Wendy menggandeng Arin dan Augie yang masih saling memandang penuh kekesalan. Bibir keduanya sama-sama mengerucut. Augie masih berusaha memukul Arin, Begitu juga Arin.
"Malu tuh diliatin Papa" Bisik Wendy, Keduanya langsung terdiam. Tapi tak lama kembali bertarung lagi. Bagi Wendy, Kedua anaknya ini seperti ayam jago. Disetiap kesempatan selalu sana bertarung.
"Iya Bunda. Mbak Arin kan emang nggak punya malu. Suka marah-marah juga. Augie liat sms nya langsung marah-marah Bun. Padahal kan Augie cuman kepo. Kenapa Mbak Arin senyum-senyum kayak orang gila. Sebelum gila beneran harus Augie selametin Bun" Kata Augie, membuat mata Arin melotot kesal.
"Penyakit kepo kamu tuh harus dimusnahkan !" Kesal Arin memajukan bibirnya. Augie tertawa mengejek, menjulurkan lidahnya.
Yogi terbahak.
"Udah-udah.. kalian berdua kok jadi kayak Tom and Jerry. Sini sama Ayah" Kata Yogi sambil menepuk-nepuk pahanya.
Arin mendengus kesal, menghentakan kakinya di lantai berkali-kali. "Papa cuman manggil Augie ! Arin maunya manggil Papa bukan Ayah !"
"Ayah !!" Kata Augie tak terima.
"Papa !"
"Ayah.. pokoknya Ayah"
"Papa. Titik nggak pakek koma"
Mereka berdua kembali berdebat menentukan panggilan untuk Yogi. Arin berkacak pinggang raut wajahnya semakin masam. Sedangkan Augie menggoyangkan tangan Wendy meminta pembelaan.
"Stop nak.. stop!" Kata Yogi mengintrupsi dengan menarik lengan kedua anaknya. Lalu memeluk keduanya yang masih cemberut. Dan saling melotot satu sama lain. "Gimana kalau kalian panggil Ayah Papa? Adil kan? Jangan berantem lagi oke. Sekarang Ayah Papa mau lihat kalian baikan" Katanya lagi sambil mencium pipi Arin dan Augie.
Kemudian Arin terlebih dulu mengangkat kelingkingnya. Walau masih kesal, Augie menjulurkan kelingkingnya juga. Mengaitkanya ke kelingking Arin.
"Nah, kalau gini kan enak diliat. Yaudah kalian main dulu ya. Ayah Papa mau berduaan dulu sama Bunda Mama" Yogi mengacak rambut Augie yang sudah kembali tertawa.
Akhirnya mereka berdua pergi sambil bergandengan. Meninggalkan Wendy dan Yogi yang berdiri canggung. Lalu Yogi berdiri dan duduk, Yogi menatap Wendy tatapanya seakan mengatakan.
'Duduk-di-depan-aku-sekarang-jelasin-semuanya!'
Wendy memutar bola matanya. Seharusnya ia yang melontarkan tatapan seperti itu kepada Yogi. Tapi Wendy tetap duduk dihadapan Yogi. Ditatapnya mata Yogi yang menatapnya tajam.
Susah payah Wendy menelan ludahnya. Dihadapanya, Yogi terlihat sangat tampan dengan kemeja putih dan rambut yang dibiarkan menuruni keningnya. Ditambah bulu-bulu halus dirahang Yogi. Wendy jadi gatal ingin menyentuh dan merasakan telapak tanganya bergesekan dengan rahang itu. Pasti menyenangkan.
"Kedip dong Wen, Ngeliatnya sampe nggak kedip gitu. Makin ganteng ya?" Kata Yogi sambil tertawa geli melihat Wendy yang tersipu.
Yogi mengambil tangan Wendy yang berada di atas meja. Menatap jari-jari kurus Wendy dengan tatapan sedih.
Kenapa kamu makin kurus sayang ? Apa kamu nggak makan dengan benar ?
"Makasih udah maafin aku Wen" Yogi mencium punggung tangan Wendy. Lalu ditempelkanya telapak tangan Wendy ke rahangnya. Merealisasikan khayalan Wendy tentang menyentuh rahang Yogi.
Tangan Wendy bergerak mengelus rahang Yogi. Yogi menutup matanya nyaman. "Aku belum maafin Mas. Sebelum Mas cerita kenapa Mas ninggalin kami"
Yogi menghela napas berat. "Kamu tau kecelakaan yang bikin hidung aku patah dua belas tahun yang lalu?" Wendy mengangguk. "Menurut polisi itu kecelakaanya nggak wajar Wen, Ada dalang dibalik kecelakaan itu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasiaku [ COMPLETED ]
Romance"Biarkanlah, aku yang menanggung ini sendiri. Ia terlalu larut dalam kecemburuannya pada diriku. Namun, aku sedih ketika dia datang bersama putriku dengan wanita lain sebut saja, kekasihnya . Aku cemburu, tak tau aku harus bersikap seperti apa" - We...
![Rahasiaku [ COMPLETED ]](https://img.wattpad.com/cover/205361765-64-k90366.jpg)