"Mama nggak lupa ulang tahun Arin kan?"
"20 September kan? Mana mungkin Mama lupa. Arin minta apa sayang?"
"Arin nggak minta macem-macem kok Ma. Arin cuman mau Mama ada disamping Arin. Lihat nih Ma"
"Ya Allah sayang. Ini di cakar kucing garong apa gimana? Sakit nggak sayang?"
"Sakit sih Ma. Ini di cakar sama temen-temen aku. Terus aku tonjok muka mereka. Abisnya dia ngata-ngatain Mama sih. Katanya Mama selingkuh. Tapi kan kenyataanya Papa yang selingkuh. Iya kan Ma?"
Yogi menghentikan suapannya. Ish.. apa-apaan Arin itu. Malah bercerita ngalor-ngidul. Apalagi yang buruk mengenai Yogi. Kalau bukan anaknya sudah Yogi lelepin aja deh.
Sudut bibir Yogi tertarik keatas. Nggak papa deh Arin ribut dan membahas apa saja. Yang terpenting suasana canggung antara dirinya, Wendy dan Jennie lenyap.
Apalagi Jennie yang sepertinya terganggu dengan keberadaan Wendy. Ya Yogi akui, Wendy lebih cantik dan keibuan sekarang. Benar apa yang sering dikoar-koarkan orang-orang. Bahwa pasangan akan lebih cantik berkali lipat setelah kita tidak memilikinya.
"Tuh kan kamu ngelamun lagi !"
Jennie melemparkan sendok nya di atas piring agak keras. Sampai Yogi tersentak dan kembali ke jalan yang benar. Eh gila! Dia baru saja melamunkan Wendy. Setan mana yang merasukinya tadi!
"Maaf Jen"
"Udahlah aku nggak nafsu makan lagi! Makan aja tuh semuanya! Sepiring-piringnya kalau perlu" Jennie menghentakan kakinya keras dan melirik Wendy tajam sebelum pergi dari ruang makan.
"Emang aku debus apa! Di suruh makan piring" Gumam Yogi melanjutkan acara makanya. Males banget ngejar-ngejar orang ngambek. Masakan Wendy sayang untuk dilewatkan.
Nah kan Yogi mulai nggak waras lagi!
"Yogi kok aku nggak di kejar sih!!!! Sebel!!!" Teriak Jennie yang muncul lagi di tengah-tengah mereka.
"Kamunya tadi yang mau pergi. Aku sih masih laper"
"Terserah kamu deh Yogi ! Jangan harap tidur sama aku!"
Heh tidur sama Jennie ? Yogi terkekeh. Dia kan bisa tidur di sofa. Di lantai. Di mana aja. Yang penting matanya merem.
Wendy mengerjapkan matanya beberapa kali. Menyaksikan perdebatan antara Yogi dan Jennie. Kepalanya terasa pusing dan jantungnya bekerja dua kali dari biasanya. Wendy meletakan sendoknya pelan. Sebelum meminum air putih cepat-cepat. Siapa tau sesak di dadanya bisa berkurang.
"Kejar tuh Pa, tante Jennie" Arin melirik Papanya malas.
"Nggak ah. Papa kan masih mau makan" Dengan cueknya Yogi menambah nasi dan ayam sambal serta sayur nangka ke dalam piringnya. Lalu memakan itu dalam diam. Sesekali dia mengintip Wendy melalui ekor matanya. Hah... Yogi sepertinya memang sudah gila. Dia sama sekali tidak bisa melepaskan pandanganya ke arah Wendy duduk.
Pipi Wendy yang chubby. Matanya yang besar dan jernih. Bibirnya yang.. arghhh... batin Yogi berteriak frustasi. Cukup! Dia tidak mau menatap Wendy lagi. Atau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Enak banget ya Pa? Sampai nambah gitu." Arin tertawa melihat sang Papa yang terus menambah. "Enak mana sama nasi goreng garam bikinan tante Jennie?"
"Nggak boleh gitu sa-"
"Ya enak masakan Mamamu lah" Ujar Yogi cuek memotong ucapan Wendy. Dia mengambil sepotong ikan asin dan menambahkan kedalam piringnya. Lagi!
Wendy meremas dress baby pink yang dia pakai. Matanya tidak bisa lepas dari Yogi yang makan layaknya kesetanan. Wendy jadi heran. Apa perutnya terbuat dari karet? Habis nambah berkali-kali sih. Nggak takut sakit perut apa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasiaku [ COMPLETED ]
Romantik"Biarkanlah, aku yang menanggung ini sendiri. Ia terlalu larut dalam kecemburuannya pada diriku. Namun, aku sedih ketika dia datang bersama putriku dengan wanita lain sebut saja, kekasihnya . Aku cemburu, tak tau aku harus bersikap seperti apa" - We...
![Rahasiaku [ COMPLETED ]](https://img.wattpad.com/cover/205361765-64-k90366.jpg)