Dikantor semua staf kasih selamat dan itu membuatku merasa semakin bersalah. Pernikahan kami tidak seindah yang dibanyangkan orang-orang meski biaya yang kami keluarkan untuk resepsi tidak sedikit, dan semarak resepsi semalam bahkan meninggalkan kesan yang cukup mendalam bagi orang-orang di sekitar kami, itu terbukti dari feed di akun sosial media mereka yang masih sibuk memposting foto bareng kami berdua sebagai pengantin.
"Thanks udah di anterin." Ranum tersenyum ke arahku begitu mobilku tiba di depan lobi rumahsakit.
"Sama-sama, maaf jadi telat gara-gara aku maksa buat nganterin kamu."
"It's ok mas." Katanya sembari mengecup pipiku. "Aku akan pulang cepet, mau di masakin apa?" Tanyanya.
"Emang kamu sempet masak?"
"Buruan, mobil antri di belakang banyak." Katanya sambil membuka pintu.
"Nanti aku text." Teriakku, dia tersenyum menutup pintu mobil dan melambai begitu mobilku melaju perlahan meninggalkan lobi rumahsakit. Ini yang selalu aku impikan sepanjang hidupku, jadi laki-laki yang bertanggungjawab kalau aku udah punya isteri. Aku nggak pengen seperti ayah kandungku yang ninggalin ibu bahkan saat aku belum lahir ke dunia. Bener-bener nggak bertanggung jawab, dan walaupun darahnya mengalir dalam darahku, tapi aku tidak ingin mewarisi sifatnya sama sekali.
Sepanjang pejalanan menuju kantor sebuah nomor baru memanggilku.
"Siapa sih ni." Kataku kesal sambil mereject panggilannya, tapi nomor itu terus memanggil, dan akhirnya aku angkat.
"Halo." Kataku kesal.
"Hai mas." Suara itu jelas sekali di telingaku, tanpa harus memperkenalkan diri aku tahu siapa yang berbicara di seberang.
"Nomor kamu baru?" Tanyaku.
"Ya, karena mas nge-block nomorku yang lama kan semalam setelah aku kirim foto kita."
"Ras . . . " Aku menarik nafas dalam. "Aku tahu kamu belum bisa terima perpisahan kita, tapi toh kita harus melanjutkan hidup kita masing-masing."
"Kamu enak mas, kamu punya orang lain sekarang. Nah aku?!" Katanya dengan emosional, aku tahu pasti kalau kami berhadapan sekarang, dia akan nangis di hadapanku.
Aku menghela nafas. "Aku ngaku salah untuk itu, dan nggak ada yang bisa kita lakukan sekarang. Aku sedang menata hidupku dengan isteriku dan kuharap kamu bisa move on."
"Kamu pikir gampang buat aku move on setelah delapan tahun kita bareng-bareng, dan aku juga nggak pernah nemu cacatnya aku dimata kamu kan. Terus kamu seenak jidat ketemu cewek baru dan langsung nikah."
"Ras . . ."
"Mas . . . stop deh, stop beralibi."
"Ok, mau kamu apa sekarang." Entahlah, aku hanya ingin teror ini berakhir, karena tanpa teror yang terus menerus dari Raras hidupku sudah cukup sulit sekarang.
"Aku mau kamu ceraikan isterimu."
"Jangan gila kamu Ras." Entah mengapa aku mulai jengah berbicara dengannya dengan cara seperti ini, membuatnya mengerti situasi kami memang tidak semudah yang aku bayangkan.
"Aku mau ketemu kamu sore ini sepulang kerja."
"Aku ada janji sama Ranum."
"Ya terserah kamu sih, pilihan di tangan kamu mas. Kita selesaikan dengan jalan damai atau kamu emang seneng kalau aku terus hubungin kamu."
"Ok, aku balik lebih awal, kita ketemu jam enam di tempat biasa."
"OK, bye mas."
Panggilan dari Raras di pagi hari yang sibuk bukan sesuatu yang kuharapkan, apalagi setelah Ranum melepasku di depan lobi rumahsakit tempatnya bekerja dengan senyum semanis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENIKAH
RomanceKisah ini menguak tentang berbagai rasa dalam sebuah pernikahan. Berbagai rasa dalam sebuah pernikahan, ada asam, ada manis, ada asin, dan semua bikin gregetan, karena pasangan ini tidak saling mengenal secara dalam sebelum pernikahannya.
