Double up. Votenya jangan ketinggalan, ya. Gomawo... 😇
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku tersenyum saat terbangun dan langsung mendengar suara Ivy tertawa di ruang tengah. Indahnya pagiku yang disambut oleh tawa dari istriku tercinta.
Maksudnya aku yang mencintainya. Tidak tau Ivy bagaimana. Kata Dilan, bisa aja sore nanti dia sudah ikut mencintaiku juga. Hilih, ipiin sih!
Aku kelelahan karena baru sampai di apartemen tepat beberapa menit sebelum azan subuh. Setelah menunaikan solat, aku baru berbaring dan tertidur. Sangat menyenangkan karena ini weekend.
Aku punya waktu dua hari untuk istirahat dan tidak melakukan apa pun. Jika tak ada kerjaan mendadak lain tentunya.
Baiklah. Mari mandi dan menengok sedang melakukan apa istriku di luar sana sampai tawanya begitu renyah terdengar.
Aku keluar dari ruangan tempatku tidur dengan handphone yang sudah kumiringkan untuk melanjutkan game tadi malam bersama Langit.
Kulirik sekilas ke arah televisi. Ah, Ivy sedang menonton salah satu acara dari Korea rupanya. Tanpa subtittle! Dan aku dengan senang hati untuk tidak ikut menonton bersamanya.
Lebih baik kulanjutkan game ku sampai menang.
"Jota, lo gak punya rencana apaaa gitu?" Suara Ivy jelas menginteruspi permainanku yang sudah setengah jalan.
Tapi aku masih diam. Tak menunjukkan bahwa sekarang aku kesal karena langsung tak berkonsentrasi setelah mendengar pertanyaannya.
Ivy tak mengomel dan aku kecewa karena itu.
Jujur saja, selama ini aku memang jarang langsung menjawab jika Ivy bertanya. Karena apa? Karena aku ingin mendengar Ivy mengomel dan menggangguku lebih dari hanya sekadar bertanya.
Awalnya dia memang begitu. Tapi lama-lama dia menjadi terbiasa dan hanya tersungut tanpa suara sambil menunggu aku menjawab tanyanya.
Aku harus mengganti cara agar Ivy lebih sering menggangguku.
"Lo gak ada kerjaan sampe malem?" tanyaku setelah lebih dulu mematikan ponselku.
Dia menjawab dengan semangat dan tak ada lagi semburat kekesalannya karena aku lama menjawab. Astaga, istriku yang lucu.
Wajahnya semakin berbinar saat aku menyinggung tentang judo dan dengan riang dia mengatakan ingin ikut denganku berlatih.
Setelah satu bulan ini menjadi suami Ivy, aku menyadari bahwa banyak kesamaan dariku dan dia. Selain dari cara hidup sehat, Ivy juga menyukai kegiatan outdoor yang ekstrim.
Sebenarnya tak layak untuk perempuan. Tapi selama Ivy melakukan kegiatan ekstrim itu bersamaku, tak apa. Toh aku akan menjaganya.
Membahas soal judo, seperti yang sudah aku katakan. Aku rutin melakukan olahraga itu. Karena sejak sekolah, aku sudah berlatih dan memenangkan beberapa pertandingan yang diadakan sekolah pun luar sekolah.