Bisa gak nih selesai sebelum puasa? 😫 Dukung dengan vote dan komen, ya. Gracias 😍
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kuusap wajahku dengan kuat tanpa peduli rasa perih yang muncul dari luka saat bertengkar dengan Kendra tadi.
Aku hanya ingin membersihkan wajahku seolah mampu membantu untuk menjernihkan pikiranku yang masih penuh dengan segala emosi.
Aku bahkan tidak bisa berteriak guna meluapkan kekesalan yang masih membuat dadaku sesak.
Ada rasa sesal karena membiarkan Ivy bisa bersama pria brengsek seperti Kendra, ada amarah yang membuatku membentak Ivy, ada kekecewaan karena istriku bahkan lebih mempercayai pria lain.
Aku jelas menyalahkan Kendra karena rencana brengseknya, tapi aku jauh lebih menyalahkan diriku yang tidak bisa berbuat apa-apa saat Ivy bahkan tidak memberi sedikitpun acuh untuk penjelasanku.
Hah! Penjelasan seperti apa? Aku bahkan tidak bisa berkata yang sejujurnya sebab takut Ivy akan kecewa.
Sebenarnya tak ada beda, Ivy sudah kecewa denganku sekarang.
Ketakutan yang selama ini mulai memudar, kini malah bertumpuk semakin besar sebab semuanya terjadi secara nyata.
Rasa takut Ivy akan meninggalkanku, Ivy yang akan benar-benar menceraikanku, hubunganku dan Ivy yang sudah dekat akan menjadi jauh.
Lalu semuanya terjadi dalam sekali waktu. Setelah hubungan ini menjadi jauh, Ivy akan menceraikanku, lalu bisa dipastikan dia akan meninggalkanku.
Brengsek!
Sendiri aku dalam kamar luas ini dengan tawa frustasi. Kepalaku berdenyut meski telapakku sudah meremas rambut dengan kuat.
Ah, benar! Apa yang Ivy lakukan sekarang?
Karena ulahku, Ivy pasti sedang panik membawa Kendra ke rumah sakit. Semoga Daven, Mbak Remi dan Qila masih di sana dan membantunya.
Harusnya aku bisa menahan emosi di sana. Lalu membicarakan baik-baik pada Ivy tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Mungkin semuanya tidak akan memburuk seperti sekarang.
Napasku terengah. Aku harus berbaring. Kepalaku yang harus menahan pening dan pusing sekaligus benar-benar butuh istirahat.
***
Aku terjaga saat jam menunjukkan pukul satu dini hari. Ah, aku sempat tertidur rupanya. Mungkin aku benar-benar lelah.
Dengan kepala yang masih berdentum tak nyaman, segera aku bangkit untuk melihat apakah Ivy sudah pulang atau belum.
Helaan begitu saja tercipta saat aku melihat lantai satu yang masih gelap tak berpenerangan.
Aku memang tidak menghidupkan lampu mana pun kecuali kamarku saat pulang tadi. Dan melihat rumah yang masih gelap, bisa dipastikan Ivy belum pulang.