Meninggalkan Ivy

295 45 1
                                        

Balik lagi setelah sekian lama menghilang 😥. Rindunya sama Declan dan Ivy 😫. Betewe, jangan lupa vote sebelum baca, ya. Danke... 😇

Senyuman tanpa jeda terus tersemat di kedua sudut bibirku saat melangkah menuju apartemenku dan Ivy

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Senyuman tanpa jeda terus tersemat di kedua sudut bibirku saat melangkah menuju apartemenku dan Ivy.

Aku sedang benar-benar bahagia karena pertemuan mendadak setelah aku mendapatkan telepon dari salah satu production house secara tiba-tiba.

Langit yang memang selalu mengikuti ke manapun aku pergi, juga nampak semangat saat berada di ruangan rapat kecil untuk pertemuan yang direncanakan secara singkat.

Aku ditawarkan menjadi sutradara diprojek film yang diproduseri oleh PH tersebut.

Meski ini pertama kalinya aku mendapatkan projek film untuk layar lebar sesungguhnya, aku tak lantas menerima begitu saja. Langit bahkan sudah mengangguk semangat menyetujui.

Alih-alih kubaca lebih dulu skenario mentah untuk film itu.

Bukan bermaksud untuk selektif. Tapi aku juga tidak bisa mengambil pekerjaan jika tidak nyaman dengan apa yang akan aku kerjakan. Semua malah akan kacau, dan aku tidak mau jika itu benar terjadi.

Setelah memastikan jika naskah dan plot cukup baik, aku akhirnya menyetujui dengan merangkap sebagai penulis pendamping langsung.

Aku ingin terus mengetahui bagaimana perkembangan dari jalan cerita dari film nantinya.

Pihak produser menyetujui dan akan memberikan kontrak sesuai dengan apa yang sudah disepakati esok harinya.

Aku masuk ke apartemen untuk segera menemui Ivy. Terdengar lirih suara televisi saat aku meletakkan seluruh barang ke dalam ruang tidur.

Tak nampak Ivy di sana, sebab dia sepertinya sedang berleha dan menyelonjorkan kakinya dengan santai. Aku bisa melihat ujung kaki Ivy dari sofa.

Aku berjalan mendekati gadis itu. Apa yang dia lakukan sampai masih menonton di jam segini? Sudah hampir tengah malam.

Ivy hanya melirik kecil ke arahku. "Have you been, Jota? Pulang malem terus lo."

Aku tersenyum kecil setelah mendengar suara Ivy yang mulai serak. Gadis itu terlihat sudah ngantuk, tapi berusaha untuk terus terjaga demi menonton drama yang sedang berlangsung di tv.

Mungkin drama kesukaannya. Aku tidak terlalu tau soal Korea. Yang aku tau hanya Ivy. Istriku adalah hal yang aku tau soal Korea.

"Kalo ngantuk langsung tidur aja sih, I. Ngapain masih selonjoran di sini?" Aku duduk di atas kepala Ivy yang menggerakan matanya sekilas ke arahku.

"Dramanya bagus, Jota. Gue kebut nontonnya karena di Korea udah muncul 6 episodes. Pemainnya gue suka banget ini." Ivy menggeliat kecil dengan terus berusaha menormalkan suaranya.

Aku terkekeh. Kuletakkan telapakku di atas dahinya yang kini malah memejam. Alisku terangkat sekilas, menyadari betapa dahi Ivy bahkan lebih kecil daripada telapakku.

IVY (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang