"Augie mau tau Ayah Augie seperti apa. Mau ketemu Ayah nggak?" Yogi menghentikan langkahnya yang hendak mengambil air minum di dapur saat mendengar suara samar Wendy dari dalam kamar.
Karena mengurung diri seharian di kamar agar tidak bertemu Wendy dan Augie. Membuat tenggorokanya kering. Apalagi suhu badanya yang lumayan tinggi membuat Yogi selalu haus. Gak tinggi-tinggi juga sih.
Sebenarnya kemarin Yogi ingin segera pergi jauh sesuai keinginanya. Tetapi hatinya mengatakan tidak. Siapa tau ia masih mendapatkan kesempatan kedua.
Maaf Wendy sekarang memang sudah ia dapatkan tapi belum dengan Augie. Bahkan putranya itu masih tidak tau kalau Yogi adalah Ayahnya.
Kalau ia pergi mungkin kesempatan ketiga tidak akan ia dapatkan kembali. Dan juga kesempatan-kesempatan lainya.
Yogi mendekatkan kupingnya ke daun pintu. Salahkan rasa ingin taunya yang tinggi disaat-saat seperti ini.
"Mau Bunda. Augie pengen punya Ayah apapun akan Augie lakukan bial bica ketemu Ayah. Augie mau lapot Augie diambilkan Ayah. Augie mau di gendong Ayah seperti naik pecawat Bunda"
Yogi meremas dadanya yang terasa sakit. Sebegitu inginyakah Augie bertemu Ayah seperti dirinya. Apa Augie tidak akan menyesal jika ternyata Ayahnya sebejat Yogi.
"Ayah Augie sekarang dekaaaat banget sama Augie"
"Benelan Bunda? Ayo Bun kita ketemu Ayah, Augie nggak cabal"
"Apa setelah bertemu aku, Augie akan berbicara seperti itu? Aku ini ayah yang nggak berguna. Ayah macam apa aku yang tidak tau jika memiliki anak. Tapi aku janji akan menyayangi anakku melebihi apapun. Aku akan mengganti kesalahan masa laluku. Yang mungkin tidak termaafkan" Batin Yogi merasa perih.
Bukanya datang kepada Augie dan membuka kedua tanganya lebar-lebar. Memeluk putranya, Ia malah bersembunyi karena rasa malu. Ya.. ia memang pengecut.
"Ini foto Ayah Augie, Ayah ganteng kan? Apa sudah seperti bayangan Augie selama ini. Ayah juga tinggi lho. Bisa angkat Augie tinggi-tinggi. Biar Augie bisa melihat bahwa dunia itu indah"
Tidak terasa senyuman Yogi mengembang. Hatinya menghangat, ia yakin di dalam sana Wendy sedang memperlihatkan fotonya.
"Maca Om Gigi, Ayah Augie cih Bun. Augie cayang cama Om Gigi tapi bukan cebagai Ayahnya Augie. Augie cayang Om Gigi kalena Om Gigi baik cama Augie dan cama Bunda. Bunda jangan belcanda. Belcandanya Bunda nggak lucu"
Senyum di wajah Yogi perlahan-lahan mulai menghilang. Dugaanya benar, Augie tidak menginginkan sosok Ayah seperti dirinya. Haha.. Yogi tertawa miris. Mana mungkin Augie menginginkan Ayah seperti Yogi, tidak punya otak dan hanya bisa membuat Bundanya sedih dan menangis.
Entah sudah berapa ember air mata yang Wendy keluarkan untuk dirinya.
"Lihat deh. Hidung Augie, bibir Augie, Mata Augie Semua mirip Ayah Yogi. Orang yang Augie anggap Om Gigi itu Ayah Augie"
"Nggak ah Bun. Kalau Om Gigi Ayahnya Augie Kok Om Gigi nggak peluk Augie kayak Om Gigi peluk Mbak Arin. Belalti Om Gigi Ayah Mbak Arin Bun, Bukan Ayah Augie"
"Augie"
"Augie ngantuk Bunda, becok aja ya kita ngoblol tentang Om Gigi. Becok kan Augie cekolah pagi Bunda. Tapi... Augie nggak mau belangkat cama Om Gigi lagi. Augie mau cama Bunda aja ya.."
Kaki Yogi terasa bergetar. Lidahnya juga terasa kelu hanya sekedar untuk memanggil Wendy agar keluar dari dalam sana.
"Aku.. aku nggak diterima. Aku nggak diterima" Gumam Yogi bingung. Menjambak rambutnya frustasi. "Augie anggap aku hanya Om nya. Bukan Ayahnya. Haha lagian siapa sih yang mau mempunyai Ayah nggak bertanggung jawab seperti aku" Gumamnya lagi, kali ini Yogi tertawa dipaksakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasiaku [ COMPLETED ]
Romance"Biarkanlah, aku yang menanggung ini sendiri. Ia terlalu larut dalam kecemburuannya pada diriku. Namun, aku sedih ketika dia datang bersama putriku dengan wanita lain sebut saja, kekasihnya . Aku cemburu, tak tau aku harus bersikap seperti apa" - We...
![Rahasiaku [ COMPLETED ]](https://img.wattpad.com/cover/205361765-64-k90366.jpg)