BLURB :
Kabar pernikahannya menjadi sebuah kejutan. Membuatku merasa hilang harapan dan teringat akan suatu kenangan.
Ketika jarak tercipta karena suatu keadaan yang tak diharapkan, hingga memisahkan aku dengannya. Masa sekolah yang penuh kenangan I...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bandung, 26 Agustus 2020
Pagi ini, tepatnya di jam 10 Pagi. Aku dan Aris berada di Bandar Udarah Internasional Hussein Sastranegara, menunggu jam keberangkatan kami ke Medan.
Setelah menyerahkan tiket pesawat, pemeriksaan barang dan juga boarding, kami duduk di kursi tunggu sambil berbincang mengenai rencana kami setelah sampai di Medan.
Perhatian-perhatian... kepada penumpang pesawat udara Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-633 tujuan Medan dipersilahkan menaiki pesawat udara melalui pintu nomor satu. Suara pengumuman dari operator Bandara
"Itu penerbangan kita ya bro, yuk," ajakku.
"Yuk," turut Aris.
Kami berjalan menuju pesawat lalu menaikinya. Kami mencari nomor kursi sesuai dengan yang tertera di tiket kami, setelah menemukannya kami menduduki kursi itu.
Tak lama kemudian kami diminta untuk memakai seat belt untuk keamanan, tak lama setelah itu pesawat pun lepas landas.
Beberapa menit setelah lepas landas, aku lihat Aris mulai mengantuk perlahan kelopak matanya hendak memejam, rasa ingin menganggu tidurnya pun meronta-ronta dalam diriku hingga telapak tanganku langsung mendarat ke pipinya lalu mencubitnya.
"Iih... apaan sih bro," kesal Aris
"Baru aja kita berangkat udah tidur aja lu haha," kataku tertawa cekikikan
"Hmm udah deh, jarang-jarang gua bisa tidur di pesawat gini, gua saranin lu juga ikutan tidur, yuk tidur," ajak Aris lalu kembali memejamkan matanya, memalingkan wajahnya dariku.
Apa yang dibilang Aris barusan membuatku tertawa kecil, lalu pandanganku beralih ke jendela pesawat, tampak awan-awan menggumpal dan pemandangan pepohonan hijau juga kelihatan dari atas sini. Benar-benar pemandangan yang indah.
Aku menghela nafas, tersenyum kecil mengingat masa sekolahku, dimana pertama kalinya aku merasakan seperti apa sebenarnya cinta itu.
****
Flashback ON
Oh iya, aku lupa memperkenalkan Namaku. Namaku Ben Alexander Romeo, sebenarnya nama panggilanku Ben tetapi teman-temanku selalu memanggilku Benjol, hingga panggilan itu menjadi panggilan abadi sepanjang Masa karena Wahyu, yang menjadi sahabat Abadiku mulai sejak di bangku Sekolah Dasar sampai sekarang baru saja memasuki bangku SMA.
Sudah dua minggu sejak kami memasuki SMA Budi Murni 2, Sekolah yang terkenal dengan fasilitas pendidikan yang baik dan juga murid yang sangat cerdas, entah mengapa Aku dan Wahyu bisa menjadi murid di Sekolah ini, kami menyadari kalau kami memiliki minat belajar yang kurang dengan kemampuan otak kami yang pas-pasan.
Kring...! suara bel pulang sekolah yang kedengarannya lebih merdu dari suara Raisha.
Kami berbondong-bondong keluar dari kelas, berpencar berjalan ke tujuan kami masing-masing,
Tidak seperti teman-teman lainnya yang pergi ke sekolah bawa motor ataupun mobil, Aku membawa sepeda ke Sekolah, Aku dan Wahyu berjalan memasuki area parkiran sekolah untuk mengambil sepeda Polygon berwarna biru milikku, Kenapa warnanya biru ? Karena biru adalah warna kesukaanku. Wahyu menduduki boncengan sepedaku dan kami pulang bersama.
Rumah bukanlah tujuan utama kami saat pulang sekolah, kami lihat ada Warnet yang ramai,
"Jol, ke Warnet dulu yuk," ajak Wahyu
"Yuk," turutku sambil membelokkan stang sepeda ke arah Warnet.
Kami berjalan memasuki Warnet itu, bukan untuk bermain game online, tetapi untuk menonton orang yang lagi main, karena bagi kami menjadi penonton game online itu lebih baik daripada menjadi penonton story.
Setelah puas melihat orang main game online, kami berjalan keluar dari Warnet tak peduli dengan lirikan tajam dari sang penjaga Warnet.
Kami pun melanjutkan perjalanan pulang, sesampainya di Rumah Wahyu, Wahyu pun turun dari sepedaku, syukurlah ayuhan sepedaku kini menjadi ringan.
"Makasih ya jol," ucap Wahyu
"Iya sama-sama bro," balasku lalu kembali mengayuh sepeda.
Dalam perjalanan pulang, aku mengayuhkan sepedaku dengan santai, terlihatku sebuah gulungan kertas berwarna biru sekejap membuatku berhenti.
Awalnya aku mengira itu duit lima puluh ribu, ternyata aku salah, sekejap senyum sumringah ku mendatar lalu aku menuruni sepeda, mengambil gulungan kertas itu lalu memperhatikannya.
****
Sinar fajar kembali hadir menyapa dengan memberikan kehangatan sinarnya. Aku yang sudah bergegas untuk pergi ke sekolah dengan berseragam yang rapi, mengambil topi kupluk rajut berwarna biru dari lemari lalu memakainya sambil berjalan keluar dari kamarku
"Bu... Ben pergi ya," pamitku sambil berjalan menghampiri ibu
"Iya hati-hati ya nak, ini bawa bekal nasi rendang jengkol kesukaan kamu," kata ibu sambil memberi bekal dengan senyuman.
"Wah... terima kasih ibu," ucapku sambil salim mencium punggung , mengambil kotak bekal lalu berjalan keluar Rumah.
Aku mengayuh sepeda keluar dari Pekarangan Rumah berangkat ke Sekolah dengan harapan menjalani hari yang baik di Sekolah pada Hari ini.