Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Acara resepsi sudah selesai tadi sore. Saat semua keluarga berkumpul untuk mengakhiri acara dengan makan malam bersama keluarga inti, Ivy sempat merengek pada kedua orang tuanya karena ingin pulang bersama mereka dengan alasan ingin mengambil beberapa bajunya yang tidak sempat dia kemasi.
Ivy benar-benar meremehkanku soal ini.
Dia sungguh mengira bahwa aku tidak mempersiapkan apa pun hanya karena pernikahan ini terjadi begitu mendadak.
Sudah aku bilang bahwa aku menyelesaikan banyak hal sebelum acara akad nikah dan resepsi ini berlangsung.
H -7 sebelum acara pernikahan ini berlangsung, aku berkunjung sendirian ke rumah orang tua Ivy, jelas saat dia tidak berada di rumah. Mereka nampak terkejut dengan kedatanganku yang tidak ditemani oleh siapa pun.
"Declan mau bawa Ivy tinggal di apartemen milik Declan sendiri setelah menikah nanti. Dengan izin Mami dan Papi tentunya," ujarku kala itu.
Aku sempat sangsi akan bagaimana tanggapan kedua orang tua Ivy.
Tapi melihat senyuman bahagia dari keduanya, aku benar-benar tidak menyangka mereka akan menyambut maksudku dengan sangat baik.
"Jelas Papi sama Mami mengizinkan, Declan. Kamu boleh bawa Cia ke mana pun asal kalian harus bersama-sama. Lagipula, kalian memang harus mandiri setelah menikah, kan?" balas Papi Ivy dengan senyuman lebar.
Aku menghela napas lega.
"Declan mau minta izin lebih dulu karena Declan pikir Mami sama Papi ingin kami tinggal di sini. Karena Declan tau kalo Ivy adalah anak tunggal."
"Oh, enggak, Declan. Gak papa kalo kalian mau tinggal berpisah rumah dengan Mami dan Papi. Cia selama ini juga tidak pernah tinggal dengan Mami dan Papi. Baru satu tahunan ini, itupun karena dia terpaksa pindah ke Indonesia. Jadi kalo kamu mau bawa Cia tinggal di apartemen, Mami sama Papi dengan ikhlas kok merelakan."
Aku tersenyum lebar mendengar penuturan kedua orang tua Ivy.
Terdengar sangat menguntungkanku juga lucu. Mereka merelakan dengan senang hati anak semata wayangnya untuk tinggal terpisah bersama suaminya.
Dan tidak mempermasalahkan jika aku dan Ivy akan tinggal di apartemen. Haruskah aku bersorak untuk ini?
Setelah mendapatkan izin itu, aku langsung mengosongkan kamar utama apartemenku untuk ditempati Ivy.
Membersihkan segala yang kurasa sedikit berdebu.
Bersih-bersih dan aku adalah kecocokan yang tidak lagi bisa dielakkan, mengingat bahwa selama ini orang-orang di sekitarku selalu mengatakan bahwa aku adalah manusia penggila kebersihan.
Oh, mereka terlalu berlebihan. Sebenarnya, Bang Delan lebih cocok untuk panggilan itu.
Baiklah kita lupakan, aku tidak mau mengeluarkan segala keburukan kembaranku di sini.