Aku tidak peduli apa yang orang katakan tentang anak kami.
Sampai sejauh ini aku tetap bertahan.
Dia Sehun, putraku, selamanya akan tetap begitu bukan?
Tidak peduli bagaimana cacian terasa menyakitkan, bagaimana dunia yang seolah akan membuat pertahanku dan dirinya runtuh.
Tidak peduli bagaimana matinya aku saat cacian itu ternyata tidak hanya melukaiku, tapi juga anakku.
Sehun, putraku.
Sampai nanti, sampai mati.
Aku seolah tuli jika banyak asumsin yang mengatakan Sehun bukan putraku maupun Chanyeol, semua seolah menentang.
Memintaku melakukan Test-test konyol karena Sehun tampak kurang berkembang.
Tidak pantas bersaing dengan keluarga Park sang raja bisnis.
Aku marah, sebagai seorang Ibu, melihat bagaimana rendahnya pandangan orang saat menatap anakku.
Sekali lagi, dia anakku.
Tidak peduli ia mengucapkan kata pertamanya pada usia 4 tahun, seolah tuli saat ia baru bisa berjalan saat umur 5 tahun.
Dia anakku, demi Tuhan.
Aku yang mengajarinya berjalan, dengan hati-hati mengajarinya memanggil "Mama"
Anakku, sampai kita semua mati. Sehunnie anak Mama'kan?
Biasanya aku akan meraung keras dalam pelukan Chanyeol saat asumsi masyarakat terasa membakar habis kesabaranku.
Dan menggila saat tahu mereka tidak hanya menyakitiku dan Chanyeol, tapi Sehun juga.
Sehun tidak idiot.
Ia hanya...
Istimewa.
Puncaknya adalah ketika Chanyeol memintaku melakukan test DNA.
Itu berarti,
Dia meragukan Anakku.
Meragukan Sehun.
Sehunku.
Sehunnieku.
Berarti,
Dia meragukan aku.
Aku dan anakku.
Saat itu aku menangis dan tertawa sumbang dengan lama, bagaimana bisa aku menikahi pria seegois itu?
Pertanyaannya seolah memintaku memilih, dia atau putraku.
Jelas, tanpa berfikir dua kali pun aku akan tetap memilih Sehun.
Pria itu, tidak masuk dalam pilihan.
"Sayang," Lagipula, Sehun bukan pilihan.
"Sehun-" Aku terbata, mengelus helai rambut Sehun yang terasa halus.
Sehun mutlak.
Kepalanya berbaring di pangkuanku.
Meringkuk seolah tengah ketakutan.
"Sehunnie," Aku terisak.
"Sehunnienya Mama hiks.." Lagi.
"Anaknya Ma-hiks Mama..." Aku merasakan gejolak itu.
Dari dulu, aku yang akan menangis saat Sehun tergores kecil, menyalahkan diriku atas segala luka ringan yang ia terima.
Sehun, kalau ada pilihan mati bersamamu atau hidup dengan Chanyeol.
Aku tidak akan berfikir dua kali.
Sehun bisa saja memilih keluarga lain untuk mengadopsinya.
Tapi, yang jadi masalah di sini adalah aku.
Aku yang akan mati jika tidak bersama Sehun.
"Sehunnie, sayangnya Mama, anaknya Mama hiks.."
Aku terbata, kehilangan kata-kata.
Dan meraung keras saat Sehun dengan gerakan cepat memelukku erat, berusaha menyingkirkan gundahnya dengan memanggil namaku dalam pilu yang terasa dalam.
Aku tergugu, merasakan perasaan tidak adilnya.
Kalau Park tidak menerimanya, Byung akan menyambutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAMA
Historia CortaTentang Sehun yang mendeskripsikan Ibunya. Atau Baekhyun yang mendeskripsikan anaknya. Chanyeol yang mendeskripsikan Baekhyun ataupun sebaliknya. Sehun yang menceritakan Ayahnya, atau Chanyeol yang mendeskripsikan keduanya.
