Happy, beneran bisa update lagiiii. Votenya dong berarti jangan ditinggal. Hihi... Thanks 😘😘
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Semangat banget yang mau pulang."
Aku menoleh ke arah Langit yang baru saja masuk dan langsung merebahkan diri di atas kasur dengan langsung mengecek ponselnya.
Aku hanya tersennyum tipis sambil kembali menata semua baju dan barang-barangku ke dalam koper.
Benar. Pekerjaanku dan tim lainnya selesai tepat setelah satu bulan penggarapan. Sesuai dengan perkiraan tanpa harus menambah hari untuk syuting.
Meski sempat ada kesulitan di awal sampai di Korea, tapi semua berjalan dengan lancar setelahnya.
Cuaca tak lagi menjadi masalah. Semua kru dan para artis juga terlihat sehat serta bersemangat melakukan proses syuting.
Dengan energi positif dari para tim, aku juga bisa melakukan tugasku dengan baik selama menggarap film ini.
Suasana syuting juga sangat menyenangkan. Artis dan para kru sangat akrab. Tak ada yang menyulitkan atau merasa perlu diurusi. Semua menjadi seperti keluarga.
Meski kadang aku sedikit risih dengan sikap para pemain figuran yang sering mendekatiku tanpa sembunyi.
Mereka terang-terangan mengajakku berbicara dan mencoba mendekatiku dengan cara yang aku sendiri tidak menyangka bisa dilakukan oleh wanita.
Aku bahkan harus selalu menggunakan cincin kawin dengan Ivy dan langsung menunjukkan saat mulai ada yang menggodaku.
Sebenarnya itu bukan caraku. Aku bahkan sangat jarang menggunakan aksesoris. Tapi aku memang pria yang sudah beristri. Dan cincin kawin bersama Ivy ini adalah satu dan akan menjadi satu-satunya aksesoris yang aku pakai.
Lagi pula, bukankah wanita adalah manusia yang istimewa? Mereka harusnya menjaga diri mereka yang mahal itu.
Ah, entahlah. Aku tidak bermaksud menilai semua wanita sama. Mereka hanyalah oknum. Tak semuanya begitu.
Mari lupakan dan ganti topik pembicaraan.
"Ada yang minta nomer telepon pribadi lo lagi tadi sama gue, De."
Baru saja aku berniat mengalihkan pembicaraan, Langit malah menambahnya dengan kalimat yang serupa.
Aku menghela napas pelan. "Lo kasih?" tanyaku, santai.
"Tentu tidak, Bapak Sutradara. Sesuai yang anda pesankan."
Jawaban Langit membuatku terkekeh sekilas. Aku tau pasti bahwa sepupuku itu sedang memutar malas matanya di belakang sana.
"Thanks, Lang."
"Anytime. Gue juga gak mungkin seenaknya ngasih nomer lo ke merekalah. Gue inget juga sama Mbak Cia. Lagian kenapa sih mereka gak minta nomer gue aja? Padahal gue gak kalah ganteng deh sama lo."