Well, aku harap ini adalah pilihanku yang tepat. Bertemu dengan mario terlebih dahulu. Maafkan aku arnold.
"Jadi, bagaimana kabarmu?"tanya mario. Saat ini kami sedang berada di halaman belakangku. "I'm fine, thanks" "bagaimana denganmu?"tanyaku. "Aku? Sangat baik"jawabnya sambil tertawa.
Tawa yang aku rindukan selama bertahun-tahun. Oh god.. aku merindukan tawanya. Sudah lama aku tidak melihatnya dan tertawa bersamanya. Dan sekarang, aku bisa bersamanya lagi. Sebagai sahabat tentunya. "Apa? Kenapa kau melihatku seperti itu? Apakah ada yang salah?"tanyanya sembari menyentuh wajahnya memastikan semua baik-baik saja. Typical Mario. "Hahahaha, kau masih sama seperti dulu. Wajahmu masih normal kok. Tenang saja."kataku sambil tertawa, "lalu, mengapa kau tersenyum sendiri tadi?"
"Aku hanya merindukan tawa mu. Ternyata masih sama. Haha, sudah lama kita tidak tertawa bersama."kataku yang langsung membuat mario terdiam. "Ada apa?"tanyaku memastikan. "I'm sorry ,lex."jawabnya, kenapa dia minta maaf? Memangnya dia salah apa? "Kenapa?"tanyaku lagi. "Dulu aku pergi meninggalkanmu sendirian. Maafkan aku."dia menatapku dengan wajah menyesal. "Haha, sudahlah. Lagipula, aku mengerti kok. Tidak usah merasa bersalah begitu. Dan kita sekarang sudah bertemu lagi ,kan? Jadi, jangan khawatir."ucapku membuatnya tenang. Dan ternyata berhasil. Dia kembali tersenyum seperti semula. Akhirnya.
"Btw, kau sudah memiliki kekasih?"tanyanya "why?" "Tidak, hanya bertanya." "Yeah. Sebenarnya tidak."jawabku dan itu membuat pria yang memiliki mata berwarna biru laut ini terkejut. "You what?!" "Aku bilang, aku tidak memiliki kekasih."kataku sembari memutarkan bola mataku. "Aku tahu. Tapi, aku tidak menyangka kau tidak memiliki kekasih. Hahaha"ledeknya dengan menjulurkan lidahnya.
"Ish, kau ini! Memangnya kenapa kalau aku tidak memiliki kekasih? Kau sendiri, memangnya punya?"balasku sembari memukul bahunya pelan. "Hahahaha, tidak."jawabnya sambil tertawa. "Sama saja bodoh! Hahahaha"kami tertawa sampai perut sakitpun, kami masih tertawa karena sama saja.
" tunggu, jam berapa sekarang?"tanyaku berhenti tertawa karena teringat sesuatu. "Jam 11 siang. Kenapa?"jawabnya yang juga menghentikan tawanya. "Aku mau mengunjungi teman. Kau mau ikut?"tawarku "tidak. Aku lelah. Mum bilang aku boleh tinggal disini, jadi, aku akan tidur diatas."jawabnya. Mario memang memanggil orangtuaku dengan sebutan 'mum' dan 'dad'. Dan itu tidak masalah bagi mereka. "Okay. Aku akan pergi dulu. Kalau mum atau dad sudah pulang, katakan kalau aku pergi ke rumah arnold."kataku yang langsung berjalan ke arah garasi dan pergi mengendarai mobilku.
-
Aku sudah berada di depan pintu rumah arnold sembari memegang sebuah surat yang akan aku berikan pada arnold nanti. Oke, ini saatnya. Akupun menekan bel rumah dan menunggu penghuni rumah ini membukakan pintu.
Cklek
Akhirnya pintunya terbuka dan menunjukkan sosok wanita cantik yang tersenyum kepadaku. "Hai mum!"sapaku. Aku memang memanggilnya mum. "oh, hai alexa. Sudah lama tidak berkunjung."ucapnya. "Hehe, maafkan aku. Ohya, apakah arnold ada?" "Tentu saja. Ayo masuk, dia ada di atas."katanya, akupun mengangguk dan pergi menuju kamar arnold. Tanpa mengetuk pintu, aku langsung membuka pintunya. Dan apa yang kulihat? Yang kulihat adalah disana ada Arnold dan Grace. Kurasa, mereka menyadari kehadiranku. Karena saat ini mereka sedang menatapku dengan tatapan heran. "Oh, ehm, h-hai kalian. Apakah aku mengganggu?"sapaku yang kurasa terdengar aneh mungkin? I dont know. Ada perasaan aneh saat mereka bersama. Tapi perasaan apa?
"Hai Alexa! Kau tidak mengganggu kami kok. Tenang saja."ucap Grace sambil tersenyum. Dan, arnold hanya diam melihatku. "O-oh oke. Kalian ada hubungan apa? Kok aku jarang melihat kalian bersama seperti ini?"tanyaku sambil menatap arnold dengan tatapan kesal karena tidak memberitahuku sesuatu. "Kami adalah sepasang kekasih!"jawab Grace dengan ceria dan langsung memeluk lengan arnold.
Krek.
Suara apa itu tadi? Aku tidak tau suara apa yang tadi itu. Yang jelas, kenapa rasanya sakit sekali?
"Ohya? Sejak kapan?"tanyaku bersikap sok tenang, padahal rasanya ingin menangis.
Apakah tadi bilang menangis? Haha, tidak mungkin. "Tadi pagi. Pukul 8 di cafe."jelas Grace. "Oh, benarkah itu arnold? Kenapa tidak memberitahu kami? Kenapa tidak bilang padaku? Bukankah kita sahabat?"tanyaku pada arnold dengan menyilangkan tanganku di depan dada. "A-aku.."kurasa dia kehabisan kata-kata. "Haha, yasudahlah. Mungkin kau menganggap kami ataupun aku berbeda mungkin? Haha, Oke, ehm, Grace aku pergi dulu ya. Ada urusan, bye"pamitku dan langsung pergi dari tempatku berdiri tadi. Saat aku turun, aku berpapasan dengan mum Sarah.
"Loh alexa? mau kemana? Sudah bertemu dengan arnold?"tanyanya "ehm, sudah mum. Hanya sebentar saja. Ohya mum, alexa minta tolong boleh?"kataku "Sure."
"Tolong berikan ini pada arnold ya mum. Berikan padanya saat dia sedang sendiri. Takutnya, ada yang membaca selain dia. Bolehkah?"jelasku pada mum sembari merogoh saku jaketku dan mendapatkan sebuah surat yang aku tulis tadi. "Okay."jawabnya dan menerima surat yang aku berikan. "Tapi a-"
"mum Sarah, aku pulang dulu ya. Mum sudah menungguku dirumah. Thanks mum"aku terpaksa memotong kalimat mum karena tidak ingin berlama-lama disini.
Akupun masuk kedalam mobil dan mulai menancapkan gas. Tujuanku saat ini, aku tidak tau.
---
Vomment nya boleh dongg? :) hehe
Makasih makasih makasih :D

KAMU SEDANG MEMBACA
Find Love at London City [On Editing]
Teen Fictionsedih, senang, bahagia, marah, kecewa, adalah salah satu perasaan yang Alexa lalui . Namun, apapun yang terjadi, Alexa harus tetap kuat dan bertahan. demi seseorang yang ia cintai. ikuti terus kisah Alexa di cerita ini. [FINISHED] ©Hak Cipta dilindu...