{ BELUM DITERBITKAN, APALAGI DI FILIMKAN!!}
Daniel bukanlah sosok yang kejam ataupun sangar apalagi cool melainkan sosok yang suka menebar senyum entah dimanapun sampai di anggap orang-orang kalau sosoknya sangat humoris. Hangat? Tentu saja, siapa y...
Daniel harus pergi ke sekolah untuk melihat keadaan adik semata wayangnya yang tidak bisa di atur jadi disinilah dia sekarang sekaligus bertemu teman lama.
Di depan gerbang tinggi menjulang dengan kerapatan yang mustahil untuk dilalui ditambah murid SMA yang mlentangkan tangan tanda stop untuk Daniel.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Bayangin lagi rentangin tangan ya guys*)
"Apa gadis itu bodoh? Mau mati kah?" Gumam Daniel di dalam mobil dengan tangan menekan tombol yang menyebabkan bunyi yang sering di dengar saat macet.
Lagi Daniel mencoba membunyikan suara klakson mobilnya namun na'as Tak ada pergerakan untuk orang di depannya. Terpaksalah Daniel turun menapakan sepatu mahalnya di tanah.
"Malaikat maut akan datang jika kamu terus seperti itu!" Ujar Daniel jengah dengan gadis di depannya yang keras kepala melebihi adiknya.
Sedikit percecokan di antara mereka berdua Daniel Memutuskan masuk ke dalam mobilnya tidak tahan ingin tersenyum melihat ekspresi gadis itu saat dia menolak untuk membantunya, apalagi dirinya sudah memasuki gerbang sekolah saat sudah memberi tahu Pak sakpam.
Daniel ingin menemui adiknya namun keberuntungan tidak berpihak padanya karena sekarang jam belajar untuk para murid jadi Daniel memutuskan untuk mengelilingi sekolah tempat dirinya lulus dulu. Sampai dia melihat rambut blonde berkilauan di bawah sinar matahari yang mulai terik. Kebetulan atau takdir orang yang dia kagumi itu gadis yang menghalangi nya didepan barusan.
"Lagi ngapain murid baik-baik disini?" Tanya Daniel melihat murid yang berdiri menghadap bendera sendirian itu. Gadis itu menoleh menampakan raut Tak bersahabat.
Tidak mendapat jawaban Daniel memutuskan lebih dekat dengan murid SMA itu.
"Sayakan nanyak kok gak dijawab sih murid baik?" Tanya Daniel lagi tapi dengan nada yang lebih hangat. Sungguh Daniel tersenyum melihat ekspresi tajam dari gadis bermata hijau tosca terpatri sinar matahari.
"O-oh bapak ini sangat baik ya sampai rela memuji saya."
Baru saja Daniel ingin menjawab namun suara di belakang menghentikannya.
"Niel!"
Berbaliklah Daniel dan menyunggingkan senyum lebar sampai memperlihatkan Gigi rapi putihnya.
"Asataga Daniel kamu ngunjungin temanmu yang tampan ini?" Suara sahabat Daniel yang kegirangan melihatnya.
"Ya elah Ron kek lihat istri ngejenguk lu aja." Jawab Daniel menyindir sahabatnya yang heboh mendekati dirinya namun tetap dengan nada hangat.
Berpelukan ala laki-laki biasa dan tidak melupakan tos di antara mereka berdua.
"Amora kamu boleh masuk sekarang tapi ingat jangan diulangi lagi."
"Iya pak." Jawab Amora tidak bertenaga Karena moodnya benar-benar hancur melihat orang di depannya yang bernama Daniel.
"Apa itu temannya pak Borno sampai gembira tuh guru kiler." Gumam Amora yang sudah mendaratkan kakinya di dalam kelas. Duduk dengan santai memijat kakinya yang cukup pegal berdiri sejaman.
Melihat teman sebangkunya sibuk dengan benda pipih canggih di tangannya.
"Sampai lupa sapa sahabatnya nih ye!?" Ujar Amora sebal melihat temannya tidak terusik sama sekali dengan suaranya.
"Makanya jangan telat." Jawab teman sebangkunya menceramahinya dengan mats tetap terfokus ke layar pipih itu.
"Kek gak kenal siapa aku aja."
"Kamu tuh udah tahu Pak Borno kiler malah telat kan kamu yang rugi sendiri." Jawab teman sebangkunya dengan mempertahankan gayanya yang fokus ke benda mati di tangannya.
"Ishh, Luna! Kamu sibuk apa sih sampai gak merhatin sahabat kamu yang cantik ini sedang kecapean." Rengek Amora manja.
"Jijik."
Deluna yang selalu dipanggil Luna oleh Amora itu menaruh iPhone nya kesaku bajunya.
"Si kingkong ke sini Ra." Ujar Deluna psimis.
"Kakakmu?"
"Hem, siapa lagi emangnya." Jawab Deluna malas bertemu dengan kakaknya yang irit bicara itu namun dengan tindakan nyata.
"Tau gak sih Lun?-"
"Ya gak taulah orang kamu aja gak kasih tahu." Sambar Deluna seperti biasa.
"Iya juga ya." Jawab Amora dengan senyum bodohnya.
Suara bel keluar main berbunyi memecahkan obrolan zonk antara Amora dan Deluna.
"Pas jam kosong berasa kek cepat banget deh keluarnya." Rungut Amora.
"Bukannya orang bodoh ke kamu selalu nunggu yang beginian?" Tanya Deluna dengan senyum jahilnya.
"Iya tapikan-"
"Udah ah kekantin yuk, kata si kingkong mau ketemu disana." Potong Deluna.
Sesampainya di kantin mereka berdua memesan makanan sarapan biasa masing-masing.
"Emang kakakmu segalak itu sampai kamu aja sepatuh kek kerbau di cucuk hidungnya?"
"Parah pake banget."
Amora hanya ber oh ria menanggapinya.
Makanan mereka berdua sudah habis namun yang di tunggu belum juga muncul ke permukaan.
"Bedebah si kingkong gak jadi kesini, katanya Ada urusan mendadak." Umpat Deluna kesal akan kakanya yang super sibuk itu, mengembalikan benda itu di saku seragamnya.