sedari kecil sudah hidup dengan segala kemewahan yang Yogi berikan. Dan Arin tidak akan ingin menjalani hidup sederhana ketika tinggal bersama Wendy.
"Aku udah siapin kamu rumah buat kamu tinggalin" Yogi membuang pandanganya kearah jendela setelah melihat Wendy sekilas.
"Nggak usah Mas. Aku bakalan tinggal sama Ibu di Jogja"
Yogi terlihat tidak setuju. Kalau Wendy menetap di Jogja. Itu artinya Yogi..
Yogi menggelengkan kepalanya. Niatnya sudah bulat. Dia ingin Wendy hidup bahagia. Kebahagiaan Wendy bukan bersama dirinya.
"Yaudah kalau kamu maunya begitu" Yogi menutup matanya yang terasa panas. Matanya terasa penuh. Demi Allah... dia ini laki-laki. Kenapa dia ingin menangis?
Pembicaraan selesai. Baik Wendy ataupun Yogi kembali bungkam. Menyelami pikiran masing-masing.
*****
"Mama kita mau kemana sih? Kok naik pesawat Ma? Kita mau liburan ya? Tapi kan sekolah Arin belum libur Ma. Nanti kalau Ibu guru Arin hukum Arin gimana? Ibu guru Arin kejam Ma. Nanti Arin dijemur dilapangan lagi. Arin kan malu Ma" Arin berceloteh panjang lebar dengan matanya yang bulat menatap Wendy lucu.
Wendy menghela napasnya lega. Setidaknya suasana mobil tidak hening dengan adanya Arin. Wendy menggoyang-goyangkan Arin yang ada di pangkuannya.
"Mama udah minta izin kok ke Ibu guru kamu. Kita kan mau ketemu sama Eyang Kakung" Jelas Wendy membuat mata Arin semakin membesar.
Kemudian Arin berteriak senang dan memeluk Wendy erat.
"Yes! Akhirnya Arin bisa ketemu Nenek sama Eyang Kakung. Berarti Arin bisa main kesawah lagi dong Ma?" Tanya Arin antusias. Wendy hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Wendy melirik Yogi yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara. Dia jadi sangat merindukan Yogi yang cerewet dan humoris. Bukan Yogi yang pendiam seperti ini.
"Ma, Papa kok diem aja sih? Papa sariawan ya?" Arin tertawa melihat Yogi yang semakin menekuk wajahnya.
"Papa nggak sariawan tau !" Jawab Yogi sambil menggelitiki perut Arin.
"Ampun Pa! Ampun! Iya Papa nggak sariawan deh. Cuman lagi sakit tenggorokan ya kan Ma?" Arin mendongak menatap Wendy meminta bantuan.
"Udah.. udah bercandanya. Sebentar lagi kita sampai" Sebentar lagi kita juga akan pisah... lanjut Wendy dalam hati.
"Iya nih Papa nyebelin banget. Nanti Arin aduin ke Eyang biar tutuk kepalanya pakai tongkatnya Eyang hehe."
"Papa kan mantu kesayanganya Eyang. Jadi..." Yogi terdiam menggantung ucapannya. Kemudian Yogi menegakan tubuhnya kembali dan menatap keluar jendela. Seperti sebelumnya.
Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu disaat dia dan Wendy akan segera bercerai. Yogi melirik Wendy. Dan Wendy menatapnya begitu juga dengan Arin. Bodoh banget gue, batin Yogi.
"Jadi apa Pah? Jadi power rangers ya?" Arin terkekeh lalu menyembunyikan kepalanya keleher Wendy sebelum Yogi menggelitikinya kembali.
Arin mengintip sedikit. Ternyata Papanya masih menatap keluar jendela tanpa menghiraukan candaanya tadi. Kenapa sih Papa! Batin Arin merutuki tingkah aneh Yogi yang tiba-tiba diam.
Mereka pun tiba dibandara Soekarno-Hatta beberapa saat kemudian. Arin keluar dari mobil digendong oleh Yogi. Arin terus saja mengomentari apa yang dilihatnya.
"Papa kok bandaranya namanya Soekarno-Hatta Pa. Kenapa nggak Wendy-Yogi?" Arin mengerucutkan mulutnya.
"Papa kok orang-orang pada bawa koper sih Pa?"
"Kita kan juga bawa Arin" Yogi mencubit pipi Arin gemas. Ada saja pertanyaan yang di lontarkan Arin. "Kenapa kamu nggak sekalian tanya kenapa orang-orang pada pakai baju"
"Ya biar nggak malu dong Pa. Masa gitu aja Papa nggak tau. Papa payah."
Wajah Yogi menjadi cemberut. Arin tertawa kencang memeluk leher Yogi. Tatapanya tidak sengaja melihat tangan Wendy dan Yogi yang tidak bergandengan seperti biasa.
"Mama sama Papa kok nggak gandengan? Biasanya aja nggak mau lepas"
Wendy hanya tersenyum sedangkan Yogi menyusun kata-kata yang pas agar Arin tidak merasa curiga.
"Kan Papa lagi gendong kesayangnya Papa"
"Nggak boleh gitu dong Pa. Kalau Mama hilang nanti gimana?"
Yogi hampir saja menyemburkan tawanya. Tapi dia segera sadar. Dan hanya tersenyum biasa.
"Arin turun gih. Nanti Papa capek" Suruh Wendy yang diangguki oleh Arin. Yogi menurunkan Arin dan Arin langsung menggandeng tangan Wendy, Melupakan Yogi.
======================
Tbc
Apakah Yogi benar-benar akan menceraikan Wendy??
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasiaku [ COMPLETED ]
Romance"Biarkanlah, aku yang menanggung ini sendiri. Ia terlalu larut dalam kecemburuannya pada diriku. Namun, aku sedih ketika dia datang bersama putriku dengan wanita lain sebut saja, kekasihnya . Aku cemburu, tak tau aku harus bersikap seperti apa" - We...
![Rahasiaku [ COMPLETED ]](https://img.wattpad.com/cover/205361765-64-k90366.jpg)