DANIEL

10 4 0
                                    

Daniel selesai dengan kegiatan lari paginya yang sudah menjadi gaya hidupnya. Rasa penasaran saat melihat rumah putih polos yang banyak kaktus itu, membuat Daniel melangkah untuk mengetuk. Dirinya saja tidak tahu kenapa dia melakukan ya, hidupnya tidak semanis dunia di novel. Saat pemilik rumah keluar dengan raut bingung memandang ke arah Daniel.

Sapaan yang khas diantara mereka dengan saling bertanya terlihat sangat tidak akur sampai kejadian gadis itu meringis memegangi perutnya.

Daniel sudah tidak mau penasaran lagi dengan gadis SMA itu, sungguh dari pertemuan pertama dirinya dengan Amora membuat hidupnya sedikit tidak seimbang. Bagaimana saat otaknya memaksa untuk fokus pada pekerjaan nya yang muncul di otaknya malah tingkah laku Amora yang seperti mempermainnkan nya.

Ini bukan kisah di novel-novel yang Mula benci menjadi rindu tapi kisah Daniel yang uring-uringan melihat Amora. Daniel tidak munafik untuk tidak mengakui kecantikan Amora, tapi Masa iya, dirinya yang dewasa jatuh cinta dengan anak kecil yang usianya terpaut sepuluh tahun dari dirinya.

Daniel menggeleng kan kepalnya yang sudah lelah bersandiwara didepan Amora, selalu terlihat kejam seperti bukan dirinya yang sering senyum.

"Kalau benar apa yang kurasa ini cinta maka apa yang harus kulakukan? Mengajaknya pacaran? Menjalin kasih begitu?" Ditengah monolognya Daniel, dirinya tidak sadar dilhat oleh Demo.

"Apa yang boss lakukan disini? Melamun pula lagi, seperti orang bego." Gumam Demo melihat bossnya yang selalu kejam padanya dan tegas tapi sekarang tengah terlihat kehilangan arahnya.

"Aku mendengar mu bocah sialan."

Suara desisan itu membuat Demo nyengir lalu menghampiri Daniel dengan hormat.

"Kalau kita mengakui wanita itu cantik apa itu sudah jatuh cinta?" Daniel bertanya ke Demo, membuat anak didiknya itu melebarkan matanya tidak menyangka seorang Daniel mantan pemain basket terkenal yang pensiun di usia mudanya.

"Jawablah bocah sialan." Daniel tidak sabaran untuk menunggu apa yang akan terucap dari bibir bocah sialan di sampingnya yang tengah di sebelahnya.

"Pasti kakak ipar Amora." Tebak Domo, lalu melihat ekspresi bosnya yang sedikit kaget dan langsung melihat nya.

"Bagaimana kau tahu? Sialan."

"Hei, semua orang di club saja sudah tahu kalau boss sudah jatuh cinta ke kakak ipar."

Daniel meringis, kembali melihat ke langit karena mereka sedang duduk di tengah lapangan basketball vribadi miliknya di belakang rumahnya.

"Memang bocah seperti mu pernah jatuh cinta?"

"Tentu saja tidak pernah." Jawab Demo, lari dengan cepat sebelum mendapat bogem mentah di bahunya.
.
.
.
.
.

Sudah satu pekan Daniel menikmati hari liburnya, rumah yang sepi lalu demo sebagai bundaknya. Menyiapkan makanan adalah tugas bocah malang itu.

"Boss Mari makan, tidak enak kalau dingin!"

Teriakan nyaring Demo membuat Daniel yang sedang melakukan panggilan video nya langsung menoleh.

Berhadapan di meja makan berduaan dengan Demo, Daniel merasa seperti mempunyai adik yang berguna.

"Apa kau bisa menghibur langsia?" Tanya Daniel setelah menyuap makanan enak didepannya.

"Gampang, seperti makan coklat dalam toples." Jawab Demo dengan girang karena memang bocah sialan itu memiliki jiwa anak muda.

"Bagus."

Percakapan singkat antara dua pria yang beda umur itu selesai saat gadis cantik lengkap dengan seragam sekolah, memasuki rumah Daniel dengan acuh.

"Kenapa kamu kesini lagi?" Daniel menatap sang adik dengan tetap memegang sendok di tangannya.

"Kakak ayolah, Janji kemarin tidak usah di ungkit lagi, apa kakak melihat dompetku?" Melangkahkan kakinya menuju meja makan dan betapa terkejutnya yang melihat begitu banyak makanan, namun sayang Deluna sudah makan dengan sahabatnya barusan.

"Mana Aku tahu, cobalah Cari di tempat lain-" Daniel menjeda kalimatnya ketika ingatannya di dalam mobil saat mengantar Deluna tadi pagi, "gadis licik itu." Geraman keluar dari bibir sexy milik Daniel.

Demo makan dengan tenang tidak terganggu dengan tingkah boss dan adiknya, itu seperti tontonan setiap hari di club saat Deluna berkunjung di hari libur.

Dilain sisi Amora tidur siang di kamarnya yang sudah dia bersihkan sehingga enak di pandang mata.

Daniel mengetuk pintu bercat coklat muda itu tapi tidak Ada sahutan sama sekali dari didalam, sampai dirinya tidak sadar sudah memegang handle pintu.

Ceklek..

"Tidak terkunci berarti pemiliknya sedang di dalam." Gumam Daniel. Melangkahkan kaki besarnya untuk mencari orang yang telah mengambil dompet adiknya. "Rubah berekor sembilan iti tidak tahu malu." Lanjut Daniel.

Daniel melihat pintu yang memiliki setiker seukuran kepalnya berbentuk kelinci hitam manis sedikit terbuka, tanpa aba-aba Daniel memasuki kamar tanpa seijin sang pemilik.

Niat awal ingin mencaci dan mengambil barang yang menjadi tujuannya mendarat di rumah Amora, namun Daniel tertegun ketika melihat gadis licik itu tertidur dengan rambut basah berantakan lalu kaos oblong putih besar hanya sebatas pahanya, sedikit transparan, dilengkap dengan pose kedingingan.

"Arghhh." Erang Daniel setelah sadar dari keterbekuannya saat memandangi tubuh Amora dari ujung kaki sampai ujung kepala. Walupun Daniel membenci Amora tapi dia juga seorang pria yang memiliki nafsu biologis.

Amora terbangun dari tidurnya, mengusap wajahnya yang tanpa make-up Karena dirinya terlalu lelah untuk memakai Hal seperti itu setelah berjalan cukup jauh untuk mencari makan. Sehabis makan dengan Deluna yang tidak pernah dia undang, Amora pulang dan langsung mandi karena dirinya tidak mandi pagi tadi.

Duduk di atas kasur lalu mengikat rambutnya asal-asalan membuat bahu mulusnya terlihat karena sebelah kerah bajunya turun. Berbalik badan dengan tenang sampai matanya menangkap sosok orang yang selalu membuat Amora terlihat sebagai sosok jahat.

Kalian berharap Amora akan menutupi tubuhnya karena dipandang seperti itu atau dag dig dug. Oh ayolah Amora tidak hidup di negri dongeng, tidak juga ingin terlihat polos didepan pria jangkung di depan pintu kamarmya.

Berjalan dengan pelan disertai keanggunanya membuat Daniel sedikit was-was karena dirinya sekarang sedang tegang, bukan otaknya melainkan sesuatu dibawah sana.

Daniel lupa kalau kamar yang sedang dia masuki ini punyai pemilik seorang gadis, dan untuk pertama kalinya Daniel melihat tampilan Amora yang selalu perfect setiap saat tapi sekarang terlihat lebih cantik dan natural.

"Apa yang kamu lakukan disini Daniel?" Tanya Amora kasar tapi tidak bisa dipungkiri suara bangun tidurnya cukup terdengar sexy di telinga pria dewasa di depannya.

"Ayo kita pacaran?"

Cup...

______________________

HOHOHO ffffff

APA YANG TERJADI DENGAN MEREKA BERDUA DI DALAM KAMAR BERDUAAN  SEPERTI ITU!!!!

TOLONG ANAK-ANAK JANGAN BERTINGKAH NAKAL.

SEE YOU♥️✅

SELICIK IBLISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang