Entah Nayeon yang terlalu bucin atau mereka yang terlalu pandai bersandiwara.
Ditulis selama bulan Desember 2019, dalam rangka mengikuti 31 Days Writing Challenge.
Cover by rozeusz
Sebenarnya ini sih namanya bukan joging lagi, tetapi kencan pagi. Bukan karena matahari mulai terik dan orang-orang yang memenuhi taman sudah mulai berkurang, tetapi karena begitu tiba bukannya joging, keduanya malah kompak memesan bubur ayam sebagai menu sarapan mereka hari ini.
Begitu pula setelah menghabiskan bubur mereka, keduanya malah memilih duduk di rerumputan sambil cerita ini itu.
"Tara liat baby yang itu deh, gemes banget." Naya menunjuk bayi perempuan yang sedang belajar jalan bersama kedua orang tuanya. Tara paling suka melihat Naya bercerita, soalnya Naya itu ekspresif sangat menggemaskan lebih dari bayi yang tadi Naya tunjuk tadi.
Naya menghentikan ceritanya ketika ponselnya berdering tanda ada panggilan yang masuk. Naya mengambil ponselnya dan melirik nama yang tertera di sana.
"Siapa? tanya Tara karena gadis itu tidak juga menjawab panggilan tersebut.
"Gak usah dijawab," ucap Tara lagi setelah berhasil mengintip id pemanggil di ponsel Naya.
Baru saja meletakkan ponselnya ke mini sling bagnya, ponsel Naya kembali berdering dan menunjukkan nama yang sama.
Karena penasaran, Naya pun mengabaikan larangan Tara dan menjawab panggilan Sonya. Iya itu, Sonya, tunangan pria yang ada di sampingnya ini.
"Ya, halo."
....
"Hah! Apa?" Entah apa yang Sonya katakan di seberang sana sehingga membuat wajah Naya memucat dengan seketika.
"Kamu kenapa? Sonya bilang apa?" tanya Tara khawatir. Pria itu hampir merebut ponsel Naya, tetapi gadis itu lebih dulu menutup sambungan teleponnya dan buru-buru menarik tangan Tara untuk berdiri.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Naya yang sukses membuat Tara kebingungan dibuatnya.
"Hah?"
"Sonya kecelakaan," berusaha untuk menetralkan degupan jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Ya terus?"
"Kan udah dibilang ke rumah sakit." Kalau bukan di saat genting seperti ini, Naya pasti gemas akan lemotnya Tara yang jarang muncul ini.
"Ngapain?"
"Ya lihat Sonyalah, masa beli cilok."
"Gak usah. Paling itu cuma luka berkelukur biar kamu simpati. Lagian lupa apa kamu apa yang sudah Sonya lakukan?"
Naya tentu saja tidak akan lupa, itu adalah salah satu momen yang tidak akan ia lupakan seumur hidup. Momen di mana ia akhirnya ia dapat merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Akan tetapi, Naya juga tidak bisa hanya tinggal diam setelah mendengar Sonya kecelakaan dan sedang dirawat di rumah sakit.
"Inget, tapi ayooo." Karena Naya terus merengek sambil menarik lengan baju Tara, pria itu pun akhirnya mengalah, mengikuti Naya yang kini menarik tangannya agar berjalan cepat menuju parkiran.
Tbc....
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.