Happy Reading!💙
Bagian 17
Drama India
Delia, Alana dan Rey hanya bisa melongo menatap dua makhluk itu yang kini kian menjauh. Kerumunan yang tadi berada disekitar itu langsung menghambur mengikuti arah lari Nathan dan Kintan.
"Kintan kok jadi lebay gitu, ya?" tanya Alana menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Delia hanya mengendikkan bahu. Dia berbalik dan langsung memekik ketika Gery tiba-tiba saja ada didepannya. "Astaga ya, Tuhan! Pocong! Pocong! Kyaaaaa!"
"Del, lo apa-apaan, sih. Ini gue Gery, bukan pocong," decak Gery kesal. Melihat wajah Delia yang memasang tampang cengo, tiga orang yang berada disitu langsung tertawa.
"Dasar polos!" ucap Rey lalu menepuk kepala Delia. Entah mengapa, saat itu juga Delia merasakan getaran dalam dadanya.
"Lo darimana, Ger? Beneran muntah lo?" tanya Rey.
Gery mengangguk, "Hmm, ya. Gue udah keseringan kayak gini. Tapi gue bingung, kenapa ,ya, gue masih bertahan sahabatan sama Nathan yang bisa buat gue muntah-muntah dengan kenarsisannya, ck!" decak Gery. Alana dan Rey tertawa, sementara Delia hanya terdiam masih menormalkan detak jantungnya.
"Ehh, terus Nathan dan Kintan mana?" tanya Gery.
"Lah iya! Kita harus susul mereka sebelum Nathan babak belur!" Alana menyahut.
"Apa?!" mata Gery melotot sempurna.
***
"Udah, udah! Please, Kintan jangan kejar gue lagi! Beneran, gua salah, gue minta maaf, tolong berhenti, oi!" teriak Nathan sambil terus berlari.
Kintan di belakangnya masih terus mengejarnya. Nathan tak habis pikir, kaki Kintan itu terbuat dari apa, sih? Batu, baja, besi atau batako? Kuat banget larinya.
"Sumpah, ini yang ngejar gue lebih seram dari setan, deh!" ucap Nathan sembari mengusap peluh di dahinya.
"Apa lo bilang?!" teriak Kintan dari belakang.
"Ya Allah, gue nggak ngomong-ngomong apa-apa kok, Tan!"
Dua sejoli itu terus kejar-mengejar layaknya pasangan dalam drama India. Mereka tak menyadari banyak mata yang menatap mereka disepanjang koridor dengan tatapan geli. Akhirnya, Nathan memasuki taman. Namun, saat sedang berlari, dia berbalik ingin mengetahui apa Kintan masih mengejarnya atau tidak. Tak melihat apa didepannya, Nathan terus berlari dan...
Bruk!
"Aww!"
Nathan tersungkur jatuh ketanah karena kakinya terantuk batu. Dia lalu menyentuh jempol kakinya yang terasa nyut-nyut. Belum lagi hilang rasa sakit pada kakinya, bayangan seorang manusia kini menghalangi pandangannya pada matahari.
Nathan mendongak dengan detak jantung yang mengencang. Tepat ketika matanya berhadapan dengan mata Kintan, dia langsung melotot.
"Dapat!"
"Ampun, Tan! Jangan pukul gue, please!" ucap Nathan mengusap-usap kedua telapak tangannya didepan dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Luv U!✔
Fiksi RemajaKeseharian Delia dan dua sahabatnya selama bersekolah di SMA Pelita Unggulan Pengalaman Delia memiliki pacar pertama yang sukses membuatnya galau selama sebulan sehingga kedua temannya repot berpikir bagaimana cara membuat Delia move on. Dan ... P...
