Semua berjalan begitu cepat tanpa disadari. Sehun tidak pernah menghitung seberapa bahagianya dia. Terlalu meruah.
Ini sudah 3 tahun, tapi kejadian tentang bagaimana dramatisnya ia mengantar Yeri ke sekolah untuk pertama kalinya masihlah terbayang, masihlah segar diingatan.
Niatnya malam ini meluangkan waktu untuk mengobrol dengan Yeri, mengajak anaknya bermain. Sedang Clarissa yang sempat merengek cemburu lalu bungkam saat dikatakan bahwa dia tidak boleh manja lagi.
Sehun tahu itu salah, tapi, terus mengabaikan Yeri akan menjadi lebih salah.
"Yeri?" Kamar Sang putri pintunya diketuk pelan.
Perlahan terbuka dan menampilkan kepala kecil Sang Anak yang mengintip malu.
"Iya?"
"Papah boleh masuk?" Mata sipit itu dapat Sehun tangkap sempat memberi respon terkejut yang langsung dikuasai.
"Iya, Pah."
Dan mereka duduk, di karpet bawah tempat tidur Yeri dengan selonjor.
"Papah ingin apa?" Tanyanya. Masih asik memeluk boneka beruang coklat kecil di pangkuannya.
"Ingin main dengan Yeri, boleh?" Mata kecil itu mengerjab.
Tangannya memilih ujung pakaian yang ia kenakan dan ragu menjawab.
"Tidak sibukkah?"
Harusnya Yeri seperti anak lainnya yang akan antusias saat diajak Ayahnya bermain, bukan malah melontarkan pertanyaan selayaknya orang dewasa.
"Yeri tidak suka Papah di sini?" Sehun tersenyum.
Yeri segera menggeleng ribut dan bola matanya terlihat panik.
"Suka," Balasnya pelan.
"Kenapa tanya seperti itu?"
"Biasanya Papah sibuk."
"Sekarang tidak."
"Karena Kakak sudah tidur?"
Sehun diam, Yeri mungkin tidak bermaksud lain.
Tapi...
Pertanyaan itu seolah mengatakan bahwa Sehun akan mendekatinya kalau Sang Prioritas sedang tidak membutuhkannya.
Bergulir panik lagi matanya saat Sang Ayah tidak memberi respon dan menatap bonekanya dengan menunduk.
"Papah ingin main dengan Yeri, Yeri suka tidak?" Sehun membawa tangannya mengelus pucuk kepala anak itu sayang.
"Suka sekali." Yeri tersenyum, menularkan lengkingan kurva yang dari tadi masih Sehun pertahankan.
"Kenapa bonekanya tidak pernah ganti?" Yeri menunduk.
Menatap bonekanya dengan bibir yang mulai terbuka.
"Suka."
"Yeri punya banyak yang seperti ini."
"Iya."
"Kenapa ingin ini?"
"Karena ini, dari Mbak. Yeri suka."
Sehun, kau kalah lagi.
"Yeri, kalau Papah pergi Yeri sedih tidak?" Yeri segera membawa wajahnya untuk menatap Sang Ayah. Matanya kian panik dengan gelagat gelisah.
"Papah mau pergi?" Dan bertanya sedih.
Sehun menjadi lega entah untuk perasaan yang mana.
"Tidak, hanya tanya"
"Yeri pasti akan sedih." Tangan kecilnya memilih telinga boneka tadi dan duduknya kian tidak nyaman.
"Kalau mbak yang pergi?" Mata kecil itu kian panik dan meningkat gelisahnya. Bahasa tubuhnya terlihat bertambah panik.
Senyum Sehun memudar.
Dan dia neraca pecundang untuk itu.
"Mbak mau pergikah? Mbak mau ke mana?" Pertanyaan sederhana harusnya Sehun tidaklah menjadi merasa semarah ini.
"Hanya bertanya." Mata Yeri bergulir panik, tangan kecilnya menggenggam pergelangan Sehun lalu menggeleng ribut dengan ruang panik yang seolah menyekapnya.
"Papah, Mbak tidak boleh pergi..." Dan memohon.
Sehun membawa telapak tangannya, menyentuh lembut pundak anaknya itu dan mengelus titik itu pelan.
"Kenapa?"
"Nanti Yeri jadi sendiri" Dan wajahnya kian pias.
"Ada Papah dan Mamah." Kata Sehun.
"Yeri tidak suka Mamah dan Papah kah?" Yeri kian panik.
"Yeri suka sekali!"
"Tapi Papah dan Mamah lebih suka Kakak." Tangannya mengendur dan kembali duduk lemah.
"Tidak sayang, tidak." Sehun yang telah berganti panik.
"Papah tidak apa berkerja..."
"Mamah tidak apa tidak bermain dengan Yeri."
"Tapi, akan lebih baik kalau kalian ada di sini."
Bocah 10 tahun itu, omongannya jadi sangat tajam.
"Yeri tidak apa. Asal Mbak tidak ikut marah pada Yeri."
"Papah dan Mamah tidak marah..."
"Kalau begitu, Yeri ingin selalu dibacakan buku dongeng setiap malam oleh Papah" Sehun mengangguk cepat.
"Ingin selalu dinyanyikan oleh Mamah." Lagi Sehun mengangguk.
"P-pah" Suara anak itu tersendat.
"Yeri ingin jadi Kakak, ingiiin sekali." Yang terakhir Sehun ingat ketika anak itu kian lama kian mendingin, bersikap abai dan jadi pendiam.
Ia dan Istrinya berusaha mendekati, tapi nyatanya nama mereka sudah mati dalam hati Yeri.
Dan Sehun menjadi menyesal untuk titik itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAMA
Historia CortaTentang Sehun yang mendeskripsikan Ibunya. Atau Baekhyun yang mendeskripsikan anaknya. Chanyeol yang mendeskripsikan Baekhyun ataupun sebaliknya. Sehun yang menceritakan Ayahnya, atau Chanyeol yang mendeskripsikan keduanya.
