Arin menarik tangan Wendy supaya berjalan dengan cepat. Setelah taksi yang mereka tumpangi telah tiba di depan rumah orang tua Wendy. Arin sudah tidak sabar bertemu dengan Nenek dan Eyang Kakungnya. Arin juga tidak sabar bermain di sawah dan bermain lumpur. Di Jakarta dia tidak bisa mendapatkan itu semua. Bagaimana bisa.. jika yang dia lihat sehari-hari hanyalah gedung-gedung pencakar langit.
"Pelan-pelan Rin. Tuh Eyang udah kelihatan. Jangan lari-lari nanti kamu jatuh" Tegur Wendy lalu menggandeng tangan Arin supaya putrinya itu tidak berlarian lagi.
Wendy berbinar saat melihat Bapaknya tengah duduk santai di depan rumah sambil meminum kopi. Sedangkan Ibunya menyapu halaman rumah.
Mereka belum menyadari kehadiran Wendy sekeluarga. Sampai suara Arin membuat Bu Kinan dan Pak Tama terkejut. Kopi yang di pegang Pak Tama pun hampir dia tumpahkan karena saking terkejutnya. Tapi senyum mereka merekah saat melihat Arin dengan dress putihnya berlari menghampiri mereka.
"Assalamu'alaikum Eyang!!" Arin memeluk Bu Kinan sampai sapu yang di pegang Bu Kinan jatuh ke tanah.
"Wa'alaikumsalam Nduk cah ayu." Bu Kinan senang bukan main. Di gandengnya Arin mendekati Pak Tama. Wajah Pak Tama berbinar-binar. Memeluk cucu satu-satunya.
Sudah hampir setengah tahun Wendy tidak berkunjung kerumah orang tuanya. Pekerjaan Yogi tidak bisa ditinggal. Yogi mengurus perusahaan peninggalan almarhum Ayahnya yang cukup besar. Sehingga Yogi tidak memiliki cukup waktu untuk berpergian.
Dan mereka kemari bukan untuk berlibur ataupun sambang. Tapi untuk berbicara mengenai perceraian. Wendy tidak tau bagaimana reaksi Bapak dan Ibunya nanti.
"Nduk" Bu Kinan mendekati Wendy lalu memeluk putri satu-satunya. "Gimana kabarnya Nduk? Sehat semua to?" Tanya Bu Kinan masih memeluk Wendy melepaskan rindunya.
"Alhamdulillah Bu, sehat"
"Bu" Yogi mencium punggung tangan Bu Kinan setelah Bu Kinan melepaskan pelukanya pada Wendy. Yogi tersenyum tulus pada Bu Kinan.
"Ayo Wen, di ajak masuk suamimu. Di bikinkan teh . Terus disuruh istirahat." Suruh Bu Kinan dan langsung menggandeng tangan Wendy memasuki rumah.
Yogi mengikuti di belakang sambil membawa koper. Ditatapnya punggung Bu Kinan dan Wendy yang sudah hilang dibalik pintu. Yang dilakukanya ini sudah benar. Dia datang kesini benar-benar ingin menceraikan Wendy. Semoga saja Pak Tama tidak menguburnya hidup-hidup di dalam tanah setelah mengetahui maksud kedatanganya.
"Le.. gimana kabarnya?" Pak Tama mempersilahkan Yogi duduk di hadapanya. Senyumnya masih tidak surut dari wajah tuanya.
"Alhamdulillah sehat Pak. Bapak sendiri gimana kabarnya?" Yogi mencium punggung tangan Pak Tama. Sama seperti yang dia lakukan pada Bu Kinan.
"Alhamdulillah sehat le bapakmu ini, kuat le.. kalau disuruh nggotong karung beras" Gurau Pak Tama, Yogi hanya tertawa menanggapinya.
"Eyang.. Arin mau lihat kebo." Rengek Arin bergelayut di lengan Pak Tama.
"Udah hampir maghrib Arin. Besok lihatnya sama Papa ya." Yogi meraih tangan kecil Arin. Dan mendudukan Arin di pangkuanya.
"Iya Pa. Yaudah Arin mau bantuin Mama sama Mbah buat teh" Arin berlari menuju dapur. Katanya sih ingin membantu. Tapi Yogi yakin jika Arin hanya merecoki Wendy dan Bu Kinan. Seperti tidak tau Arin saja.
*****
"Lama banget to nduk kamu sambang kesini? Kangen Ibu nduk." Wendy tersenyum dan menyenderkan kepalanya di bahu Bu Kinan.
"Mas Yogi sibuk Bu. Arin juga baru masuk SD. Maaf ya Bu." Jelas Wendy
"Ora popo nduk. Seng penting kamu sehat. Ibu wes senang nduk"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasiaku [ COMPLETED ]
Romance"Biarkanlah, aku yang menanggung ini sendiri. Ia terlalu larut dalam kecemburuannya pada diriku. Namun, aku sedih ketika dia datang bersama putriku dengan wanita lain sebut saja, kekasihnya . Aku cemburu, tak tau aku harus bersikap seperti apa" - We...
![Rahasiaku [ COMPLETED ]](https://img.wattpad.com/cover/205361765-64-k90366.jpg)