Entah Nayeon yang terlalu bucin atau mereka yang terlalu pandai bersandiwara.
Ditulis selama bulan Desember 2019, dalam rangka mengikuti 31 Days Writing Challenge.
Cover by rozeusz
"Loh, itu bukannya cowok yang waktu itu, ya? Aku kira itu pacar Ibu, ternyata bukan," komentar Hidan yang tidak ditanggapi oleh Naya. Mungkin karena cukup sering tak diacuhkan oleh Naya, Hidan pun memilih untuk tutup mulut dan sibuk memperhatikan angka lantai yang mulai berganti seiring lift yang bergerak naik.
Di lantai enam, pengguna lift lainnya keluar dan menyisakan Naya dan Hidan di dalamnya. Pria dengan tinggi 176 cm itu pun melirik gadis di sampingnya melalui pantulan kaca lift yang sebelumnya tertutup dengan orang di depannya.
Hidan cukup terkejut melihat Naya yang menatap tajam pintu lift seolah dapat menembus dinding besi tersebut, wajahnya memerah serta tangannya yang terkepal seakan menggenggam seluruh amarahnya.
Entah apa yang Hidan pikirkan sehingga dengan beraninya memencet tombol yang menutup kembali pintu lift yang telah tiba di lantai tujuh yang merupakan tujuan Naya lalu memencet lagi angka satu yang merupakan lantai tujuannya sekarang.
Mungkin keberuntungan sedang berpihak pada Hidan, lift terus melaju ke lantai satu tanpa hambatan. Ia pun berhasil menyiah tangan Naya yang hendak menghentikan lift.
"Mau kamu apa sih?" Amarah yang Naya pendam akhirnya meledak juga, air matanya pun mulai tumpah. Ada sedikit rasa sesal dan malu karena menumpahkannya pada orang yang salah, tetapi salah Hidan sendiri yang tak mengerti situasinya.
"Ternyata Ibu galak bisa nangis juga, ya. Daripada nangis mending Ibu temenin aku main."
Amarah Naya cukup berkurang dan berganti jadi keheranan akan ucapan Hidan apalagi pria itu mengatakannya sambil tersenyum.
"Sinting," maki Naya tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran pria yang sebenarnya hanya beberapa tahun lebih muda darinya itu.
Tak menggubris makian Naya, Hidan dengan berani menarik tangan gadis bergigi kelinci tersebut. Mulut Naya yang telah siap dengan omelannya pun terkatup begitu saja akan hangatnya tangan Hidan.
"Apaan sih?" Naya akhirnya kembali pada akal sehatnya dan segera menepis tangan Hidan.
"Kan udah dibilang temenin main."
"Yaudah." Naya pun melangkah masuk lebih dulu ke tempat permainan anak dan meninggalkan sambil merutuki ucapannya, "Naya kamu udah gila."
Setelah Naya masuk ke dalam, ia pun segera menghubungi Alghi untuk tidak menunggunya dan meminta pria itu untuk membayar lebih dulu makanan anak-anak yang lain.
Di sana pun Naya tak melakukan apapun, hanya duduk mengamati Hidan yang sedang beradu tanding basket dengan segerombolan anak kecil.
Tanpa dikomando, pikirannya berkelana pada kejadian di lift tadi. Tara, kekasihnya dan Sonya, yang merupakan sahabatnya. Gadis yang selalu bertengkar dengan Tara saat mereka berada di tempat yang sama. Naya tak pernah menyangka jika Sonya yang disebut oleh ibu Tara malam itu adalah Sonya yang sama dengan yang ia kenal.
"Kenapa dari banyaknya pemilik nama Sonya harus Sonya yang itu?"
Naya yang kembali melow tidak menyadari jika di depannya kini ada cup es krim berukuran large.
"Gak mau? Yaudah." Hidan hendak menarik kembali es krimnya ketika karena tak dipedulikan oleh Naya. Akan tetapi, Naya yang baru tersadar akan lamunannya langsung menarik kembali cup tersebut.
"Kata siapa? Sini."
Tbc....
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.