Sesuai janji wartawan itu, artikel klarifikasi telah diterbitkan. Jihoon penasaran dengan reaksi para netizen, namun ia menutup kembali laptopnya. Ia tidak ingin mengurusi hal-hal seperti itu lagi.
Seperti nasihat PD Nam, ia kini sadar bahwa memercayai dan memusingkan omongan yang tidak jelas sumbernya adalah tindakan bodoh. Sama halnya dengan rasa mudah senang dan puas ketika mendapat pujian dari internet.
Syuting tetap dilanjutkan. Jihoon segera menemui anggota keluarga bayi ichthyosis itu. Kalau ia berhasil membujuk keluarga bayi itu, Daniel berkata bahwa ia akan membantu meminta izin agar bisa syuting di ruang ICU anak.
"Kami bukannya tidak menghormati anak bapak. Kami berharap ini dapat membantu anak bapak dan juga ibu hamil lainnya."
Melihat sinar mata Jihoon yang serius, ayah dari bayi itu akhirnya mengangguk-angguk.
"Saya akan coba bicara dulu dengan ibunya begitu kondisinya membaik. Sepertinya ibunya juga perlu menyiapkan mentalnya untuk hal ini setelah melahirkan bayi itu."
Jihoon segera mengucapkan terima kasih mendengar reaksi positif bapak itu.
Saat berjalan di koridor bagian spesialis kandungan, Jihoon bertemu dengan Kihyun yang sepertinya baru saja memeriksakan kandungannya.
"Hyung, bagaimana? Anaknya tumbuh baik-baik saja, kan?" Jihoon tidak bisa menatap mata Kihyun.
"Sepertinya Hyunwoo pandai sekali mengambil foto USG. Lihat ini." Kihyun mengeluarkan selembar foto USG dari tasnya dan tersenyum senang.
"Katanya posisi bayinya bagus, jadi hasil fotonya juga bagus dibandingkan hasil foto Dokter Kim waktu itu. Lihat, wajahnya saja kelihatan, kan?"
"Hyung ini, itu artinya bayinya memang sudah membesar, makanya kelihatan." Jihoon menggerutu sambil melirik foto itu dengan ujung matanya. Hah! Samar-samar ia seperti melihat foto Daniel junior dari foto USG itu. Bibirnya yang tertutup rapat itu benar-benar mirip.
"Cepat simpan lagi, nanti rusak, Iho." Jihoon buru-buru mendorong tangan Kihyun yang memegang foto itu.
"Iya, kan? Pasti ini anak laki-laki. Hyunwoo memang tidak memberitahuku, tapi kemarin ia memberikan hadiah sepatu bayi laki-laki untukku. Memangnya dokter boleh ya memberi hadiah sesuai jenis kelamin anaknya seperti itu? Hihihi."
Kihyun terlihat sangat bahagia. Kemudian ia batuk-batuk ringan.
"Hyung flu?" Jihoon bertanya dengan cemas.
"Sepertinya." Kihyun menyahut sekadarnya.
"Hati-hati, hyung harus jaga kesehatan. Orang hamil kan tidak boleh minum obat flu." Jihoon mendecakkan lidah.
"Hyunwoo juga tadi khawatir. Tapi katanya sih tidak terlalu berbahaya bagi bayinya."
"Maksudnya?"
"Dia bilang sih belum pasti, tapi sepertinya jantung bayi ini lemah. Bagaimana kalau ternyata betul-betul seperti itu?" Kihyun yang tadinya sangat senang mendadak murung.
"Bukankah banyak orang yang lahir dengan jantung lemah? Bisa saja kan tidak mengganggu kehidupan sehari-harinya. Atau malah membaik setelah dia besar nanti."
Rasanya ia sudah menjadi setengah dokter.
"lya. Hyunwoo juga kemarin berkata seperti itu. Katanya tidak usah terlalu khawatir dulu."
Benar juga perkataannya. Tetapi.....
"Hyung, sejak kapan hyung memanggil dokter itu dengan namanya saja?"
"Waktu itu, kita pernah makan malam berempat, kan. Katanya, tidak usah terlalu formal untuk memanggilnya, Santai saja. Toh kau juga kenal dengannya, katanya aneh kalau memanggil terlalu formal seperti itu. Jadi seperti ini, deh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cheeky Romance (NielWink)
RomancePemuda berparas manis yang tingkahnya tidak terduga, "si ibu hamil nasional" vs Pria yang selalu dianggap sempurna, "si dokter nasional" Original novel by Kim Eun Jeong www.penerbitharu.com
