4

4.2K 364 2
                                        

"Nduk.. suamimu belum bangun to?" Bu Kinan bertanya sambil menampi beras di atas dipan bambu. Wendy yang telah menjemur pakaian. Bergabung bersama Bu Kinan duduk di atas dipan. Wendy menggelengkan kepalanya. Dan Wendy memperhatikan sang ibu menampi beras. Tangan Wendy mengambil alih tampi di pangkuan Bu Kinan. Dia merasa aneh kalau diam dan melihat saja.

"Ndak usah Nduk. Biar Ibu aja.. kamu bangunin suamimu sana. Ajak jalan-jalan pagi supaya sehat" Protes Bu Kinan memegang pergelangan tangan Wendy yang mulai menggoyangkan tampi ke atas dan kebawah.

"Nggak papa Bu, biar aku aja. Lagian Mas Yogi mungkin capek Bu" Bu Kinan menghela napas pasrah. Wendy anak yang keras kepala.

Wendy menatap halaman rumah. Arin berlarian kesana kemari mengejar anak ayam. Mungkin belum pernah di patuk sama induknya. Sebenarnya Wendy ingin menarik Arin supaya tidak mengejar anak ayam lagi. Tapi Arin pasti menangis. Wendy tau kalau Arin menangis pasti akan sulit untuk di berhentikan.

"Yaudah Nduk. Ibu mau bantu bapakmu dulu di kebun" Ujar Bu Kinan sambil menepuk bahu Wendy pelan. Wendy menganggukan kepalanya. Dia melihat Bu Kinan sampai wanita setengah baya itu menghilang dari pandanganya.

Kedua orang tua Wendy memang memiliki kebun sayur kecil-kecilan di belakang rumah. Kalau panen kadang di jual ke pasar. Kadang juga ada tetangga yang membeli. Tidak hanya itu. Kedua orang tua Wendy berjualan makanan matang di pasar. Tapi khusus untuk hari ini. Bu Kinan tidak berjualan. Karena ingin melepas rindu dengan putri dan cucunya.

"Ma.. nasi goreng sosisnya Arin masih ada nggak?" Arin berlari menghampiri Wendy. Dengan ngos-ngosan Arin menyandarkan kepalanya di bahu Wendy. Wendy meletakan tampi yang sudah selesai dia kerjakan. Tangannya terulur mengusap keringat Arin.

"Masih banyak. Kamu mau makan lagi?" Tanya Wendy. Kepala Arin terangguk beberapa kali.

"Kamu bangunin Papa dulu gih. Ajak Papa sarapan bareng"

Sejujurnya Wendy ingin membangunkan Yogi. Tapi... ah entahlah. Wendy merasa dirinya dan Yogi sekarang ada jarak. Seperti ada sekat diantara mereka.

"Nggak ah Ma. Papa susah dibangunin. Arin capek teriak-teriak" Arin mengerucutkan bibir kecilnya. Dia bergelayut di lengan Wendy yang menggeleng-geleng kecil. Memang benar.. Yogi sangat sulit dibangunkan. Hanya orang yang memiliki tingkat kesabaran tinggi yang sanggup membangunkan Yogi sampai lelaki itu terduduk dan berjalan kekamar mandi.

"Yaudah biar Mama yang bangunin. Kamu cuci tangan aja dulu sambil tungguin Mama"

"Iya Ma" Arin berlari masuk kedalam rumah. Meninggalkan Wendy yang menyapu beras-beras yang terjatuh ke lantai.

*****

Sepiring nasi goreng hangat dengan telur ceplok setengah matang di atasnya Wendy letakan di hadapan Yogi. Yogi segera memakanya dalam keheningan sambil sesekali melirik Wendy yang sedang mencuci piring.

"Kapan kamu bilang?"

Suara Wendy membuat Yogi menghentikan suapanya. Dia menatap punggung Wendy. Benar... kapan dia akan mengatakan kepada Bapak Ibu Wendy mengenai perceraianya. Berbagai pertanyaan melintasi kepala Yogi. Apa dia rela melepaskan Wendy? Apa dia sanggup melihat raut kekecewaan di wajah Bu Kinan dan Pak Tama yang sudah dia anggap sebagai orang tua kandung? Paling utamanya. Apa dia bisa hidup tanpa Wendy?

"Nanti... sore" Ujar Yogi membuat Wendy berbalik dan berdiri di samping Yogi. Kepala Wendy mengangguk beberapa kali sebelum melangkah keluar dari dapur.


*****

"Lho... Mbak Wendy pulang Bude?" Gadis mungil berwajah manis itu mencium tangan Bu Kinan. Sambil memberikan rantang berisi makanan.

"Iya Mbak Wendy pulang Yer, ayo masuk ketemu Mbakmu" Bu Kinan menggiring Yeri memasuki rumah sederhananya.

"Mbak Wendy pulang sama suaminya Bude?"

Belum Bu Kinan menjawab pertanyaan Yeri Suara lembut Wendy sudah terdengar terlebih dahulu.

"Udah besar kamu Yer" Yeri berjalan menghampiri Wendy. Dipandanginya wajah Wendy yang semakin cantik dari terakhir Wendy berkunjung ke Jogja.

"Mbak Wendy tambah cantik"

"Nanti Mbakmu besar kepalanya Yer" Sahut Bu Kinan sambil tertawa. Membuat Wendy ikut tertawa. Lalu Bu Kinan kebelakang untuk mengambilkan Yeri air minum.

Sembari menunggu Bu Kinan. Wendy mengajak Yeri duduk di karpet yang menghadap ke arah tv.

"Arin ndak ikut to Mbak?" Tanya Yeri yang sedari tadi tidak melihat kehadiran Arin.

"Ikut Yer, lagi tidur siang" Jawab Wendy. "Gimana kabarnya Bude sama Pakde? Maaf ya Yer, Mbak belum sempet main kerumahmu" Wendy menatap Yeri menyesal. Yeri ini adalah sepupu jauh Wendy.

"Alhamdulillah sehat Mbak. Mas Jimmy juga sehat lho Mbak" Goda Yeri menyebutkan nama Kakaknya yang dulu sempat dekat dengan Wendy. Wendy mengibaskan tanganya malu. "Nanti Mas Jimmy aku kasih tau deh Mbak. Biar main kesini"

"Ini Yer, diminum" Bu Kinan membawa es sirup yang langsung di ambil oleh Yeri.

"Makasih ya Bude"

"Bude tinggal dulu yo Nduk. Pakdemu isih ma'em"

"Nggeh Bude"

Sepeninggal Bu Kinan. Yeri dan Wendy bercerita apa saja yang bisa mereka ceritakan. Wendy terus saja memakan keripik pisang yang baru dia bikin tadi.

"Mbak Wendy... aku pulang dulu ya. Besok kesini lagi" Yeri berpamitan lalu meninggalkan rumah Bu Kinan


*****


Arin menepuk-nepuk punggung Yogi yang tengkurap. Punggung Papanya dia naiki sampai Yogi meringis karena berat Arin yang semakin hari semakin bertambah.

Ceklek

Wendy memasuki kamar. Yogi dan Arin langsung menoleh. Wendy mendekati Arin lalu berbisik sesuatu pada putrinya sebelum Arin berlari keluar dari kamar.

Suasana hening di antara Yogi dan Wendy. Tidak ada yang membuka percakapan. Wendy menggigit bibirnya sambil menyusun kata-kata yang akan dia sampaikan pada Yogi.

"Aku mau bilang sama Bapak Ibu sekarang." Ujar Yogi memecah keheningan. Wendy menolehkan kepalanya sampai pandangan mereka bertemu. Tapi Yogi membuang pandanganya terlebih dahulu.

"Kalau itu maunya Mas nggak papa"

"Besok aku pulang ke Jakarta"

"Aku tetep disini"

"Aku bawa Arin"

Wendy mengangkat kepalanya. Pipinya sudah basah. Dia tidak tau bagaimana hidupnya tanpa Arin dan Yogi. Tapi sebisa mungkin Wendy menyembunyikan wajahnya. Dia tidak ingin terlihat cengeng di depan Yogi.

"Ya Mas. Kalau gitu aku mau bantu Ibu dulu"

Tanpa mendengar jawaban Yogi. Wendy segera pergi dari kamar. Sebenarnya dia hanya ingin menangis. Sebentar lagi dia tidak akan pernah dekat lagi dengan Yogi. Suaminya...





======================

Tbc

Rahasiaku [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang