"Minumlah teh ini dulu ,lex. Lalu ceritakan padaku apa yang terjadi."ucap dalene padaku dengan nada khawatir. "Thanks ,dal."
Saat ini aku berada di rumah dalene, tadinya aku memang ingin pulang. Hanya saja, aku takut mum khawatir. Akhirnya ya disinilah aku.
"Tapi berjanjilah padaku. Jangan beritahu siapapun tentang ini. Please.."kataku memohon. Diapun mengangguk tanda setuju. Akupun menceritakan semuanya kepada delene. Dari awal pertemuanku dengan mario, sampai pertemuan kurang mengenakan dengan arnold(?)
"What the.. apa kau yakin itu arnold? Kurasa itu bukan arnold"tanyanya memastikan. "Aku tidak buta ,dal. Dia adalah Arnold."jawabku."But, why? Kenapa harus Grace? Kenapa tidak kau saja?"komentarnya yang membuat aku tersedak akibat ucapannya barusan. "Haha. Funny."ucapku dengan nada sarkas. Tetapi dia hanya tersenyum bodoh.
"By the way. Apa hubunganmu dengan mario? Teman? Sahabat? Atau apa?"tanyanya "well, actually, he is my best friend. Kami berteman dari kecil."jelasku.
"Apakah dia tampan? Dimana dia kuliah? Bagaimana kalian bisa dekat? Apakah kau de-" "bisakah kau diam? Atau kau mau aku laporkan brian?"ujarku kesal. "Hehe, i'm sorry ,lex"katanya. "Yeah, whatever." Kataku sembari memutar kedua bola mataku.
"By the way ,lex. Kenapa kau begitu kaget saat melihat arnold sedang bersama Grace?"tanyanya curiga. "Aku -ehm, a-aku tidak tahu apa sebabnya."jawabku sembari berpura-pura melihat keatas yang kuanggap 'menarik'
"Hmm, kurasa kau berbohong."ucapnya sambil melihat kearah wajahku dengan teliti. "Untuk apa aku berbohong?"tanyaku "entahlah."jawabnya.
"Lex!"tiba-tiba dalene berteriak tepat ditelingaku. "Shit! Bisakah kau tidak berteriak di telingaku?!" Kesalku. "Ohoho, Language girl."katanya mengingatkan. "Okay, up to you. Kenapa tadi kau berteriak?"tanyaku. "Ohya, aku ingin bertanya padamu, dan kau harus menjawabnya dengan jujur. Setuju?"tanyanya sembari mengulurkan tangannya, "kenapa?" "Sudah, jawab saja. Ya atau tidak?"desaknya. "Okay, aku setuju."jawabku. "Good"
Dalene pov
"Okay. Pertanyaan nomor satu, apa kesanmu saat melihat arnold saat pertama kali sewaktu ditaman?"tanyaku, kulihat dia sedang berpikir. Dia bingung. "Kesanku? aku juga tidak terlalu ingat. Seingatku, dulu aku sempat berpikir dia adalah pemain gitar. Nyatanya, hanya hobi. Dia cuek, tapi aku yakin, sebenarnya dia baik"jawabnya.
"Pertanyaan nomor dua, apakah kau ingat kapan ulangtahun arnold?" "Yup! Tentu saja aku ingat. 10 September dia berulangtahun."jawabnya langsung.
"Pertanyaan nomor tiga, apa yang kau rasakan saat sedang dekat dengan arnold?"tanyaku "Rasanya berbeda. Aku seperti sedang berada di dimensi lain. Entahlah."jawabnya sembari mengusap leher belakangnya.
"Okay. Pertanyaan terakhir, apa yang kau rasakan saat tahu bahwa Arnold sekarang sudah bersama Grace?"kurasa pertanyaanku kali ini membuatnya skatmat. Karena saat ini ia hanya diam.
"Lex? Are you okay?" Kataku sembari menggerakkan tanganku naik-turun tepat di depan wajahnya. "Y-ya? Apa tadi katamu?" Oh god.. "oh come on, aku yakin kau mendengar apa yang aku katakan tadi ,lex. "Ucapku. "Hmm, apa yang kurasakan? I dont know. Bagaimana ya? Sepertinya rasanya aneh. Seperti ingin menangis, dan aku juga merasa seperti ingin lari sejauh mungkin. Entahlah, aku tidak mengerti apa maksudnya."jawabnya dengan tatapan kosong.
Astaga, kurasa ini sudah jelas, dia... "lex, kurasa ini semua sudah jelas. Apakah kau tidak sadar? Kau mencintai arnold. Kau bilang padaku. Bahwa saat kau di dekatnya kau merasa berada di dimensi lain. Bahkan aku yakin, kalau kau juga merasa bahagia saat berada didekatnya. Dan sekarang, dia bersama grace. Kau patah hati ,lex."jelasku.
"Haha, really impossible if i broken heart ,dal."komentarnya dengan tertawa lemah. "Oh god, please dont cry. Aku tidak ingin melihatmu menangis tahu!"ucapku berniat menghibur. "Haha..."katanya, butiran-butiran air dari matanya jatuh satu per satu. "Okelah, kalau menangis membuatmu bisa lega. Menangislah. Jangan dipendam. Yang kau butuhkan hanyalah sebuah pelukan. Kemarilah."ucapku. Diapun langsung memelukku dan menangis.
"Kenapa ini begitu menyakitkan ,dal?Apa salahku ,dal? Apa aku salah karena jatuh cinta kepada sahabatku?"ucap Alexa di sela-sela tangisnya. "Tidak ,lex. Kau tidak salah. Siapapun pasti akan merasakan jatuh cinta. Termasuk kau."hiburku.
"Apa yang harus aku lakukan ,dal? Aku bingung.."ucapnya sembari melepaskan pelukan dan menghapus air mata nya. "Kau tidak perlu melakukan apapun. Ikuti saja kata hatimu. Jangan menyerah, dan terus semangat. Karena, semakin kau berusaha untuk menyerah, kau akan semakin sakit nantinya. Cobalah untuk mengikuti jalan ceritanya, dan tanpa kau sadari, perasaanmu itu telah hilang. Percayalah."kataku bijak. "Wow dal. Kau bisa bijak juga. Haha, thanks sarannya ,dal!"katanya dengan ceria.
Akhirnya, aku bisa membuat sahabatku yang satu ini tertawa lagi. "Hehe, siapa sih dalene kalau tidak bijak?"ucapku sambil mengibaskan rambut. "Yeah, whatever you say."katanya sambil memutarkan kedua bola matanya. Kamipun bercanda, tertawa bersama. Seperti halnya adik-kakak. Hihi.
-
AHAHAHAHAHA.. GATAU NYAMBUNG GATAU ENGGA..
TAPI AKU SENENG BISA BIKIN INI ,BTW.. #capslock #jebol-_-
Vomment yaa.. Makasihhh ;):D
Quotes : 'Cobalah untuk mengikuti jalan ceritanya, dan tanpa kau sadari, perasaanmu itu telah hilang.' -B Dalene Edlyn
~Pinguin♡

KAMU SEDANG MEMBACA
Find Love at London City [On Editing]
Teen Fictionsedih, senang, bahagia, marah, kecewa, adalah salah satu perasaan yang Alexa lalui . Namun, apapun yang terjadi, Alexa harus tetap kuat dan bertahan. demi seseorang yang ia cintai. ikuti terus kisah Alexa di cerita ini. [FINISHED] ©Hak Cipta dilindu...