14. Bangkit

464 45 0
                                        

"Siap Ibu yang wangi," Nindi pun segera pergi menuju kamar dan meninggalkan ibunya di dapur.

"Ada ada aja," gumam Ibu Nindi.

***

"Tunggu Yun," teriak seseorang dari arah dalam.

Yunis yang sedang duduk diatas jok sepedanya hanya bisa menunggu sambil mengecek layar ponselnya.

Langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah dalam. Tidak lama pintu terbuka dan keluar sesosok yang sudah biasa diliat Yunis baik di sekolah maupun saat perjalanan pulang.

"Sorry ya lama," kata Nindi sambil membukakan pagar rumahnya, "ayo masuk."

"Iya," jawab Yunis singkat.

"Eh ada Yunis," sapa Ibu Nindi saat Yunis memasuki rumah Nindi.

"Iya Tan." Yunis meraih tangan Ibu Nindi dan menyaliminya.

"Dia mau diskusi Bu bareng Nindi, tadi kan Nindi udah kasih tau ke Ibu," kata Nindi mengalihkan perhatian Sinta dan Yunis.

"Oh begitu. Yunis mau minum apa?" tanya Sinta.

"Nggak usah repot repot Tan," tolak Yunis halus.

"Udah, kayak siapa aja, Tante bikinin teh ya." Sinta pun segera berlalu meninggalkan 2 orang remaja di ruang tengah.

Yunis seperti biasa, hanya bermodalkan dua carik kertas dan sebuah pulpen, dia sudah kembali sibuk dengan anagram yang sudah diterimanya sejak Jumat lalu.

Nindi juga sama, dia juga mulai sibuk dengan denah sekolah yang dia dapat entah dari mana.

"Itu apaan?" tanya Nindi.

"Surat yang gue terima, secara pribadi ada di loker gue," jawab Yunis.

"Cukup berani orangnya sampai membobol loker gue demi memasukkan surat ini kedalam," sambung Yunis.

"Itu apaan?" tanya Yunis sambil menunjuk denah yang dipegang Nindi.

"Ini denah sekolah, lengkap dengan dimana cctv diletakkan," jawab Nindi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku cacatan.

"Terus apa itu yang lu catet?"

"Cuma catatan kecil letak cctv yang tidak ada di denah ini."

"Oohh."

Mereka sibuk kembali dengan kegiatan mereka masing-masing. Sinta datang dengan 2 gelas berisi teh angat untuk mereka berdua.

"Eh. Katanya diskusi, tapi kok malah sibuk sendiri sih?" tanya Sinta sambil menaruh gelas di meja.

"Iya Tan," jawab Yunis cepat.

"Nindi, tadi udah masak nasi?" tanya Sinta kepada anaknya.

"Udah Bu, tadi kan Nindi udah masak sebelum bukain pagar buat Yunis," jawab Nindi.

"Oh begitu. Yaudah, Tante tinggal lagi ya."

"Iya Tan," jawab Yunis singkat.

One Dream, One DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang