<47>

70 12 20
                                        

Nabila sejak tadi hanya mondar-mandir di kamarnya. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berjalan sambil membawa ponsel miliknya.

"Gue harus ngomong apa?" tanya Nabila pada dirinya sendiri.

Setelah beberapa lama, ia mendapatkan ide dan mulai menekan layar ponselnya. Namun, sebelum ia menekan kontak yang ingin ia hubungi, kontak tersebut lebih dulu menghubunginya. Nabila seketika salah tingkah dan gugup sesaat. Ia pun mengangkat panggilan itu dan mendekatkan ponselnya ke telinga kanannya.

"H-hai!" sapa Nabila gugup.

"..." seseorang di seberang telepon.

"Oh. Bisa. Dimana?" tanya Nabila.

"..."

"Ok. Gue kesana sekarang." Nabila segera mengambil tas kecilnya lalu memakai sneakers miliknya dan berjalan keluar kamar. Ia menuruni tangga dan menyusuri ruang tengah yang sedang lengang itu. Sesaat sebelum ia menyentuh pintu utama, ia dikagetkan oleh seseorang.

"HAYO! Kamu mau kemana?" tanya suara berat nan manis yang khas itu. Nabila mengelus dada dan berbalik dengan memasang tatapan yang tajam mengarah ke orang yang ada di belakangnya.

"Ish...kak Azlan! Kaget tau!" Nabila memukul manja pundak Azlan.

"Au!" lagaknya. "Maaf. Merasa lebih baik?" Nabila hanya mengangguk. Lalu, tatapan Nabila menjalar ke tangan kiri Azlan yang memegang sebuah kunci.

"Kak!" Azlan menatap Nabila. "Anterin dong," rayu Nabila manja.

Azlan mencubit pipi Nabila. "Iya deh. Ayo!"

Nabila mengembangkan senyumnya dan mengekor pada Azlan yang berjalan keluar. Seseorang di depan Nabila berhenti tiba-tiba, membuatnya menabrak bahu kekar itu.

"Au! Kak Azlan ih," gerutu Nabila sambil mengelus jidatnya yang terbentur itu. Azlan berbalik dan menatap Nabila dengan tatapan seram. Nabila yang melihatnga merinding.

"Kak! K-kenapa sih?!" tanya Nabila sedikit gemetar.

"Kamu...sudah beritahu orang panti kalau kamu mau keluar?" Nabila menghela nafas seketika dan menepuk pundak Azlan sekeras mungkin. Azlan tertawa melihat Nabila kesal seperti itu.

"Kakak mah," ucapnya. "Eh...aku belom kasih tahu siapa-siapa sih." Nabila mengeluarkan ponsel dari tas miliknya dan menelfon seseorang.

"KAK AKU KELUAR SAMA KAK AZLAN YA!" Nabila langsung menutup telfonnya. Azlan yang berdiri di samping Nabila melongo. Nabila menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.

Nabila yang merasa ditatap oleh Azlan langsung melirik Azlan. "Kenapa kak?" tanya Nabila lugu. Azlan melayangkan tangannya, Nabila yang melihat itu menutup mata rapat-rapat. Namun, bukannya sebuah tamparan yang mendarat. Tapi, tangan kekar malah mengacak rambutnya. Nabila membuka mata dan melihat Azlan sedang mengelus kepalanya kasar dan membuat rambutnya berantakan.

Nabila tak ingin berkomentar. Ia memasang wajah kesal nan lucu di wajahnya, lalu ia membereskan rambutnya yang berantakan.

"Ayo buruan. Kamu mau kemana?" Azlan sudah duduk di atas motornya mengenakan helm dan memperlihatkan wajah tampannya.

"Café biasa!" ketus Nabila. Azlan yang mendengarnya hanya tertawa dalam diam.

Sementara itu, Nahal di kamarnya sedang kebingungan setelah di telfon oleh Nabila. "Dasar adek laknat. Udah nelfon tiba-tiba! Teriak-teriak lagi! Gak ucap salam. Laknat emang tuh anak," omel Nahal.

~•~

Nabila mencari seseorang di café yang menjadi tempat ia akan bertemu seseorang. Raut wajah Nabila tidak tampak bahagia, ataupun sedih. Ia hanya memasang wajah datar sambil mencari seseorang.

Seseorang mengangkat tangan mengarah Nabila, Nabila pun menuju ke asal tangan itu. Nabila menarik kursi dan duduk di atasnya. Di depannya sudah duduk Farhan dengan wajah yang tak kalah dinginnya.

"Mau ngomongin apa?" tanya Nabila dengan datar.

"Pesan dulu." Farhan menyodorkan menu ke hadapan Nabila. Namun, tatapannya terus menerus menatap Nabila. Tangan kanannya memopang dagu miliknya.

"Gue udah kenyang." Nabila menyodorkan kembali menu itu.

Hening membalut mereka sejenak. Mereka hanya bertukar tatapan untuk waktu yang lama. Aura terasa aneh. Keduanya mulai mundur dan berdandar di kursi.

"Gue mau-" secara bersamaan. Nabila dan Farhan bertatap tanpa alasan.

"Lo delu-" lagi. Kini mereka tertawa kecil sambil menghembuskan nafas. Menunggu siapa yang akan bicara terlebih dahulu.

"Ladies first," sahut Farhan. Nabila sedikit salah tingkah. Ia memajukan badannya pada meja. Meletakkan tangannya. Mengatur nafas. Menatap tajam ke arah Farhan yang terlihat dingin.

"Ok," ucap Nabila. "Gue mau kita sampai di sini aja." Farhan menelan salivanya setelah mendengar itu. Ia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Sama. Rautnya sama. Tenang. Dingin. Tanpa bisa di baca.





TBC
|
|
|
Jangan percaya hoax apapun ya guys tentang Covid-19. Stay safe.

Gak ada pengumuman! Sy ttp lanjut.

Voment! Kita saling mendukung!

So ya, si ya:>

CLASSIC [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang