"lihat tuh, itu dia"
"Ih iyaa"
"Muka nya gak keliatan banget ya?"
"Gak nyangka ternyata pelacur"
"Masih SMA padahal"
"Berapa bookingannya?? Mau gue coba nih"
Bisik demi bisik terdengar di sepanjang jalan menuju ruang ujian membuat Tisha merasa risih.
Pandangan mereka juga terarah kepadanya.
"Sebenarnya mereka kenapa sih?!" Ucap Tisha risih.
Bruk!
Karena Tisha tak melihat ke depan, dia tak sengaja menabrak seseorang yang tak lain adalah MAHA.
"Lo apa-apan sih?!" Bentak Tisha.
Maha tersenyum remeh, dia memasukan kedua tangannya ke saku celana.
"Kenapa?? Mau marah?? PE.LA.CUR.??"
Tisha tersentak.
Apa maksudnya!??
Dia mendorong Maha kuat hingga membuat Maha hampir terjengkang jika saja tidak ada Teman-teman nya yang menolong nya.
"Wettss santai dong..bener kan yang gue bilang?? Lo itu pelacur!"
"Maksud Lo apa?! Semua itu gak bener! Lo gak usah ngarang deh!!" Ketus Tisha, dia masih berusaha untuk bersabar.
"Masih mau ngelak?? Di Mading banyak bukti! Lo pernah hamil kan? Dan punya anak? Emang berapa sih sewaan Lo? Gue mau nyoba!"
Plak!
Satu tamparan mendarat ke pipi Maha membuat Maha memegang pipinya yang merah.
"Anj*Ng tau gak Lo!" Bentak Tisha marah, dia berlalu dari hadapan Maha.
Dalam jalannya Tisha menangis.
Siapa?? Siapa yang membocorkan rahasia ini?? Gak ada yang pernah tau dirinya hamil!
Dan lagi!
Tisha bukan pelacur!
Dia korban!
"ARRGHHH!!" Tisha meninju tembok kamar mandi.
Iya, dia berlari ke toilet.
Dia tidak tau harus berbuat apa!
Rahasia selama 1 tahun lebih itu telah dia jaga sebaik mungkin, tapi kenapa masih saja ada yang tau??
Dua hari yang lalu Kakak nya sudah mendapat kan ingatan, menanyakan tentang anak'itu' orang tuanya malah memarahinya dan menuduh jika Tisha yang membuat Rangga mengingat kembali.
Dan di tambah lagi dengan ini.
Tisha memilih untuk membasuh Mukanya di wastafel dan segera keluar dari toilet
Ujian sebentar lagi akan di mulai dan untungnya ini ujian terakhirnya.
Dia tidak akan perlu mendengar begitu banyak cacian di sekolahnya ini.
"Sha!"
Degh!
Tisha berhenti.
Dia membalikan badannya dan melihat Devan yang tengah berdiri di tembok dekat pintu toilet.
Mungkin karena dirinya kurang Fokus makanya tak melihat Devan ada disitu.
Devan menghampiri Tisha
"Kenapa? Lo mau ikut ngehina gue?" Tanya Tisha datar.
Devan tak menjawab, tapi dia memeluk Tisha secara tiba-tiba membuat Tisha terdiam.
"Gue gak punya niatan itu"
"Lepas Van, kalo Hirra liat dia marah" ucap Tisha sambil berusaha untuk melepaskan pelukannya.
Devan tak membiarkan, dia malah semakin memeluk Tisha erat.
"Gue sama dia cuma pacaran sandiwara!"
"Maksud Lo?"
"Gue bohongan pacaran sama Hirra, yang gue suka Elo! Bukan Hirra, gue cuma mau buat Elo cemburu!"
•••
"Om sudah berusaha sebisa mungkin untuk menutupi rahasia kamu, om juga tidak tau jika ada yang menyebarkan berita ini!" Ucap Om Tisha yang tak lain adalah kepala sekolah tempat tisha ini.
"Terserah om, Tisha udah kebal sama hujatan mereka! Tisha disini cuma tinggal beberapa hari, yang penting Tisha bisa lulus, itu aja"
"Om akan berusah"
"Terimakasih om" ucap Tisha.
Garra mengangguk.
"Sama-sama" kata nya.
Setelah itu Tisha memilih keluar dari ruang kepala sekolah.
"Eh lihat tuh, dia keluar dari ruang kepsek"
"Pasti habis ena-ena"
"Mungkin"
Huftt..
Tisha menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Dia tidak boleh terpengaruh oleh bisikan mereka.
Akhirnya Tisha pergi.
Ddrrt drrtt
iPhone Tisha bergetar membuat Tisha merasa kesal.
Padahal dia lagi tidur di ruang perpustakaan.
Iya, dia menyendiri.
Di saat semua tengah merayakan pesta Perpisahan, dia memilih untuk mengasingkan diri di perpus.
Untuk apa ikut pesta perpisahan kalo yang ada Tisha hanya mendapatkan hujatan??
"Siapa sih?!" Kesal Tisha, dia melihat ke layar iPhone nya.
Endra.
Tisha tau apa yang akan di katakan Endra.
"Kita putus! Gue gak mau dapat barang bekas!"
Tit.
Setelah itu sambungan teflon di putus oleh Endra.
Haahh.. benarkan??
Tisha melemparkan iPhone nya ke sembarang arah tak peduli jika iPhone-nya akan rusak.
"Terserah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan dua Kutub Magnet
Novela JuvenilIni tentang kisah anak Adam dan hawa yang setiap bertemu selalu bertengkar, tak pernah akrab. Mereka seperti magnet yang berjenis sama, di dekatkan selalu berjauhan saling bertolak belakang. "Anjiirr..Devan Lo ngapain disini?! Nguntitin gue kan?!" T...
