Entah Nayeon yang terlalu bucin atau mereka yang terlalu pandai bersandiwara.
Ditulis selama bulan Desember 2019, dalam rangka mengikuti 31 Days Writing Challenge.
Cover by rozeusz
Kalau bukan paksaan Prof. Wijaya, Naya tidak akan berminat untuk hadir pada acara yang sebenarnya ditujukan untuk para dosen dan staf akademik tersebut.
Awalnya pun Naya sempat menolak karena merasa dirinya bukan bagian dari mereka, tetapi pria yang pernah menjadi dosen pembimbingnya saat menempuh kuliah strata satunya tersebut terus memaksanya untuk datang dan di sinilah Naya saat ini di antara kerumunan orang-orang yang tidak begitu ia kenal.
Karena merasa terasing di antara kerumunan, Naya pun memilih untuk memisahkan diri di dekat tangga yang agak terpisah dengan tamu lainnya sambil menikmati beberapa panganan yang telah ia ambil sebelumnya.
Asyik dengan kesendiriannya, terdengar beberapa langkah kaki yang berjalan menuruni tangga. Hal itu memang sesuatu yang biasa, tetapi yang mereka bicarakanlah yang menarik perhatiannya.
"Kudengar Rektor akan datang bersama keluarganya."
"Termasuk anaknya?"
"Yang kudengar sih begitu."
"Gosipnya, anaknya sangat tampan."
"Tapi bukannya dia hanya anak angkat?"
"Masa?"
"Iya. Waktuitu pernah ada yang cerita kalau istri rektor itu gabuk."
Naya masih ingin mendengar pembicaraan ketiga orang tersebut, sayangnya mereka telah berjalan menjauh dari tempatnya menyendiri.
Tak lama, orang-orang mendekat ke arah pintu dan menyambut pak Rektor dan keluarganya. Naya sendiri sudah beberapa kali bertemu dengan rektor kampusnya tersebut, tetapi tidak pernah tahu-menahu tentang keluarganya.
Naya sebenarnya cukup penasaran, tetapi ia sadar siapa dirinya di pesta ini sehingga Naya memutuskan untuk diam di tempatnya saat ini.
Saat kerumunan itu berpindah tempat, seseorang tampak berjalan ke tempat Naya duduk, lelaki yang kini mengenakan baju batik sutera dan celana bahan tersebut tenyata cukup terkejut akan kehadiran Naya di sana.
"Bu Naya?" panggilnya sambil tersenyum yang mencetak lesung pipitnya.
"Dia lagi?" pekik Naya dalam hati, tidak menyangka kenapa ia dapat bertemu Hidan untuk kesekian kalinya. Bedanya, pria itu kini tampak lebih mempesona tanpa baju lusuh dan jin sobek yang biasa Hidan kenakan.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Naya dengan sinis, mungkin sedikit curiga jika mahasiswanya itu menyusup ke acara ini.
"Aku—"
Ucapan Hidan menggantung karena seseorang dengan terburu-buru menghampiri mereka, "Den, dipanggil sama Bapak."
"Tunggu sebentar ya, Pak." Hidan membiarkan orang tadi sedikit menjauh lalu balik menatap Naya yang masih bertanya-tanya dalam hati kenapa mahasiswa urakan tersebut bisa di sini.
"Gak usah bengong gitu dong, Bu Galak, ntar kesambet kan saya juga yang repot," ucap Hidan yang berbalas plototan tajam dari Naya.
"Kamu?"
"Ganteng. Iya, Bu, tau kok."
"Sudahlah." Naya sudah berencana untuk pergi, tetapi mahasiswa semester tiga tersebut menahannya.
"Gak usah. Aku aja yang pergi. Bye, Bu. Jangan kangen sama Hidan yang ganteng."
Tak mengacuhkan ucapan Hidan, Naya memilih untuk ke meja dessert yang dari tadi tampak menggoda imannya. Saat yang sama tiga orang nampak naik ke atas panggung.
Pria berusia lima puluh tahunan yang berdiri di depan mik dapat Naya kenali sebagai rektor kampusnya. Kemungkinan wanita cantik di sampinya adalah istrinya dan pria yang baru saja berpisah dengannya adalah.....
Tbc....
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mulai banyak yang menyerah. Aku gak dong 😅 walaupun makin gak tau mau ke mana ceritanya.