26

4.3K 234 5
                                        

"Sayang."

"Hmm."

"Bagi dikit ya?"

Plak

Wendy memukul tangan Yogi yang asal comot kentang gorengnya. Ih enak aja. Dia yang beliin juga, masa diminta lagi.

"Mas Yogi gimana sih! Kalau tadi pengen ya harusnya beli sendiri dong. Aku nggak kenyang nanti." Mengusap dadanya agar sabar. Yogi mengganti saluran tv untuk menyabarkan dirinya sendiri.

Melirik ke arah Wendy yang sangat menikmati kentang goreng yang dibelikannya. Yogi cemberut sebal. Ya apa salahnya kan dia minta dikit. Masa yang beli nggak boleh minta.

Cukup lama mereka saling diam diaman. Sebenarnya Yogi sendiri yang merasa kesal. Sedangkan Wendy sibuk dengan dunia perkentangannya sambil membuka majalah tupperware. Ya biasalah ibu ibu.

"Aduh Mas kaki aku pegel nih. Pijitin ya." Wendy tersenyum manis. Ck... kentangnya udah habis aja nyariin Yogi. Kenapa coba nggak sekalian minta pijit sama kentang. "Mas nggak mau?!" Suara Wendy naik beberapa oktaf melihat Yogi berdecak dan bermuka masam.

"Siapa juga yang buat aku pegel pegel gini! Kamu juga kan! Sekarang kamu nyebelin banget."

"Kok ngegas sih. Ya kan kamu mau juga aku apa apain." Meski diucapkan dengan suara yang tidak ngegas. Wendy meraih bantal sofa dan memukul kepala Yogi yang pasrah saja menjadi bahan bullyan Wendy.

"Fitnah!"

"Yang hamil siapa? Kamu kan. Jadi kamu yang doyan." Ujar Yogi santai. Tanpa tau Wendy ingin sekali memutilasi suaminya. Untung ganteng. Sabarin Wendy.

"Terserah!"

Bangkit dari duduknya. Wendy menghentakkan kakinya dihadapan Yogi. Saat ingin pergi pinggangnya ditarik dan dipeluk dari belakang. Pelakunya siapa lagi kalau bukan si penyumbang Yogi.

Yogi meletakan telapak tangannya diperut Wendy yang masih datar. Mengelusnya lembut hingga Wendy tenang dan memilih bersandar di dadanya.

Hormon ibu hamil memang mengerikan. Yogi sampai tidak habis fikir. Istrinya yang kalem bisa jadi bar bar gini. Apa apa ngegas. Apa apa ngegas. Tapi Wendy memang selalu begini saat hamil. Sangat sangat sangat sensitif. Yah ngeselin lah intinya. Bikin pengen mutilasi orang.

"Anak kita sedih nanti kalau Bundanya marah terus." Yogi menyusupkan kepalanya ke leher Wendy Dan menciumnya gemas.

"Ayahnya suka mancing mancing."

"Masa?"

Wendy mendengus menyikut rusuk Yogi yang tertawa lepas. Kalau saja ada penghargaan kategori suami paling tidak peka. Mungkin Yogi bisa masuk kedalam nominasinya.

"Mas, aku laper."

Alis Yogi terangkat. "Terus?"

"Kok terus sih!"

"Lha kan aku nanya. Jawab aja apa susahnya."

"Tuh kan kamu sekarang nyebelin banget. Nggak peka." Yogi tetap menahan pinggang istrinya yang sudah umek mau lepas dari pelukannya.

"Iya iya mau makan apa? Hari ini aku siap jadi kacung Nyonya Yogi." Yogi mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Daripada repot repot keluar lebih baik pesan lewat gofood saja.

"Pilih aja." Menyerahkan ponsel ketangan istrinya. Yogi memilih memeluk Wendy yang semakin pelukable.

Tidak sampai hitungan detik. Ponsel kembali ke tangan Yogi.

"Lho nggak jadi?"

"Mas aku pengen makan martabaknya Pak Udin." Wendy memainkan rambut Yogi dengan jarinya. Sedangkan Yogi berpikir keras mengingat siapa itu Pak Udin.

Rahasiaku [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang