6

4.4K 389 10
                                        

Jimmy : Wendy

Wendy : Tumben Mas? Kenapa?

Jimmy : Nggak papa Wen, lagi iseng aja. Oh iya besok aku ada kerjaan di Jakarta 3 hari. Kamu mau oleh-oleh apa Wen?

Wendy : Nggak mau apa-apa Mas. Nanti ngerepotin

Jimmy : Buat Augie Wen, dia lagi pengen apa?

Wendy : Beneran nggak usah Mas. Nanti Augie manja

Jimmy : Aku seneng lho Wen, Augie manja sama aku

Wendy : Yaudah nanti aku tanyain ke Augie Mas dia mau apa

Jimmy : Udah dulu ya Wen. Udah malem.. selamat tidur Wendy ku😙

Wendy : Mas Jimmy genit banget deh

Jimmy : 😆😆

___



"Bundaaaaaaa" Wendy menoleh kebawah di mana Augie menarik-narik roknya sambil menguap. "Bunda kok cenyum-cenyum cendili cih? Kata Mbak Yelii cenyum cendili itu kayak olang gila. Olang gila itu apa cih Bun?"

Waduh.. Yeriiiiiiii. Ini anak aku diajarin apa aja sama dia. Batin Wendy.

Kemudian dia mengangkat Augie kepangkuanya. Menggoyangkan badan Augie kekanan dan kekiri.

Augie sampai menguap ngantuk karena Wendy mengelus rambut tebalnya terus-menerus. Tapi Augie tetap kekeuh dengan pertanyaanya. Wendy sampai geleng kepala. Satu lagi sifat yang Yogi turunkan untuk Augie. Keras kepala dan selalu ingin tau. Istilah gaulnya sih kepo.

Tapi mungkin Bapaknya lebih kepo sih hihi. Wendy memukul kepalanya sendiri. Kenapa ujung-ujungnya jadi mikirin Yogi sih?

"Augie bobok ya. Besok katanya mau ikut Bunda kepasar. Kalau Augie kesiangan Bunda tinggal"

"Ini kan Augie mau tidul Bunda. Tapi Bunda elus-elus kepala Augie ya" Rengek Augie meletakan kepalanya ke bahu Wendy. Tanganya dia lingkarkan ke perut sang Bunda.

"Yaudah Bunda elus-elus." Ucap Wendy sambil mengelus naik turun punggung Augie. Sampai napas Augie teratur yang menandakan sudah tertidur.

Wendy menghela napasnya. Menumpukan dagunya ke puncak kepala Augie. Hari sudah malam. Dia belum ingin tidur. Dan ini menyiksa dirinya. Memaksanya memikirkan Yogi dan Arin. Apa Arin baik-baik aja hidup sama Papanya? Nggak.. bukanya Wendy meragukan Yogi. Tapi Yogi bukan pengacara alias pengangguran banyak acara. Dia memiliki perusahaan yang harus diurus. Wendy takut Arin terabaikan.

Terakhir kali Arin berkunjung kesini. Wajahnya tidak ceria seperti biasanya. Begitu juga dengan Yogi. Lelaki itu semakin kurus dan tidak terawat. Bulu-bulu halus yang biasanya tidak pernah dia biarkan tumbuh di rahangnya. Tapi sekarang tumbuh agak lebat di rahang lelaki itu. Matanya saja sampai hitam seperti mata panda.

Wendy melirik ponselnya yang menyala. Lalu segera mengambilnya dan melihat ada satu pesan. Dadanya bergetar begitu melihat nama Yogi terpampang di layar ponselnya. Pelan-pelan Wendy menyentuhkan telunjuknya membuka pesan dari Yogi yang berjumlah dua.

Mas Yogi : Arin kangen kamu
Mas Yogi : Besok aku ke Jogja. Mungkin sampainya sore

Wendy mendesah kecewa. Jadi hanya Arin yang merindukan dirinya? Yogi tidak? Lagi-lagi Wendy memukul kepalanya yang sudah tidak waras. Ngapain juga Yogi kangen. Toh lelaki itu sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya.

Wendy udah deh.. kenapa kamu jadi kecewa gini sih.

Wendy : Iya Mas.. aku nggak sabar ketemu Arin

Rahasiaku [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang