Kalian tidak akan menang
Menyerahkan dan jangan ikut campur
Meskipun kalian ikut campur, tapi denganku tetap akan terbalaskan
***
Yunis masih asik dengan bukunya yang sudah penuh coretan, bahkan bel istirahat pun tak ia pedulikan.
Yunis masih harus menunggu kabar dari Nindi tentang cctv yang ada di dekat loker.
Kondisi badan Yunis hari ini sedang tidak baik. Sedari bagi badannya seakan-akan lemas dan ingin sekali izin tidak masuk sekolah.
Yunis menapis semua pikiran buruknya. Ini hanya tidak enak badan, tidak kurang dan tidak lebih, selalu pas seperti biasanya.
Dia kembali berkonsentrasi kepada anagram yang belum selesai juga dia pecahkan dan masih menunggu kabar dari Nindi. Tampaknya Nindi masih berbicara dengan Pakel agar bisa melihat tembakan cctv tersebut.
Kali ini Yunis tak berharap lebih, dia hanya berharap ada sesuatu yang bisa dijadikannya petunjuk kali ini kecuali secarik berisi kalimat acak yang sedari kemarin belum bisa ia pecahkan.
Yunis mengacak-acak rambutnya. Bingung apa yang harus diperbuatnya sekarang, sementara keadaan badannya sedang tidak mendukung untuk melakukan sesuatu secara lebih.
Baru saja Yunis Ingin mengambil ponsel untuk menghubungi Nindi, ponselnya sudah berdering terlebih dahulu.
Yunis segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan masuk. Ternyata itu dari Pelangi.
"Halo Kak Yunis, bagaimana dengan janji kita hari ini? Jadi?"
Yunis menepuk jidatnya. Dia lupa jika hari ini dia ada janji dengan Pelangi untuk mengajarinya Bahasa Inggris hari ini.
Bagaimana ini? Yunis tampak begitu kebingungan. Mengapa semua hal bisa begitu saja dia lupakan dengan mudahnya?
***
"Tadi apa yang mau kamu lihat?" tanya Pak Anjasmara pada Nindi.
"Rekaman cctv dekat loker pak," jawab Nindi langsung.
Pak Anjasmara langsung mengutak-atik layar monitor di depannya. Tak lama muncul video rekaman dari cctv.
"Ini video rekamannya. Seperti yang kamu lihat, layarnya terpotong setengah. Tapi seandainya ada yang ingin di zoom atau di apain terserah kamu ya, saya yakin kamu ngerti cara ngejalaninnya."
"Baik pak terima kasih pak," kata Nindi sambil bergeser sedikit karena Pak Anjasmara beranjak pergi. "Bapak mau kemana?"
"Saya ada urusan sebentar, nanti saya kembali lagi. Nggak papa kan saya tinggal sendiri?"
Nindi hanya mengangguk. Pak Anjasmara pun beranjak pergi dari ruang TU meninggalkan Nindi sendirian.
Seharusnya ruang TU tidak sesepi saat Nindi dan Pak Anjasmara masuk tadi. Tapi karena ada urusan yang penting, seluruh staf TU dipanggil ke aula, entah untuk apa.
Nindi memperhatikan setiap detiknya dengan seksama, namun tidak ada yg didapatnya selain plafon lantai 1 dan layar gelap dibawahnya.
"Sebaiknya gue kirim dulu biar lebih leluasa melihatnya bareng Yunis," pikir Nindi.
Nindi pun menghubungkan ponselnya dengan CPU milik sekolah. Saat ingin mengirimkan file rekaman cctv, Nindi menemukan sebuah file yang menarik perhatiannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Dream, One Destiny
Genç Kurgu"Jika tidak dimulai dari langkah kecil, bagaimana cara mengambil langkah besar?". -Nindi- "Semua butuh waktu dan usaha yang tepat. Jangan terburu buru dan nikmati proses yang ada." -Yunis- Sesuatu mengancam keberadaan sekolah mereka...
