Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pukul 04.00 subuh. Aku terbangun setelah tidur hanya beberapa jam karena terlalu bersemangat kerja.
Langit: Gue jemput lo jam lima entar subuh. Siap-siap sejam sebelumnya. Awas telat lo. 😒
Japri dari Langit bahkan baru sempat aku baca. Jam lima subuh katanya? Heh! Mari lihat akan sampai jam berapa sipemilik jam paling molor itu.
Segera aku mandi dan berganti pakaian setelah mendengar azan subuh berkumandang. Syukurnya, aku selalu menyempatkan diri untuk lima waktuku.
Bagaimana dengan Ivy, ngomong-ngomong?
Sebagai suami, aku harusnya mengajarkan Ivy tentang pentingnya sebuah kewajiban solat. Tapi aku belum punya banyak waktu untuk bercakap panjang dengannya.
Doakan saja segera diberi kesempatan untukku bisa membahas hal sepenting itu dengan Ivy.
Aku berjalan pelan menuju dapur. Kamar utama masih terlihat damai. Kurasa Ivy masih terpulas di sana.
Pelan, kumulai kegiatanku membuatkan sesuatu untuk sarapan Ivy nanti. Sekarang sudah jam lima lewat tiga menit. Dan Langit belum mengabariku sama sekali.
Aku sudah tidak kaget. Langit memang selalu begitu. Dia yang memburu-buru, tapi dia juga yang terlambat.
Sudah kuputuskan untuk membuat sandwich dan salad.
Saat diperjalanan pulang setelah pemotretan bersama di majalah Couple, aku jadi tau bagaimana pola makan Ivy yang sebenarnya.
Aku sudah menyangka bahwa dia menyukai makanan yang sehat, tapi aku tidak menyangka dia akan menjaga apa saja yang harus dimakannya dengan begitu detail.
"Gue jarang makan nasi, Jota. Sehari paling cuma satu mangkuk, atau malah gak sama sekali. Gue lebih seneng makan salad atau buah-buahan aja sih," ceritanya kala itu.
Aku memicing tak setuju. "Itu karena lo diet?"
"Awalnya emang cuma buat diet. Tapi lama-lama jadi kebiasaan sampe sekarang."
"Lo bisa jadi lidi kalo cuma makan begituan doang, I. Makan nasilah, dikit aja gak papa biar kebutuhan karbohidrat lo terpenuhi," protesku dengan jelas.
"Gue ganti ke makanan lain kali. Makanya gue suka daging. Terus kentang rebus atau enggak ubi tuh. Kenyang juga lho."
Aku menggeleng tak percaya.
"Gak habis pikir gue sebegitunya lo menjaga pola makan biar keliatan kurus."
"Makanya lo masakin gue, Jota. Biar gue bisa makan banyak," pintanya dengan senyuman jahil.
"Tapi gue makan nasi. Tiap hari masakin lo makanan sehat, terus gue sendiri gimana? Ogah banget ngikutin gaya makan lo yang super aneh begitu."