Hyunjin dan Jeongin dirumah sendirian, Ayah Hyunjin bekerja dan Ibunya tengah ke arisan. Mereka menonton TV sambil bertukar cerita, hingga akhirnya TV yang menonton mereka.
"Assalamualaikum Budhe Anjani!" Pintu rumahnya diketuk. Hyunjin segera bangkit diikuti Jeongin yang tidak berani sendiri.
"Waalaikumsalam, e-eh iki Salma?" Hyunjin terkejut.
"Mas Zidan?! Wangsul kapan, Mas?" Tanya gadis dengan rambut dikepang tersebut.
"Kemarin, Ibuknya lagi di rumah Bu Sarmi, arisan. Ada perlu apa, Sal?" Jelas Hyunjin.
"Weleh weleh medhoknya udah hilang ya, Mas. Ini titipan dari Ibuk, katanya uang kas pengajian. Ibuk lagi sakit, jadi ndak iso ikut." Gadis itu menyerahkan beberapa lembar uang.
Mereka lalu mengobrol ringan dengan Jeongin yang berdiri di dekat Hyunjin memperhatikan keakraban keduanya.
"Mas..." Ia merajuk.
"Eh Sal, kenalin ini Danu temanku"
Jeongin menatap Hyunjin tidak percaya. Lelaki itu tersenyum manis dan menatap dirinya dan wanita di depannya bergantian.
"Saya Salma, baru semester dua. Kamu masih SMP?"
"Danu, kelas dua SMA!" Ucapnya ketus.
Beberapa saat kemudian Jeongin memilih untuk masuk ke kamar mengurung diri. Tak lama Hyunjin mengetuk pintu kamar.
"Nuu.." panggilnya.
Ia akhirnya masuk dan mendapati Jeongin yang menatap keluar Jendela sambil memeluk boneka larva warna kuning.
"Nuu" panggilnya lagi. Ia duduk di sebelah Jeongin, dan tanpa disangka Jeongin menggeser duduknya menjauh dari Hyunjin.
"Kenapa to?" Tanyanya mencoba menatap mata Jeongin.
"Tau" jawab bocah itu datar.
Si kecil bergerak untuk rebahan di kasurnya sambil bermain ponsel. Hyunjin tersenyum gemas melihat kekasihnya yang bertingkah sok cuek itu.
"Nu, Mas mau peluk" Ia menekuk bibirnya. Jeongin hanya meliriknya tak tertarik.
Hyunjin bergerak tiduran di samping Jeongin, mengangkat lengan kanan Jeongin yang sibuk memegangi ponsel, menatanya agar berposisi seolah-olah memeluk dirinya. Ia mendongak, menatapi kekasih manisnya.
"Nuu, Mas boleh minta cium?" Rengeknya.
"Nggak! Kita kan teman!" Kesal Jeongin.
Hyunjin terdiam mengingat sesuatu, dan akhirnya ia terkekeh geli.
Ia bangkit memposisikan duduknya di samping Jeongin, menatap bocah itu dan mengambil ponselnya yang lalu dimatikan.
"Lihat Mas!" Ia menangkup halus pipi Jeongin.
"Mas ndak mungkin ungkap hubungan kita disini sekarang, Dek. Jogja dan Jakarta beda dek, mungkin Jakarta menerima, tapi Jogja belum tentu.
Bukan Mas ndak sayang sama kamu, tapi Mas takut kamu diapa-apain sama warga sekitar. Kita disini tabu, Dek." Jelasnya menatap lekat-lekat mata Jeongin.
"Nanti kalau ki-kita menikah bag-bagaimana?"
"Kamu benar-benar mau sama Mas?
"Iya"
"Jadi sekarang masih marah apa ndak?"
Jeongin menggeleng, ia lalu mengecup sekilas pipi Hyunjin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Celengan Rindu || Hyunjeong
Short StoryKonten manisan milik Zidan dan Danu. Walau kadang ada semut nyempil sih. Bagi mereka, jarak itu bukan apa-apa. Yang penting saling percaya dan tidak curiga. sequel of Teach me
