I (Almost) Meet Her Boyfriend

276 42 9
                                        

Jangan lupa bintang kecil di pojok kiri bawah, ya. Salamat... 😇

"De," panggil Langit yang langsung membuatku menoleh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"De," panggil Langit yang langsung membuatku menoleh. "Handphone lo getar terus itu. Liat dulu sana, biar gue yang ngurus kerjaannya," sambungnya menunjuk ke arah ponselku dengan kepala.

Aku melirik ke arah benda pipih yang memang terlihat menyala dan bergeser karena getaran yang tercipta jika ada orang yang menelpon.

Kulihat sekilas pekerjaan yang masih harus aku monitoring. Tapi, jika Langit sudah merasa terganggu, mungkin saja ponselku bergetar berulang kali.

Segera aku berdiri dan menghampiri tempat ponselku tergeletak.

Dahiku langsung berkerut saat nama mbak Remi muncul di layar. Kenapa mbak Remi menelponku jika sedang bekerja bersama Ivy?

Ah, benar! Astaga, mungkinkah...

"Halo, Mbak. Ivy kenapa?" Aku segera bertanya setelah menekan panel hijau untuk mengangkat telpon mbak Remi.

Jika dia sedang bekerja bersama Ivy, tapi dengan tiba-tiba menelponku, aku yakin ada sesuatu yang terjadi dengan istriku.

"Cia kepleset di toilet, De. Kami kerja di studio satu lantai dari tempat kamu kerja."

Tanpa menunggu penjelasan lebih dari Mbak Remi, aku langsung berlari keluar dari studio tempatku bekerja setelah lebih dulu berteriak pada Langit bahwa aku akan pergi.

Aku benar-benar menjadi kalut saat mendengar bahwa Ivy terpeleset di toilet. Segala hal buruk yang mungkin saja terjadi pada Ivy menari dengan sangat menyebalkan di kepalaku.

Kutekan dengan cepat tombol untuk membuka pintu lift. Aku harus kecewa dan mengumpat dengan keras saat lift baru saja terpakai dan sedang berjalan ke lantai lainnya.

Tergesa aku berlari ke arah tangga darurat, mengingat Ivy kerja di lantai bawah, menuruni tangga seperti ini bukanlah hal yang sulit.

Aku terus berlari untuk segera mencapai ruang wardrobe yang disediakan studio untuk Ivy bekerja hari ini.

Aku terengah saat sampai di depan pintu ruangan itu.

Kulihat Ivy yang masih duduk dengan Mbak Remi dan Qila di samping kanan kirinya. Dia yang merasakan kehadiranku langsung menoleh.

Matanya merebak merah. Bisa kulihat pinggiran maniknya sudah basah karena airmata yang menggenang.

"Jota." Dia menangis kuat.

Kuambil posisi Qila yang sudah berdiri, seolah memberiku ruang untuk mendekat ke arah istriku.

Kubalas dengan erat pelukan Ivy yang sekarang tersedu kencang. Kuusap kepala belakangnya sambil terus menormalkan napasku yang masih tersendat-sendat.

"Sekarang udah gak papa, Ivy. Gue di sini." Kurasakan Ivy semakin erat memelukku.

Mbak Remi menjelaskan bagaimana Ivy bisa jatuh dari toilet saat aku masih terus memberikan usapan untuk istriku dan menopang tubuhnya yang terasa sangat lemas.

IVY (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang