Entah Nayeon yang terlalu bucin atau mereka yang terlalu pandai bersandiwara.
Ditulis selama bulan Desember 2019, dalam rangka mengikuti 31 Days Writing Challenge.
Cover by rozeusz
Sang ibu berjanji akan pulang besok, tetapi dengan satu syarat, Tara harus mengikuti maunya seharian ini. Makanya, pria tampan itu berakhir dengan mengangkut beberapa kantong belanjaan yang sedikit lagi tak muat di kedua tangannya. Ia baru dapat sedikit bernapas lega ketika ibunya mengajak untuk makan siang.
Tara menggeram kesal saat melihat seorang gadis telah menunggu di dalam restoran yang ditunjuk oleh ibunya. Jadi, inti semua ini hanya untuk mempertemukannya dengan Sonya, si gadis pilihan sang ibu.
Jujur saja Tara muak dengan semua ini, di zaman seperti ini masih ada orang yang dengan bodohnya menjodohkan anak mereka. Sayangnya orang itu adalah ibunya sendiri, wanita yang telah melahirkannya di dunia ini.
"Ma, Tara mau bicara berdua sama Sonya, bisa?" tanya Tara dengan sopan.
"Ngomong aja, Sayang."
"Berdua, Ma."
"Oh, ok. Gimana kalau ngomongnya sambil jalan-jalan berdua?" saran ibu Tara yang direspon dengan berbeda oleh Tara dan Sonya.
"Gak usah, Tan—"
"Makasih, Ma."
Tanpa menunggu persetujuan Sonya, Tara langsung menarik tangan gadis jangkung itu keluar dari restoran. Di mata ibu Tara adegan tersebut sangatlah romantis, tetapi tidak bagi keduanya.
"Tar. Tara. Lepasin," pinta Sonya berusaha agar pria yang dijodohkan dengannya sekaligus kekasih sahabatnya itu melepaskan tangannya.
Bukannya terlepas Tara malah makin mempererat cengkeramannya.
"Tara, sakit."
Namun, Tara bertingkah seolah tak mendengar rengekan Sonya. Ia baru melepaskan tangan gadis itu ketika mereka berada di tangga darurat yang sepi.
"Kapan kamu akan menepati janjimu?" tanya Tara sambil menatap Sonya dengan anggara seakan siap menerkamnya kapan pun ia mau.
Sonya sedikit terintimidasi dengan tatapan Tara, tetapi dengan segera ia tepis.
"Maksud kamu?"
"Jangan pura-pura bodoh. Kapan kamu membatalkan pertunangan konyol ini."
Merasa Tara membutuhkannya, Sonya pun tersenyum mengejek. "Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
Sonya tidak menyadari jika tingkah dan ucapannya telah menyulut emosi Tara, hingga tangan kanan pria itu bersarang di lehernya. Jemari Tara yang menekan lehernya secara perlahan membuat Sonya kesakitan.
"Jangan bermain-main denganku. Aku sudah cukup menuruti kemauanmu. Sekarang saatnya kamu membalasnya."
Sonya telah bergerak gelisah karena kekurangan oksigen. Untung saja Tara segera melepaskan tangannya, kalau tidak mungkin nyawanya akan melayang karena kehabisan oksigen.
"Gila!" maki Sonya dengan suara seraknya. Sedangkan Tara hanya mengangkat kedua bahunya sambil mencibir.
Setelah Sonya lebih tenang, Tara kembali menarik tangannya dan membawanya ke restoran tempat ibunya berada. Bedanya, kali ini dengan lembut, tetapi berhasil membuat Sonya ketakutan.
Tbc....
Ini adegan pas Hidan dan Naya liat Tara gandeng Sonya, ya 😬
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.