19

3.3K 271 7
                                        

Wendy menggelengkan kepalanya geli melihat wajah Yogi yang memenuhi layar handphone-nya. Sementara Wendy memakai kamera belakang sehingga deretan buku-buku Wendy yang memenuhi layar handphone Yogi.

Itu juga yang membuat Yogi cemberut guling-guling tidak jelas. Wendy tidak bisa menahan tawanya. Yogi sudah kaya Augie yang mau beli es krim tapi ga diturutin. Like son.. like father..

"Wen aku kangen sama kamu. Bukan sama buku-bukumu"

"Baru satu hari Mas. Gimana dulu kamu pisah sama aku satu tahun"

"Aku kan udah cerita. Kalau aku koma. Tapi koma aja aku masih kangen. Apalagi sadar. Ayo Wen.. tunjukan dirimu."

Wendy kembali tertawa membuat wajah Yogi tambah suntuk. Coba aja layar handphone bisa ditembus. Yogi bakalan nembus aja.

"Mas Yogi udah kaya host acara cari jodoh aja."

"Jodoh aku udah didepan mata kok."

"Oh buku ya jodohnya?"

"Yang punya buku dong. Siapa ya itu namanya. Kalau ga salah Wendy. Bunda Mamanya Arin sama Augie. Kamu kenal ga?"

Ya ampun. Mas Yogi.. Mas Yogi.. masih ga berubah. Omongan gombalnya itu lho. Pantas banyak yang nyantol. Mulutnya aja manis banget. Ampun-ampun deh.

"Mas siapa ya? Salah sambung."

Tiba-tiba hening. Yogi hanya duduk diam seperti sedang melakukan foto ktp.

"Wendy"

Tiba-tiba Yogi memasang wajah serius. Wendy pun sampai menegakan tubuhnya karena mode serius dari Yogi. Tapi kamera Wendy masih menghadap rak-rak buku.

"Iya?"

Posisi Yogi berubah menjadi berbaring. Lelaki itu menutupi matanya dengan lengan. Wendy sampai melongo dibuatnya. Dikira mau ngomong serius. Nyatanya zonk.

"Aku galau Wen. Merana. Aku udah tarik napas buang napas supaya ga kangen-kangen banget. Tapi masih kangen." Ujar Yogi memelas.

Wajah Wendy berubah gantian cemberut. Dia pikir Yogi sedang mode serius. Ternyata sama saja. Hanya kangen... kangen... kangen... yang lelaki itu bahas. Kalau ngomongin kangen. Wendy juga sama. Tapi ga selebay Yogi. Sampai vidio call daritadi ga kelar-kelar. Sukurin kan cuma ketemu sama buku-buku. Bukan pemiliknya.

"Itu galau apa mau lahiran sih Mas pakai buang napas tarik napas." Wendy mengambil bantal dan diletakan dipangkuanya.

"Sekali aja Wen"

"Apa?"

"Tunjukin kaki kamu. Ya wajah kamu lah Wendy. Kamu ini." Yogi di kamarnya jengkel sendiri. Mau liat wajah Wendy aja kok ya sudah banget. Udah diujung tanduk ini. Kalau ga segera dilangsungkan bakalan gawat. Gimana kalau Yogi kejang-kejang waktu ijab gara-gara ga kesampaian liat wajah Wendy?

"Bundaaaaaaa Mama... Ada Ongkel Juan sama Onti Yeri" Teriakan Augie diluar sana membuat Wendy terbahak-bahak. Bukan karena teriakanya sebenarnya. Tapi karena wajah Yogi yang menunduk lesu sambil misuh-misuh.

Perasaan selalu Juan yang mengganggu waktunya dengan Wendy. Ga dikasih lampu ijo buat pacaran sama Yeri baru tau rasa. Biar ikut merasakan gimana merananya dia.

"Ya Allah berilah hambamu ini kesabaran. Wen, ingetin aku buat kunci rumah ya, biar Juan tidur di teras." Yogi menggaruk hidungnya. Kebiasaan lelaki itu saat sedang kesal atau frustasi.

Wendy yang melihatnya jadi tidak tega. Saat Yogi sibuk misuh-misuh sambil menunduk. Wendy merubah posisi kameranya menjadi kamera depan.

"Mas."

Rahasiaku [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang