DUA PULUH SATU

2.7K 171 21
                                    

HAPPY READING

🍁🍁🍁🍁🍁

********

"Gue Abil, gue pacar gadis yang ada disamping gue saat ini!" Ucap Abil dengan tegas, yang membuat suasana kantin bertambah ricau.

Alina memejamkan matanya, sebisa mungkin ia memulihkan pendengaran sekarang. Ingin sekali ia menghilangkan dari kantin saat ini juga, sungguh disini banyak anak-anak kampus yang sedang ramai-ramainya. Entah apa yang terjadi setelah ini, semoga hidupnya akan tenang selama menjalankan perkuliahannya nanti.

Genggaman erat yang ada di tangannya menyadarkan dirinya untuk membuka matanya, melihat sekitar yang benar saja. Sekarang dirinya jadi tontonan para anak-anak kampus yang dengan terang-terangan melihat kearah meja mereka.

Sedangkan kedua laki-laki itu masih saling pandang, awalnya Ilham ingin mengalah setelah melihat tatapan dari ksepupu Tambunnya itu. Tetapi setelah mendengar perkataan berani dari pria yang di cintai oleh sepupunya, dalam benaknya bermain sedikit tak apalah. Demi memperdalam perannya saat ini, Ilham memasang wajah remeh, mendelik tak suka dengan perkataan yang pria yang ada di hadapannya saat ini.

"Setau gue, Alina ngga punya pacar. Bukan begitu Alin hmm?" Ucap Ilham sengit pada Abil dan melembutkan ketika ia bertanya lada gadis Tambun yang saat ini sedang tergagap atas pertanyaan mendadak yang di lontarkan Abang sepupunya, ingin rasanya Alina memiting kepala abangnya itu sekarang.

Melihat terdiaman Alina, Abil mengeratkan lagi pegangan pada tangan berisi yang membuat Alina sedikit merasa sakit.

Disebrang meja sana, segerombolan laki-laki penasaran dengan keributan yang dibuat oleh kedua laki-laki itu, yang salah satunya adalah sahabat mereka sendiri. Bima yang melihat wajah sahabatnya seperti terpancing emosi oleh anak kedokteran itu dengan cepat ia berdiri, berlari menghampiri keributan yang ditimbulkannya oleh kedua laki-laki itu.

"Wow.. woow. Sorry sorry gaes. Ini kampus kalo kalian lupa, kalo mau ribut jangan disini, di luar lebih baik" ucap Bima menyadarkan keduanya atasan keributan yang terjadi di kantin karena ulah mereka yang membuat mereka berdua jadi tontonan gratis para penghuni kantin saat ini.

Ilham mendengus, ekspresi terlihat tak kalah emosi dengan Abil yang sedari tadi sudah mati-matian ingin sekali mengajar pria yang ada di hadapannya saat ini. Tetapi, otak pintarnya selalu berhasil menguasai emosinya agar tetap stabil. Apa lagi dengan jabatan yang ia punya sangat tidak pantas baginya mencontohkan yang tidak baik untuk para juniornya nanti, jangan lupakan kakinya saat ini sedang tidak sehat.

Bima menepuk pundak sahabat agar kawannya itu sadar, kalo dirinya jadi pusat perhatian dari orang-orang di kantin.

"Ekhem..." Rasanya tenggorokan Alina saat ini begitu kering. Sampai-sampai ia ingin berbicara pun rasanya sangat susah.

"Bang Ilham pulang aja duluan, nanti kita bicarakan dirumah. Alin masih ada urusan sama ka Abil. Abang pulang aja, nanti Alina kabari lagi" ungkap Alina pada akhirnya setelah ia bisa menguasai dirinya agar terlihat baik-baik saja.

Ilham mengangguk sambil tersenyum kearah sepupunya itu, dan menatap tajam pada pria yang sedari tadi tak melepaskan sedikit pun tangannya pada gadis di sampingnya.

"Ok, Abang tunggu kabar dari kamu" ucap Ilham mencoba merilekskan ekspresinya "kamu hati-hati, kalo ada apa-apa kabari Abang" pesan Ilham sengaja pada Alina, sambil melirik kearah ketua BEM itu yang masih memasang wajah datarnya saat ini.

Alina mengangguk patuh membalas senyum Ilham, tak sadar bahwa pria yang disampingnya mendengus tak suka. Ilham sudah melangkah meninggalkan mejanya, hanya beberapa langkah pria itu berbalik menghadap kearahnya lagi yang membuat gadis itu menatap bingung untuk apa lagi orang itu balik lagi.

Ilham hanya berdiri di tempatnya, melihat kedua mahluk yang masih berdiri disana. "Oouh.. iya, mamanya nyariin kamu. Katanya dia kangen masak  bareng kamu, disuruh mama buat main kerumah nanti" ucap Ilham dengan lembut yang di akhiri sebuah senyuman lembut bagi Alina tetapi berbeda arti bagi Abil. Pria itu melihat senyuman meremehkan untuk dirinya, seperti sengaja anak kedokteran itu pamer bahwa kedekatannya dengan gadis Tambun itu tak main-main.

"Hmm... Salam balik buat mama juga" balas Alina santai, ia tak tau bahwa perkataannya itu bisa membuat opini-opini baru orang lain yang tidak-tidak dalam pemikiran semua orang bahwa dirinya ternyata begitu dekat dengan keluarga Ilham sampai-sampai panggilan pun sama dengan pria itu.

Ilham tersenyum puas, tatapan tajam pada pria itu. Yang seperti ia berhasil bermain dengan ketua BEM yang terkenal dingin seantoro kampusnya, membuat pria itu terlihat menahan emosi yang begitu jelas terlihat di wajah tegas pria itu. Sekali lagi ia membuktikan bahwa dirinyalah yang unggul disini. Setelah puas melihat bermain, Ilham meninggalkan kantin itu dengan senyuman lebar. Ia pikir ia bisa jadi aktor yang sukses, karena begitu sangat sukses menjalankan peran seperti tadi.

Setelah menghilangkannya tubuh Ilham dari pandangan matanya, Alina gadis menghembuskan napasnya lega. Yang gadis Tambun itu tak sadari, bahwa laki-laki yang di samping masih terlihat menahan emosi melihat kearah menghilangkan Ilham di pintu kantin yang sudah tidak ada disana. Sampai sebuah elusan lembut di lengannya bisa mengalihkan pandangannya kearah gadis Tambun yang sudah duduk di kursinya menyuruhnya untuk duduk kembali ke tempat semula.

Suasana kembali seperti biasa lagi, yang tadinya mereka diam hening tanpa suara keributan karena begitu penasaran untuk pertama kalinya ketua BEM mereka yang tidak pernah terlihat ribut dengan mahasiswa lain, apa lagi masalah ini karena seorang wanita. Membuat mereka begitu besar rasa keingintahuan mereka dengan apa yang terjadi tadi.

Alina mengedarkan matanya sekeliling kantin, banyak yang berbisik-bisik melihat kearahnya saat ini. Ia merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh tadi, sampai sebuah suara bas yang terdengar tegas membuatnya tersadar bahwa suasana laki-laki itu sedang tidak baik.

"Kita harus bicara!" Ucap Abil tegas, tak ada senyum sedikit di wajah tampan pria itu yang sebelumnya begitu ramah waktu pertama kali laki-laki itu menghampiri mejanya. Bukan hanya Alina yang merasa takut dengan suara itu, kedua sahabat gadis itu pun menelan ludahnya setelah keributan yang tadi membuat mereka berdua begitu terkejut dan mendengar suara tegas ketua BEM itu secara langsung di hadapannya mereka membuat nyali kedua menciut seketika. Berharap sahabat chubby nya akan baik-baik saja setelah ini.

"K_ka"

"Bangun, ikut dengan ku sekarang!" Ucap Abil pelan sangat pelan tetapi terdengar menyeramkan di telinga yang mendengar langsung.

"Enyaaaak..... Anak gadis mu takuuut. Tolong enyaaak"





























TBC

Hai... Kembali nih.
Seneng kaga? Moga suka iya, baru nulis biasa kalo typo maafkan maklum blum aku baca ulang langsung aku update demi kalian para sahabat setia ku😅😘

Eehh... Btw, nanti mampir di sebelah iya, itu loh sih BUKTI bapak enyaknya Abil bakal ada part bonus super bonus Mega bonus loh hahaha.. berasa Desta gue🤣

Tonight maniaaa!!! MANTAP🤣

Moga suka
Salam hangat
Sing_ki😀

12-11-2019

RASA YANG SAMA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang