Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Waktuku benar-benar tersita dengan pekerjaan yang tiada henti.
Aku bahkan tidak bisa ikut saat kak Guna meminta bantuanku untuk menjadi salah satu modelnya di ajang lomba yang diadakan di luar kota.
Yang paling aku sesali, aku tidak bisa menemani Ivy di sana. Sebab dia juga dipilih oleh kak Guna untuk menjadi model perempuannya.
Aku harus menyelesaikan filmku dengan baik dan bekerja lebih ekstra karena akan kuikutsertakan dalam festival film pendek untuk sutradara pemula pun yang sudah jauh lebih berpengalaman.
Ini kesempatan besarku. Jadi aku tidak akan menyia-nyiakannya meski harus membiarkan Ivy pergi ke luar kota sendiri. Pekerjaan pertamanya tanpaku.
Sesekali aku pulang ke apartemen hanya untuk mandi dan menyempatkan diri membuatkan Ivy makanan yang bisa dia panaskan di microwave.
Jika punya waktu banyak, aku juga akan menambah stok salad di dalam kulkas. Ivy pasti memilih tidak makan saat melihat tak ada apapun di kulkas tanpa mau membeli makanan di luar.
Ivy akan berdalih bahwa bisa menahan lapar karena selama ini dia juga tidak makan banyak untuk dietnya.
Dan aku tidak suka alasan itu.
Hari ini menjadi terakhir syuting dan aku cukup puas dengan hasilnya. Akhirnya aku bisa pulang lebih cepat hari ini, meski jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Setelah memberesi alat-alat syuting dan memberi briefing untuk apa yang akan dilakukan besok, aku akhirnya sampai ke apartemen yang berpenerangan beberapa lampu tidur.
Ivy mungkin sudah ada di rumah. Dia pasti sudah tidur.
Aku berjalan ke arah ruang tidurku dengan langkah pelan. Tapi aku langsung berlonjak sesaat mendapati kamarku sudah terang dan Ivy berbaring di bedsofa tempatku tidur selama ini.
"Jotaaaa." Ivy berteriak sambil menggerakkan tangannya dengan semangat sambil berbaring dan hanya mendongakkan kepalanya ke arahku. "Long time no see. Rindu gak sih?"
Iya, Ivy. Aku sangat merindukanmu, sayang. Syukurlah jika kamu baik-baik saja.
Aku pura-pura tersungut karena dia memang mengagetkanku. Tapi aku tak bisa menahan senyuman saat meletakkan ransel di wardrobe.
Ivy berbaring dengan nyaman di tempatku tidur. Hatiku rasanya penuh, lelahku hilang melihatnya yang sudah terbiasa dengan segala sesuatu tentangku. Obat paling mujarab menghilangkan lelah.
"Tadinya mau ngeliatin lo udah pulang apa belum. Waktu liat kamar ini kosong, gue jadi males gerak lagi. Rebahan deh di sini."
Ada apa dengan Ivy hari ini? Dia terlihat sangat manis, seolah benar-benar menungguku dan rindu karena lama tak bertemu.